Oleh: Kyan | 12/05/2005

Faktor X Untuk Merenung, Berpikir, dan Bertindak

Kamis, 12 Mei 2005

Faktor X Untuk Merenung, Berpikir, dan Bertindak

**

Aku ridha dengan keadaanku hari ini dengan ketidakpunyaan uang. Uang yang kupegang cuma Rp 2.500,- Tapi masih kuperleh makan. Aku belum membuat resume Marketing dan belum belajar persiapan UTS MSDM. Tapi dari kuliah hari ini ada hal menarik yang kuperoleh. Kata dosen Marketing bahwa terdapat tiga cara untuk meningkatkan EQ, yakni tiga detik untuk merenung, tiga detik untuk berpikir, dan tiga detik untuk bertindak.

Kita selama ini kebanyakan merenung tanpa berbikir dan bertindak. Banyak berpikir tanpa direnungkan dan ditindaklanjuti. Banyak berpikir tanpa direnungkan tapi langsung saja bertindak. Lalu bedanya merenung dengan berpikir apa? Merenung adalah wilayah hati dan berpikir adalah wilayah akal.

Dari buku yang kubaca katanya ada lima aliran filsafat Islam, yaitu Kalam (teologi dialektis), Peripatetik (masyaii), Iluminisme (isyarqi), Teosofi (irfani) dan Ikhmah al-Mutaaliyah. Tokoh dari masing-masing aliran pemikiran: Kalam adalah Al-Thusi, Peripatetik adalah Ibnu Sina, Isyraqi adalah Al-Suhrawandi, Irfani adalah Ibnu Arabi dan Hikmah adalah Mulla Shadra.

Sementara behaviorisme adalah sesuatu yang dibentuk oleh pengalaman yang berulang-ulang. Dalam teori Freud dikatakan ada tiga unsur penyusun jiwa manusia, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah hasrat biologis—mungkin saja nafsu emosi. Ego adalah pilihan yang dikehendaki, dan superego adalah polisi sosial untuk menimbang efek-efeknya.

Aku baru kali ini bisa main badminton. Orang bisa badminton karena terbiasa. Alah bisa karena biasa. Karena tidak biasa aku gak bisa. Coba kalau sering aku pasti bisa. Aku kan selalu bersungguh-sungguh dalam bertindak.

Nanti aku harus sering berolahraga. Aku harus rajin lari, renang dan badminton. Renang harus punya uang, badminton harus punya raket dan ada lapangannya, dan lari harus punya sepatu. Pokoknya harus sering berolahraga supaya tubuhku sehat.

Akhirnya badanku menjadi pegel-pegel. Karena tidak terbiasa badminton. Begini gara-gara semangat badminton yang membludak, sementara tidak pemanasan dulu. Baru pertama kali sudah memporsir latihan, jadi pada nyeri persendianku.

Aku belum belajar persiapan UTS. Jangan banyak berpikir, bertindaklah. Makanya setelah menulis aku harus belajar. Aku menulis catatan ini jam sudah hampir jam dua dini hari. Aku harus belajar sampai subuh.

Kalau ingin jadi orang besar harus mengerjakan sesuatu melebihi kapasitas orang lain, melebihi apa yang dikerjakan oleh orang lain. Baik dari segi semangat, waktu dan biaya atau yang lainnya. Jadi wajar yang punya waktu dan uang dan bisa konsentrasi terhadap sesatu, maka ia berhasil dalam hal tersebut. Aku harus berbuat demikian.

Sejujurnya aku masih sedih dengan kekecewaanku hari ini. Aku merasa sedih sekali dengan nilai UTS-ku yang kecil banget. Aku hanya meraih nilai enampuluh diantara teman-temanku yang meraih delapanpuluh dan sembilanpuluh. Kenapa aku mendapatkan nilai yang sama dengan anak yang paling bodoh di kelas. Tapi apakah aku merasa jadi orang pintar selama ini.

Memang aku ini anak bodoh. Orang lain pada mendapat memuaskan sementara aku mendapatkan nilai terkecil. Mungkin menurut penilaian dosenku, memang aku mengisinya salah dan tidak memuaskan jawabannya. Aku hanya nilai yang diberikan karena faktor x, yaitu dengan rambutku yang gondrong dan penampilan yang urakan. Aku takut kemungkinan besar nilai akhir nanti mendapat nilai B. Kenapa tak bisa kudapatkan nilai A kalau kupikir pantas aku meraihnya. Tapi itu belum terjadi, aku bisa meraih nilai A jika aku berjuang keras.

Di dunia ini relatif, tidak ada yang mutlak. Segalanya dapat saja menjadi mungkin. Lagian masa depan cerah tidak ditentukan oleh sekedar nilai yang diberikan oleh dosen yang penilaiannya subjektif. Manusia hanya berusaha untuk menggapai keadilan dan kebenaran. Persepsi tiap orang berbeda-beda.

Tapi kenapa aku merasa masa depan bakal suram gara-gara mendapat nilai kecil di salah satu matakuliah. Jadinya aku stress gara-gara mendapat nilai segitu. Mungkin karena kerja kerasku tidak optimal. Semoga masih mungkin aku mendapat nilai A. Menjadi pertanyaan sekarang kenapa si ibu dosen memberiku nilai segitu, adakah alasan lain?

Meskipun aku memang bodoh, tapi aku cerdas dan potensiku banyak. Buktinya dari kecil aku selalu merah juara kelas, bahkan di SMU aku mampu mendapat 10 besar di sekolah besar. Ini sebuah ujian dari Allah yang mana aku harus bersikap bijak dan dapat mengambil himahnya. Aku tidak boleh benci pada dosennya hanya karena nilai yang diberikan kecil. Semua ini salah ku, karena faktor x.

Faktor x-ku memang jelak. Penampilan yang acak-acakan. Nilai kecil membuat aku sakit hati dan jadi cemoohan orang. Ya Allah berilah aku ketenangan batin dan mampu menghadapi uian ini sebagai mahasiswa. Biarlah Allah yang maha adil yang menilai segalanya. Memang kuakui persiapanku tidak optimal.

Waktu semester satu aku mendapat ketakutan dapat nilai kecil bahasa Inggris, namun nyatanya nilaiku tinggi. Beginilah jadi mahasiswa. Yang penting aku bersungguh-sungguh dalam kuliah. Aku harus ridha dengan apa yang telah berjadi. Mungkin inilah yang terbaik buatku.

Dengan kejadian ini aku bisa mengambil hikmahnya dan bangkit kembali dari keterpurukan nilai. Memang nilai bukan segalanya, tapi segala-galanya adalah nilai sebagai tolak ukurnya. Aku adalah calon orang besar dan lihatlah perjuanganku, lihatlah![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori