Oleh: Kyan | 19/05/2005

Wanita, Tahta, dan Harta

Kamis, 19 Mei 2005

Wanita, Tahta, dan Harta

**

Hari ini banyak banget yang bikin aku kesal. Gara-gara kunci kamarku tadi dipinjam Robbi, pas aku butuh kunci dia tak ada dan tak tahu kemana. Lalu segera bergegas naik angkot menuju Ujungberung mau ke Bank Muamalat, katanya kartu Syar-E belum tersedia. Sudah mepet-mepet waktu mau mendaftar Syar-E malah kagak ada.

Jadi ini kekurangan bank syariah. Layanannya tidak maksimal. Soal optimalisasi ada hubungannya dengan kualitas, dan maksimal ada hubungannya dengan kuantitas. Tadinya aku mau langsung pulang, tapi ketika mau mencegat angkot ada dua perempuan yang menepuk pundakku. Jalan-jalan di ujungberung malah ketemu Runi dan Yunia. Mereka meminta pulangnya bareng dan mengajakku berjalan-jalan dulu.

Akhirnya aku diajak jalan-jalan saja bersama mereka. Sambil lewat sempat kutanyakan harga kasur. Karena aku sudah berjanji pada Ibu bahwa kiriman uang mau dibelikan kasur.

Kasur merek Swallow harganya Rp 400.000,- merek GMW Rp 300.000,- dan merek President Rp 200.000,- Uangku jika dibelikan kasur, tabunganku tidak akan cukup buat membeli kartu Syar-E. Begitupun akan tersisa Rp 170.000,- jika dibelikan kartu Shar-E.

Kalau membeli speaker seharga Rp 160.000,- Tak cukup juga buat bekal makan. Bagaimana dengan makanku bila sebagian uang kugunakan untuk membeli satu barang. Sudah berencana mau membeli buku pocket ESQ, buku saku tasawuf, Wyh Not, Gadis Jeruk-Jostein Gaardner, Kisah 1001 malam jilid satu, tapi uangnya selalu tidak cukup. Ditambah sebentar lagi mau kunjungan ke Tazkia, akan ikutkah aku? Juga aku ingin belita tape recorder, harus dari sekarang mengumpulkan uang.

Tapi prioritasku sekarang adalah membuka tabungan dan membeli kartu perdana Syar-E, mereparasi monitor, dan hanya membeli saku ESQ. Mungkin itu yang terpenting sekarang. Tentunya membeli buku sakunya setelah mendaftar Syar-E. Takutnya malah tidak cukup uangnya. Buku saku ESQ harganya Rp 17.000,- dan saldo tabungan Syar-E mau dikumpulkan buat membeli tape. Karena di Bank Muamalat Ujungberung tidak ada kartunya, menjadi opsi membeli Syar-E ke pak Syahrizal. Sekalian itu katanya akan mendapat nilai plus.

Jalan dengan cewek kayaknya asyik dech, apalagi dengan calon istri—maksudnya pacar—pasti semangatnya minta ampun. Tapi dengan calon istri itu gak boleh, belum jadi muhrim, belum halal. Masalah muhrim menyangkut batal tidaknya wudlu. Kalau suami istri itu halal, apakah tidak batal wudhu? Aku belum tahu soal ini.

Mengikuti kemauan mereka akhirnya, sebagai tanda penghargaan padanya. Mulai sekarang aku mau belajar menghargai. Kalau mau menyanggah, bertanya dulu dan mesti bilang dulu, “Boleh gak aku menyanggah?” Nanti kalau langsung main komentar, akan membikin orang sakit hati.

Aku  harus bersikap sopan terhadap perempuan. Aku harus mendengar segala keluh kesahnya. Dengarlah dengan penuh perhatian dan jangan terburu-buru memberikan berkomentar! Memiliki perasaan bahagia di hari ini. Ingin selalu menghargai perasaan dan sikap orang lain. Nanti malam minggu aku mau jalan-jalan ke BIP.

 

Pulang dari Ujungberung kami makan di warteg pinggir jalan. Meski sekedar warteg bagiku harganya mahal. Tadinya mau menghemat, makan cuma pake ikan, dikira Rp 2.000,- atau Rp 2.500,- ternyata Rp 3.500- Mahal banget. Bagaimana gak enek akhirnya. Tapi walaupun enek, makanan sudah di perut. Sudahlah terjadi dan buanglah sikap kesal.

Setidaknya aku dapat menyalurkan kekesalan. Sikap yang baik adalah bersabar dan biarlah yang terjadi sudahlah terjadi, ikhlaskan saja. Sudah rezekinya tukang warung makan. Kalau menggerutu menjadi solusi, sok saja menggerutu. Buat jadi solusi, pencurahan atau penyaluran kekesalan bisa dengan yang lain.

Caranya kalau melihat kesenangan hari ini, aku bisa jalan-jalan dengan temen-teman. Sempat sore hari mengikuti mentoring LDM dan bisa kenal dengan teman baru bernama Kang Yadi, anak PMI semester empat, temennya Puri Rahma. Aku juga bisa main ke kosan Lia sekedar silaturahim main untuk saling menyapa dan bertanya kabar tentangnya. Ungkapkan kata, “cantik sekali hari ini” sungguh mengena.

Pulang dari kosan Lia, dijalan aku bertemu Nenden lagi. Kalau sudah kutunaikan salat Ashar mungkin bisa lebih lama berbincang dengannya. Sebelum sampai di kosan aku mampir ke wartel untuk menelpon pak dosen Pancasila, pak Subhan. Mau menanyakan tentang nilai pancasila yang belum keluar. Aku harus membantu mereka. Mereka atau diaa…

Ceramah Aa Gym di pengajian malam Jumat tentang menjaga pandangan terhadap perhiasan bernama wanita, tahta dan harta. Aku ingin hari ini dalam menyikapi setiap masalah aku bisa tenang dan pasrah pada Allah saja. Aku ingin bahagia hari ini. Dan memang sudah kuperoleh bahagia hari ini. Aku bahagia dan menerima takdir.

Aa Gym pun mengatakan siapa bilang Rasul miskin. Beliau ketika ada rezeki, ia langsung sedekahkan kepada yang membutuhkan. Keberadaan Mushala di Mall, sering ditempatkan di lantai paling bawah. Sudah dibawah, terus kumuh lagi. Itu semua adalah penghinaan terhadap Allah, tambahnya.[]

*


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori