Oleh: Kyan | 14/05/2005

Menjadi Manusia Bekicot

Sabtu, 14 Mei 2005

Menjadi Manusia Bekicot

**

Semalam teman-temanku menginap di kamar kosanku: Yedi, Rizki dan Dudi. Hampir setiap hari selalu saja ada yang menginap di kosanku. Malam kemarinnya hanya ada Veri. Hidup ini memang untuk melayani orang-orang yang harus kutolong dalam rangka beribadah kepada Allah. Aku mesti bersabar dan bertawakal bila ada kesusahannya.

Dan malam berikutnya ada lagi yang menginap di kosanku. Tamu yang sekalian merental komputerku, yaitu Hijaz Khobir anak Ahwal Al-Syakhsiyah dan Irhandi anak PMI=Pengembangan Masyarakat Islam. Dibandingkan aku masih belum seberapa, Aa Gym dalam setiap harinya para tamunya sampai ribuan. Tamu segitu sudah belepotan. Semoga saja dapat dijadikan kebaikan. Manusia harus bermanfaat bagi manusia lain.

Lia meminta tolong dibuatkan tugas kuliahnya. Mungkin ini tidak baik, tapi bagaimana dengan penghasilanku. Tapi mengerjakan tugas dia bukankah semata hubungan adik-kakak. Tetap saja kuterima bila dia memberikan yang lebih padaku.

Tadinya mau dikerjakan malam hari, tapi masih ada yang mengetik di komputerku. Beginilah kalau buka usaha waktuku menjadi terganggu. Di sini diperlukan kesabaran dan tidak boleh stress. Makanya di pagi-pagi sekali aku harus langsung mengerjakan.

Tapi masih bingung bagaimana cara menganalisisnya. Sementara jam tujuh esok pagi harus sudah ada di kampus. Mau ikut seminar Ekonomi Syariah. Terpaksa mengerjakannya cuma selembar. Ditambah kertas A4 gak ada, printer tidak jalan, jadinya aku pusing sendiri. Tapi aku harus tenang. Komputernya harus didiamkan dan dimatikan dulu.

Waktu sudah jam setengah tujuh aku segera mandi dulu saja. Setelah dicoba lagi setelah mandi, alhamdulillah ternyata printer bisa menyala lagi. Satu masalah sudah teratasi. Jam tujuh lebih aku berangkat dan binghng mesti membawa apa. Sampai bawa sikat gigi saja lupa.

Terpaksa aku balik lagi ke kosan. Kuncinya di Veri. Aku balik lagi ke kampus, bolak-balik dan sangat tergesa-gesa. Sempat masuk kelas dulu dan bilang ke dosen meminta izin mau ikutan seminar di Unisba. Ngomongku tidak kedengaran dosen, sampai berulang kali. Pendengaranku yang kurang atau dosen yang ngomongnya pelan.

Sampai di Unisba, ternyata belum dimulai. Aku jadi kambing conge. Aku belum begitu akrab dengan senior Muamalah. Orang lain kok pada berani bertanya dan pandai mengolah kata, sedangkan aku bingung mesti bertanya apa. Setiap orang pasti memiliki ide-ide. Hanya bagaimana caranya mencurahkannya itu masih menjadi masalah.

Kok aku merasa tak butuh seseorang, buat sekedar ngobrol. Aku inginnya sendiri saja. Kalau masalah keberanian aku beraai ngomong, tapi ngomong apa. Kalau ngomong susah mencari kata-kata yang pas. Karena belum terbiasa maka harus dilatih. Ngomong saja langsung dan apa adanya tanpa usah dikonsep. Beletak-beletuk saja istilah Sunda-nya.

Malam harinya aku baca buku ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz yang kupinjam dari peserta seminar dari STAIN Cirebon. Aku belum begitu mengenal dengan sosok Harun Nasution. Dikatakan pemikiran Cak Nur katanya mengambang. Masih belum ada tulisan dia tentang sekulerisasi secara utuh. Dan penulis buku tadi bilang filosof muslim dulu sebelum belajar filsafat Yunani, mereka sudah faham dulu ilmu tafsir, hadis, balaghah sampai di luar kepala.

Baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kampus Unisba. Mengikuti seminar Sabtu-Minggu. Hari pertama diadakan di kampusnya berisi talkshow dan hari kedua ke kampus dua Unisba di Dago Atas. Pertama kali pula tahu Dago Atas dimana tempatnya sejuk dan dingin sekali. Mengamati bangunan dan situasi tempatnya, mungkin ini sering dijadikan masa orientasi mahasiswanya.

Di tengah-tengah diskusi dan obrolan, aku tak bisa menampakkan diri dengan bertanya pada pemateri. Bila memang tak ada yang hendak ditanyakan jangankan diucapkan, dicurahkan dalam tulisan pun tidak bisa. Aku ingat kemarin UTS matakuliah MSDM meskipun open book, kalau mengisinya tanpa berimajinasi merangkai kata bakal susah juga mengisi jawabannya.

Lalu dilanjutkan UTS matakuliah Kewirausahaan dimana soalnya adalah studi kasus. Jadi sama-sama mengandalkan pada imajinasi berdasarkan pemikiran sendiri. Aku menulis jawaban sampai tiga halaman itu tidak seberapa. Tiga halaman dengan setiap nomor dan submomor dibiarkan bolong-bolong yang mungkin jika disatukan akan dua halaman.

Sedangkan Uly Ajnihatin, ia menulis sampai empat halaman. Kulihat dia terus-terusan sampai penuh setiap halamannya. Memang menulisku lambat dibandingkan yang lain. Menulisku lambat banget apakah karena kebiasaan-kebiasaanku yang selalu pelan-pelan, demi ingin berhati-hati ataukah memang seperti bekicot saja. Memang aku ini manusia bekicot. Haa.

Sedangkan aku dalam berjalan atau berbicara biasanya cepat. Kenapa selalu saja aku sering banyak bertolak belakang dengan kebiasaan-kebiasaan orang lain. Aku memang aneh katanya bagi setiap orang. Tapi inilah aku sendiri yang punya keunikan tersendiri.

Sekarang aku ingin lancar dan cepat menulis. Lancar dalam menuangkan gagasan pikiran ke dalam tulisan, kata demi kata, paragraf demi paragraf. Padahal potensi otakku masih banyak. Mungkin baru digunakan 0,00xx persen. Bagaimana untuk pengoptimalan otakku bila menulis saja kayak jalannya bekicot. Jika aku bodoh bagaimana aku menjadi cerdas sehingga mampu membuat kemajuan bagi bangsa dan negaraku.

Pergi ke kampus, kupakai busana muslim, banyak yang memuji. Namun tetap saja nilai SIM yang kecil selalu menghantuiku dan ada sebagian temanku yang masih mengejekku. Tapi aku harus ridha terhadap apa yang sudah terjadi. Aku ridha dengan keadaan hari ini, karena hari ini adalah yang terbaik bagiku.

Waduh, sudah bertambah lagi tugas kuliah. Beginilah nasib sebagai mahasiswa yang terus berjibaku dengan tugas demi tugas kuliah. Mungkin aku tidak serius dalam belajar dan persiapan dan semua itu dijadikannya beban. Mungkin pula karena aku terlalu cuek-cuek saja. Kalau malam belum juga legam ini sudah mengantuk. Kalau siang kosanku terus dikerubungi teman-teman yang datang teman-teman yang bermacam-macam keperluannya.

Lantas kapan waktuku buat belajar bila waktuku selalu terganggu oleh mereka. Mereka yang siang dan malam merental. Salah siapa harus buka usaha jasa rental dan pengetikan. Lantas sekarang aku harus bagaimana? Tadi saja waktu tugas Marketing, aku tidak sempat membaca. Lain kali waktuku harus kugunakan dengan baik.

Pulang dari kampus bareng  Pipih. Dijalan ketemu Nenden, anak psikologi, temannya Pipih. Karena banyak yang mengatakan bahwa dia cantik, aku penasaran dan ingin ketemu bagaimana raut wajahnya. Dan baru tadi bisa terpenuhi.

Bagaimana tentang dia. Dia seperti perempuan-perempuan lain yang pasti memiliki satu keunikan tersendiri. Sekarang aku sudah mengantuk, tapi tugas belum selesai kukerjakan. Orang bilang aku harus bersabar dan bertawakal.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori