Oleh: Kyan | 30/04/2005

Mahasiswa Progresif dan Sandal Jepit

Sabtu, 30 April 2005

Mahasiswa Progresif dan Sandal Jepit

**

Kuliah hari ini semuanya gak ada dosennya. Kecuali Komputer Bisnis yang itupun cuma sebentar waktunya. Katanya sang dosen sudah ditunggu dan sudah mau masuk mata kuliah selanjutnya: Akuntansi Syariah. Rupanya dosen Akuntansi Syariah, Pak Leo Khadafi pun tidak masuk. Akhirnya kuliah hari ini gak optimal.

Kalau tahu begitu sejak awal, lebih baik aku memilih diam di kosan, membaca buku atau mengerjakan tugas, atau diskusi atau membahas buku dengan teman-teman. Nanti harus dijadwal, harus dibuat kelompok kajian untuk saling belajar mencurah gagasang/brain storming.

Aku sering buntu ketika mencari-cari cara memulai menyusun makalah. Pembahasan tentang satu persoalan sering dibuat bingung harus memulai dari mana. Bagaimana mengolah kata dengan baik sehingga paragraf demi paragraf merupakan satu kesatuan gagasan pokok pembahasan.

Ingin aku beli kursi buat meja komputerku. Supaya terasa enjoy ketika mengerjakan tugas. Tapi kupikir-pikir itu keinginan, bukan kebutuhan. Ingin punya speaker komputer, pun itu keinginan, bukan kebutuhan. Itu bisa diganti dengan suara-suara yang ada. Nanti kalau ada sesuatu yang dibeli, bertanya dahulu apakah hal itu kebutuhan atau keinginan.

Kebutuhan sekarang adalah shampoo dan obat. Sesuatu buat pemeliharaan jasmani (sabun, sampo, obat vitamin, pencuci muka) dan rohani (ibadah, baca buku, ekonomi syariah). Keinginanku adalah bisa membeli sepatu dan hardisk. Aku harus bekerja dulu kalau ingin dapat uang lumayan.

Malam Sabtu aku gak tidur. Inginnya aku jarang tidur kalau itu bagus buat kesehatan. Malam kemarin aku tidur jam duabelas lebih. Terus mengutak-atik logo MKS yang memakan waktu sampai lupa makan. Menghabiskan waktu tiga jam bagaimana bisa jadi logo MKS.

Makan jam duabelas malam. Itupun kalau gak segera dimakan, nanti basi. Masa nasi dibuang sudah mahal-mahal beli. Terpaksa dihangatkan dulu supaya sedikit enak dimakan. Aku merasa aktivitasku sehari-hari gak optimal. Malam kemarin terus mengorbankan waktu belajar demi membuat logo MKS.

Kuperoleh uang Rp. 6.000,- dari penghasilan hari Sabtu. Nanti kubuat tabel penghasilan dan pengeluaran supaya arus kasnya teratur. Supaya ada koreksi dari temen-teman apakah aku ini boros atau tidak. Mana yang harus dikurangi dan mana yang harus ditambah.

Besok hari waktunya khusus untuk mencuci. Lalu aku mau pergi ke Ahad-Net membeli shampo dan ke warnet. Selanjutnya menyelesaikan tugas kuliah menerjemahkan buku Marketing. Pokoknya setiap hari aku harus menyempatkan menulis dan membaca. Khususnya membaca tafsir Fi Zhilal minimal lima lembar per hari.

 

**

Saat kuliah kemarin ada anak kelas MKS-A yang dikeluarkan oleh dosen saat belajar di kelas. Makanya ketika sedang di kelas jangan main-main. Jangan bercanda berlebihan sehingga mengundang kemarahan dosen.

Sehabis Jum’atan kukira kuliah kewirausahaan. Ternyata kuliah Marketing yang dosennya ketua jurusan. Aku pakai sandal pergi kuliah. Ketika mau pulang aku dipanggil pak Anton, sang ketua jurusan. Dian bilang ada masalah tentang karya tulis ilmiah perlombaan antar jurusan. Aku mesti belajar ke Veri. Karena lulusan Mualimin pasti pernah menyusun tugas akhir sekolah. Aku ditunggu besok hadir di aula untuk ikut lomba karya tulis. Karena khawatir aku tak sempat, dan tak bisa hanya semalam menyusun makalahnya aku tak jadi mengikutinya. Lagian aku bingung bagaimana cara memulainya.

Aku dipanggil kukira soal gara-gara aku kuliah pakai sandal. Ternyata perkiraanku melenceng. Hanya membicarakan soal mahasiswa berprestasi. Katanya aku diplih bersama Dudi dan Pipih. Menjadi mahasiswa berprestasi banyak tuntutan. Rambutku yang panjang harus dipotong. Kalau ke kampus harus selalu pakai sepatu. Ternyata ketahuan juga sekarang bahwa aku pakai sandal.

Kalau puya sepatu sport, aku akan selalu memakai sepatu. Aku cuma punya sepatu pemberian yang tak suka kupakai. Itupun kalau terus-terusan sepatu itu dipakai tanpa henti, ya bakalan cepat rusak. Makanya kalau dapat beasiswa aku mau beli sepatu.

 

**

Mau menyusun tugas makalah, monitor komputer malah bermasalah. Memang sudah rusak komputerku akhir-akhir ini. Monitornya sering mati karena mungkin sudah lama. Bayangkan saja sudah delapan belas tahun warisan dari kakakku. Ditambah dulu sering dibawa bolak-balik pakai bus Bandung-Garut-Tasik.

Barusan aku dibuatnya kesal gak ketulungan. Sampai berapa kali aku matikan, komputer masih saja tak menyala. Hang terus. Bagusnya sekalian dibanting ke lantai. Aku dibuat pusing komputer bermasalah terus. Mana sekarang sudah jam setengah duabelas mengutak-atik komputer dari sore.

Dasar komputer butut. Punya komputer bermasalah. Tak punya lebih bermasalah lagi. Mengerjakan tugas kuliah menjadi belepotan. Hidup memang bermasalah. Kenapa sih aku gampang marah. Kenapa aku gak bisa mengendalikan emosi.

Terus Robbi main ke kosanku. Mungkin sekedar mengisi malam minggu. Dia bilang, “Yan, kamu mesti masuk GMP. Percuma saja diam di kosan terus, kalau gak ada aplikasi.” Seolah-olah dia ngomporin aku harus masuk GMP.

Aku ingin hidup bebas tak terbatas. Justru aku sedang memikirkan bagaimana menjadi pribadi soultif. Bukan sekedar omong doang. Ngomong tentang keadilan, yang ngomongnya berada di lumpur kedzaliman. Lihat saja mereka-mereka yang duduk di birokrasi kampus. Mereka-mereka itu dulunya sewaktu jadi mahasiswa selalu berbicara keadilan, pembela kaum lemah. Namun setelah jadi kaum pejabat, kerjaannya cuma mencari enaknya saja sampai korupsi.

Yang dibutuhkan itu bukan omongan tapi kerja nyata, amaliah. Bukan berarti aku benci organisasi. Perjuangan memang harus terorganisir, itqan dan berjamaah. Namun aku melihat belum melihat ada organisasi yang sesuai harapanku. Lebih baik aku independen.

Aku akan menggali Alquran dan Hadis. Karena keduanya adalah pedoman hidupku. Hanya ada dua jalan, yaitu iman atau kafir. Kalau beriman, berarti menjadikan Alquran dan Hadis jadi pedoman. Kalau tidak, berarti kafir.

Menggunakan pedoman Sosialis, Marxis, Kapitalis adalah produk manusia yang memiliki kelemahan. Sedangkan Alquran dan Hadis dari Allah. Semua itu kita jadikan pelajaran hikmah. Aku ingin berjuang lewat jalanku sendiri. Dan tentunya ingin sesuai dengan pedoman Alquran dan Hadis.

Sekarang aku ingin memenuhi kebutuhan yang makin banyak saja dari hari ke hari. Aku ingin komputer baru. Kalau kompuerku error bagaimana bisa operasi usaha jasa pengetikanku. Aku ingin fokus pada usahaku. Aku gak bakal mendapat penghasilan kalau tak berusaha.

Tapi aku harus tenang dan jangan khawatir. Hanya Allah yang maha pemberi rezeki. Jangan takut akan rezeki dari-Nya. Allah sudah menjamin rezeki asal kita berjuang di jalan Allah. Kuliah adalah berjuang di jalan Allah untuk menghimpun ilmu-Nya di negeri Timur dan Barat.

Aku mesti segera membuat surat buat ibu dan kakakku. Aku gak bisa ke Garut karena gak punya uang buat ongkosnya. Lagian daripada buat ongkos, lebih baik uang buat memenuhi kebutuhanku. Penting mana antara membeli beras dengan pergi ke Garut. Kalau aku kesana gak apa-apa kalau dikasih uang. Belum membeli obat vitamin. Belum beli buku, mau beli binder. Sekarang ditambah ingin komputer baru.

Rencana mau dari sekarang mengumpulkan uang untuk bisa punya komputer baru. Tapi tiap bulan selalu tak cukup bekal. Jangankan menabung, malah selalu defisit terus. Katanya kalau kekurangan uang bukan mengurangi kebutuhan, tapi menambah pendapatan. Dari mana, dari usaha. Melalui beasiswa dan donasi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori