Oleh: Kyan | 21/05/2005

Lebih Cantik Kamu, Maniz

Sabtu, 21 Mei 2005

Lebih Cantik Kamu, Maniz

**

Aku ingin bercerita tentang suatu hari yang ceria bagiku, entah bagimu. Kala hari Jum’at dimana kuliah Manajemen Operasi ada tugas menjelaskan penyebab pesan kembali tetap, berkala dan opsional, materi yang belum aku mengerti. Dilanjutkan setelah Jumatan ada kuliah Kewirausahaan dimana kelompokku: aku, Putera, dan Angel Wings kebagian penyampai diskusi yang tampil ke depan kelas.

Aku mencoba jadi moderator dan aku berhasil jadi moderator kali ini. Meskipun ada hal-hal yang harus diperbaiki. Dari menjadi moderator sebelumnya, katanya sebagai moderator aku harus bisa mengendalikan situasi. Sementara persentasinya dibawakan oleh Putera. Melihat persentasi Putra, dia bagus sekali persentasinya dan mengalir saja kata-katanya dengan lancar. Apakah aku bisa seperti dia? Suatu saat aku pasti bisa.

Tadi sebelum Jumatan aku dan Angel Wings sempat menemui pak Syarif untuk menanyakan surat pengantar window shopping ke Pegadaian Syariah. Lalu kami pulang bareng sampai depan kampus dan berpisah di jalan raya. Aku belok kanan sementara dia belok kiri menuju rumah kosnya masing-masing. Aku merasa ada sesuatu yang sensasional ada kesempatan jalan bareng dengannya.

Begitu sampai di jalan raya aku ngomong ke dia, “Mau diantarkan sampai kosan?” Entah apa jawaban dia, hanya dia langsung saja menyeberang. Kudengar “aku mau fotokopi dulu, katanya. Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya aku mengantarkan dia sampai depan kosannya apakah dia akan marah. Tapi kupikir aku harus segera pergi Jumatan. Alangkah senangnya bisa punya kesempatan jalan dengannya yang nanti disambung sepulang kuliah, rencanaku mau mengantarnya ke rumah Pak Subhan.

Sengaja kuajak Robbi, supaya gak cuma aku dan dia saja dan untuk menghindari fitnah bila hanya berdua saja. Begitu selesai kuliah Kewirausahaan berangkatlah aku, Robbi, dan dia menyusuri jalan Manisi yang menanjak.

Meski belum tahu dimana persisnya rumah sang dosen, hanya dengan bermodalkan tekad untuk mencari-cari rumahnya. Dan ternyata ketemu juga akhirnya berkat petunjuk dekat sebuah masjid. Dosen UIN pastinya dekat dan dikenal oleh orang masjid.

Kupikir memiliki kesempatan bersamanya, dalam kesibukan masing-masing suasana seperti ini jarang sekali kudapatkan. Meski hasilnya nihil, tapi rencana Kamis depan kami mau kembali. Pokoknya harus bertemu pak Subhan secepatnya.

Pulang dari sana aku memutuskan mengantarkan dia sampai kosannya. Dan akupun diajak mampir sebentar ke ruang tamu kosannya. Sementara Robbi tadi pulang duluan lewat jalan gang kampus.

Aku dan dia jalan saja menyusuri jalan Manisi sambil menikmati kehangatan menuju petang hari. Sampai di kosannya, aku mengutak-atik komputernya. Tiba-tiba pandangku mengarah pada sebuah foto dia yang sudah dipotong-potong. Kuberanikan saja kuambil foto itu, alias mencuri itu fotonya dia pose setengah badan, yang mungkin sebelumnya adalah pose bersama seorang temannya. Berpose dengan kerudung hitam dan manis senyumnya. Apakah dia tahu bahwa aku telah mengambilnya ataukah sengaja tidak mau tahu. Padahal ia duduk di sebelahku sedang bercengkrama denganku.

Di kosannya sampai jam setengah lima. Aku pun pulang karena dia harus terburu-buru mau ke Mihdan di Maleer. Di hari sudah petang begitu disaat orang sudah pada ongkang-ongkang dan jalan-jalan, sementara dia harus pergi kerja yang tempatnya lumayan jauh. Semestinya dengan kondisi badan yang sudah letih setelah melakukan berbagai kegiatan, aku pun malah santai-santai saja, sementara dia masih bersemangat demi cintanya pada pekerjaan.

Pokoknya hari ini aku senang sekali memiliki kesempatan jalan bersamanya. Begitu sampai di kosan, tidak lama datanglah teman-teman cowok ke kosanku. Mereka bilang habis makan-makan di kosan Rizki. Waduh, sisi lain aku bahagia, tapi gak sempat ikut makan-makan bersama mereka. Katanya aku dicari-cari, malah aku tidak ada di kosan.

Betapapun ruginya tak ikut makan-makan, pokoknya aku senang sekali hari ini bisa jalan dengan seseorang yang kukagumi selama ini. Kubayangkan akan paras wajahnya, semangatnya, dan sejumlah kelebihan lainnya. Memang dia pantas jadi calon istri orang. Maksudku dia bisa menjadi salah satu kriteria calon istriku.

Tapi aku ingin mendapat yang lebih baik dari dia. Ada satu hal dimana aku belum bisa menerima segala kekurangan-kekurangan dia. Meskipun begitu, hari ini adalah hari bahagia yang terus membayangi pikiranku. Memikirkan segalanya tentang dia.

Seperti biasa jadwal kuliah Sabtu sangat padat. Bayangkan saja dimulai dari jam tujuh sampai jam tiga sore terus-menerus mengikuti dan menerima paparan dosen yang hanya diselingi makan dan salat Duhur.

Namun di pagi-pagi sekali dia sudah menelponku. Ia bilang aku mesti segera ke kampus. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Maka aku secepat kilat mandi dan pergi. Sampai di kampus, aku menghampirinya. Dia bilang semalam pulang dari tempat kerja jam sembilan malam. Memang kulihat di raut wajahnya tergambar muka kecapean. Aku saja yang bersantai-santai dalam setiap harinya.

Lalu ia bilang, “komputerku masalah lagi. Gak tahu tadi pagi ketika kunyalakan tiba-tiba gak jalan.” Karena kuliah Manajemen Keuangan diganti ke Senin dan sekarang ada waktu kosong sebelum masuk jam kuliah selanjutnya, kami langsung pulang ke kosannya. Setelah dilihat, masalahnya ada salah satu komponen yang hilang.

Diutak-atik sampai jam sepuluh belum bisa juga. Terpaksa ditunda dulu karena jam sepuluh ada kuliah Akuntansi Syariah. Kami pun bergegas lagi ke kampus. Dan sepulang kuliah sempat bertemu anak MKS -B, Noor Yahdini, Ria Juariah, dan Mila yang memaksaku untuk memberi pinjam bukunya Diah yang ada padaku.

Noor merebut buku sampai memegang tanganku. Waduh, ini bukan muhrim. Aku belum bisa konsisten membatasi pergaulan. Aku menyarankan ke supaya mereka pada masuk kuliah Komputer Bisnis. Karena mungkin nasihatnya bijak, akhirnya mereka menurut juga. Berarti aku mesti memberi pemahaman dengan lembut dan bijak.

Aku berjalan sampai pintu depan kampus. Disana ada dia yang sedang duduk sendirian. Katanya dia sudah menungguku dari tadi. Kami pulang bareng menuju kosannya. Selepas kutunaikan salat Duhur, aku langsung mengutak-atik komputer. Tak lama kemudian aku disana, Dian muncul memberikan kunci kamar kosanku. Memang sudah terbiasa aku meninggalkan kosan, sementara disana ada banyak teman-teman yang merental.

Aku harus berusaha bersikap tenang dengan masalah komputer dia. Lalu aku mendapat ide bagaimana caranya kalau kupakai cdroom punyaku. Jadi mau diinstal saja komputernya, tapi karena cd room punya dia gak jalan bisa kupakai punyaku.

Aku secepatnya pulang dulu, sekalian salat Ashar dan mandi dulu. Kupinjam pinjam obeng ke tetangga kamar. Setelah beres semuanya aku balik lagi ke kosan dia yang pokok ceritanya apakah itu mau memperbaiki komputer, atau modus ngedate bermalam mingguan.

Dan sampai jam delapan alhamdulillah komputernya jalan lagi. Ketika ada masalah, katakan aku bisa mengatasinya. Tiba-tiba muncul pikiran selama ini aku belum pernah mencoba menguji dia apakah dia suka padaku. Kucoba menginstall program acdcee untuk membuka gambar-gambar, termasuk gambar foto perempuan yang tersimpan di file cd-ku. Sengaja aku ingin menguji dia apakah ada perubahan raut mukanya ketika ada wajah cantik merona di komputerku.

Lalu kubilang padanya, “Cantik khan?” Ia hanya bilang, “pacarnya dulu ya? Lalu teman asrama dia, Siti Aminah tiba-tiba memberi komentar, “Wah ada yang jeles nih”. Ia marah-marah dengan muka cemberut. Apakah pertanda dia suka padaku? Kupikir dia pun memiliki ketertarikan sampai tahap tertentu padaku . Gede rasa tidak apalah demi membahagiakan diri sendiri.

Apakah akhir-akhir ini dengan semakin intens-nya kebersamaanku dengannya semakin mentautkan hati masing-masing? Mungkinkah dia mengaku bahwa dirinya sebagai pacarku, walaupun tanpa ada ungkapan verbalistik sudah jadian. Padahal ketika memperlihatkan foto Aisya yang kupotong dari film Syukur 21, kenapa tidak kubilang saja, “Lebih cantikan kamu. Mestinya aku bilang seperti itu padanya. Barangkali ia bakal kegeeran.

Sudah jam sepuluh malam sebagai batas bertamu di kosannya. Akupun pulang membawa cerita malam mingguan yang terlukis dalam keceriaan antara aku, dia, dan dia. Cerita begini dapat menjadi kenangan pelipur lara suatu saat nanti.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori