Oleh: Kyan | 16/05/2005

Mencari Referensi Fiqih Muamalah

Senin, 16 Mei 2005

Mencari Referensi Fiqih Muamalah

**

Besok Rabu jam 02.00 tugas matakuliah Fiqh Muamalah harus sudah dikumpulkan. Sementara hari ini aku belum mengetik sehuruf pun. Tapi aku santai saja, memang harus tenang dan sabar. Kalau kupikir mampu, pasti aku mampu.

Pagi sekali aku ke perpustakaan mencari referensi. Mengelilingi rak buku sampai jam dua siang. Mau memfotokopi, mesinnya sedang diperbaiki. Sudah susah mencari referensinya, mengerjakannya sendirian lagi. Tapi sebenarnya tugas berat apapun jika dikerjakan bareng-bareng, dibagi-bagi pasti bisa selesai cepat.

Sudah beberapa hari aku tidak menulis catatan harian. Mungkin tiga hari aku tidak menulis rasanya tidak enak badan. Waktuku habis buat mengerjakan tugas Fiqh Muamalah. Mengerjakannya diberi waktu seminggu, menulisnya harus pakai footnote dan referensi minimal duapuluh buku.

Makanya hari ini ke Bapusda. Mampir dulu ke tukang fotokopi untuk memotong jilid buku. Waktu pulang dari Bapusda kuambil dan gratis. Baik banget tukang fotocopi. Memang jangan terlalu harus perhitungan, walaupun ini bisnis. Akupun harus seperti itu, jangan bermental kapitalis.

Di Bapusda sempat baca koran Republika. Terdapat artikel yang mau difotokopi, juga mesinnya sedang rusak. Masa harus ke Uninus, jauh banget. Aku pulang dari Bapusda jam setengah tiga sendirian. Coba saja main ke Bapusda banyakan dengan teman-teman. Pasti rame ditambah ada dia…

Suka gak sih aku padanya? Padahal dulu sekali aku sama sekali gak tertarik padanya. Mungkin karena sering betemu dan sering memperhatikan dia yang ternyata dia cantik juga. Tak adakah yang lebih cantik selain dia. Suka terhadap wanita itu fitrah manusia, wajar yang penting, asalkan jangan melanggar syariat. Nikmati saja perasaan itu. Hal itu bisa membikin gairah hidup dan menjadi sebuah kekuatan yang tiada terbatas.

Aku memiliki usaha rentalan, tapi aku jarang sekali ditungguin. Kalau ada yang mau merental, soak aza. Nanti kalau sudah selesai, bawa saja kunci kamarnya. Aku memberikan kebebasan karena yang merental komputerku banyaknya adalah teman-teman jurusanku sendiri.

Meski komputerku sudah butut, sampai kalau dipakai terus-terusan suka ngadat tapi masih bisa jadi aset produktif. Gangguannya monitor matilah, printer tidak jalanlah. Solusinya segera adalah membeli monitor baru, dan juga komputer baru. Monitor harganya sekitar Rp 350.000,- bagaimana aku bisa mengumpulkan uang. Lagian aku harus segera beli kasur, biar aku bisa istirahat dengan tenang. Padahal mati saja kalau mencari ketenangan.

Ketenangan hanya dengan keberanian melawan ketakutan. Seperti kemarin pertama kalinya ikutan outbond di kampus Unisba. Seumur hidupku baru hari ini bisa merasakan outbond. Pemandunya dari Gamada Daarut Tauhiid. Banyak permainan yang menantang yang memerlukan keberanian dan kecerdasan serta kreativitas. Diperlukan kekompakan dan ketenangan setiap anggotanya. Aku pertama kalinya mencoba meluncur pakai tambang. Aku sudah mencoba dan itu bisa kulakukan. Jadi ingin mencoba lagi meluncur.

Fossei adalah wadah skala nasional pengkaji Ekonomi Syariah. Kalau ada kegiatan lagi aku ingin ikutan lagi. Pengalaman yang banyak bisa membikin aku semakin berani, kuat mental, semakin percaya diri. Misalnya ketika ada kesempatan bicara aku harus berani bicara.

Anak STMB, Renal namanya ia berani bicara walaupun sepatah kata. Begitu juga akhwatnya dari kampus yang sama. STMB adalah sekolah bisnis. Mereka dilatih untuk pandai berkomunikasi. Mereka dilatih berani bicara di depan umum karena itu modal utama dalam bisnis. Berarti aku juga harus seperti mereka yang memiliki keberanian dan semangat.

Waktu outbond ada permainan taaruf. Kukenal nama Hendra, Dani, Dedi, Iman, Aman, dari UPI. Lalu ada Tatan dari STAIN Bogor, dan Teguh dari UIN Bandung. Kalau ingin mengingat nama mereka harus sering diucapkan. Jadi diam bukan emas lagi, tapi bicara malah sudah bisa jadi intan permata.

Seharian di hari Minggu aku gak mandi, pagi ataupun sore. Makanya pantatku pada gatal-gatal. Dalam kembali pulang, masih ingat pada bukunya teman Tatan. Nanti perlukah dibeli itu buku Pemurtadan di IAIN. Hanya penasaran saja ingin kubaca semuanya.

Dari pengalaman, untuk mencairkan suasana aku harus pandai bercanda. Mungkin tipeku dapat dikatakan orangnya aku ini pendiam dan serius. Jadi susah sekali aku bisa bercanda. Harus bercanda bagaimana? Bukankah perempuan suka cowok yang humoris? Itu sebuah keterampilan dan aku pasti bisa seperti mereka, asal ada kemauan. Lagian setiap orang pasti punya keunikan masing-masing. Bercanda yang alami saja.

Sering muncul perasaan bahwa aku tidak bisa apa-apa. Padahal aku memiliki segudang potensi besar. Aku adalah pembaca buku dan berani bicara di depan publik. Lihat saja prestasiku sejak kecil dengan kemampuanku yang cerdas. Karena belum terlihat dan tereksploitasi saja dengan semua keunggulanku.

Sering muncul rasa minder, padahal aku mempunyai berbagai kelebihan. Orang lain mempunyai kelebihan, akupun memiliki kelebihan. Tapi setiap manusia memiliki keunggulan dan kelemahannya. Jadi manusia harus bersinergi dengan manusia lain. Itulah makna sebagai makhluk sosial.

Tak kuat aku menahan kantuk. Selepas Isya aku ingin tidur pulas, supaya pagi bisa fokus mengerjakan tugas. Lawanlah ketakutan dengan segera menyelesaikan tugas Fiqh Muamalah sesuai pada waktunya dikumpulkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori