Oleh: Kyan | 24/05/2005

Iwan Fals, Wajit Cililin, dan Kesetiaan

Selasa, 24 mei 2005

Iwan Fals, Wajit Cililin, dan Kesetiaan

**

Jadilah aku dan Veri main ke rumahnya Yedi di Cililin yang terkenal dengan makanan khasnya Wajit Cililin. Itu baru pertama kalinya mengtahui jalan terusan setelah Batujajar. Sejak SMA aku sering jalan-jalan hanya sampai Batujajar, karena disana ada teman SMA yang rumahnya di Galanggang. Begitupun ke Batujajar semakin inten ketika rumah yang dibeli kakakku dengan uang ibuku di Batujajar Pangauban.

Selepas Ashar kami berangkat dari bunderan Cibiru naik Damri Elang-Jatinangor. Sampai di terminal Leuwipanjang turun dan naik bis kecil Madonna jurusan Cililin. Jalan setelah Batujajar ternyata jalannya berliku melewati dua jembatan Citarum. Tapi sayang aku tak bisa melihat pemandangan, karena hari sudah malam.

Tidur di Cililin, bangun kesiangan. Pagi-pagi sudah disediakan makanan. Enak banget bak raja punggawa istana. Begitu juga kalau aku punya keluarga dan hidup harmonis bersatu dengan ibu, ayah dan kakakku. Sebagai anak kesayangan mungkin selalu ada yang menyediakan makan. Sungguh bahagia mempunyai keluarga bahagia. Pagi-pagi kami bermain badminton, dan terasa banget lelahnya. Keringatku mengucur tidak biasanya aku berolahraga sampai keringatan. Memang olahraga badminton sangat menguras tenaga dan kegesitan.

Selesai badminton, kami tidur-tiduran sambil kudengarkan lagu-lagu dari kaset Iwan Fals. Teman yang satu ini memang nge-fans banget sama Iwan Fals. Di kamarnya terpajang poster gede Iwan Fals yang sedang memagang guitar. Tentang bang Iwan, ada lagi satu perempuan yang juga sama-sama nge-fans banget pada bang Iwan Fals. Itu dia Angel Wings, dia sama di kamarnya ada poster Iwan Fals. Aku juga Orang Indonesia pastinya adalah OI.

Hanya pernah saat kecil dulu, pamanku mempunyai beberapa kaset Iwan Fals. Kulihat gambar di cover kasetnya, bang Iwan berkumis baplang. Pokoknya pikiranku saat itu mungkin diberi istilah sekarang beliau orangnya urakan jadi aku tak begitu tertarik. Tapi pemuda kampungku begitu banyak yang suka mendengar lagu-lagunya. Mungkin karena seia sekata pada anti kemapanan. Mungkin dulu pun sering aku mendengar lagu-lagunya hanya tidak tahu bahwa itu lagu-lagu bang Iwan Fals.

Pastinya, lebih populer di kampungku di pelosok Tasikmalaya adalah Dangdut. Tasikmalaya terkenal dengan artis-artis Dangdut yang kesohor muncul di TV. Dapat dikatakan, bukan orang Tasik namanya kalau tak suka Dangdut.

Makanya sejak kecil aku nge-fans banget pada artis cilik bernama Abiem Ngesti yang saat itu ngetop dengan Pangeran Dangdut-nya. Sampai di rumah nenek—karena aku tinggal di nenekku—aku berkreasi sendiri menggunting kertas tak terpakai membuat aksara yang menyusun nama Abiem Ngesti.

Huruf-hurufnya besar dan kutempel di bilik bambu rumah nenekku. Sepertinya aku bangga sekali dengan hasil kreasiku. Dan itu sering dibaca pamanku. Bila saat ini remaja dan pemuda memajang poster idolanya cukup dengan membeli, tapi aku berkreasi sendiri. Persamaannya sama-sama berjiwa haus keteladanan.

Semakin kesini barulah tahu oh begini suara falsnya bang Iwan. Sebenarnya dulu juga terkesan dengan lagunya O Ea Eo (Orang Pinggiran) bersama Franky. Videoklip lagunya sering banget diputar di TVRI. Hampir setiap malam begitu kutonton TV muncul lagi lagu itu. Dan para pemuda kampung sorak sorai lagu kesukaannya muncul.

Dan sekarang terpaut lagi pada subjek yang berkait erat dengan Iwan Fals. Sebagai mahasiswa tentunya tidak klop kalau tidak suka lagu-lagunya Iwan Fals. Entahlah aku suka pada lagu-lagunya apakah karena sebagai mahasiswa, karena lirik lagunya yang universal dan enak didengar, ataukah karena seseorang.

Yang pasti jalan-jalan ke Cililin begitu mengasyikan. Enak banget rasanya kami makan ada yang menyediakan. Nanti kalau aku sudah beristri pasti bakal ada yang menghidangkan makan. Sambil makan penuh kemesraan, dan saling nasihat menasihati dalam keimanan dan kesabaran.

Segala permasalahan pribadi dan keluarga kecilku bisa diselesaikan oleh berdua. Sehingga akan ada tempat menumpahkan kasih sayang dalam membina keimanan. Tapi menurut orang justru setelah menikah lebih banyak permasalahan dan ujian. Mungkin sedikit ada benarnya, hanya tergantung sang pelaku menafsirkan.

Kata mereka menikah jangan dilihat enaknya saja. Ada yang bilang lebih baik singel, jadi bebas kemana-mana. Kalau menurutku segala permasalahan kehidupan sama saja antara belum menikah dengan sesudah menikah. Semuanya perlu direspon dengan syukur dan sabar. Kedua itulah solusinya. Menikah penuh masalah, tidak menikah bermasalah juga, jadi lebih baik menikah.

Katanya bahkan godaan perempuan akan lebih besar setelah menikah, jika dibandingkan masih bujangan. Kalau lagi bujangan gak bisa menahan pandangan, apalagi itu setelah menikah akan lebih sulit menahannya karena sudah pernah merasakan. Kalau masih singel tak begitu banyak membandingkan diantara para perempuan. Karena dipikirnya sudah syukur sudah mendapatkan kasih perempuan.

Tapi setelah menikah, sering menganggap rumput tetangga seperti lebih indah. Perempuan milik mereka kenapa cantiknya begitu menggoda, sementara istrinya bau anyir dan kusut muka. Tidak seperti saat bujangan sering muncul tidak percaya pada diri. Maka setelah menikah dengan kepercayaan diri yang besar, karena sebelumnya sudah mampu membuat bertekuk lutut perempuan yang menjadi istrinya, kini kian percaya diri dan dianggapnya mampu lagi menaklukan perempuan.

Itu tergantung orangnya juga. Apakah bosenan atau tidak. Sementara aku termasuk orang yang selalu ingin hal-hal baru. Apakah nanti bakal begitu juga dalam pernikahan. Tidak. Aku melakukan hal-hal baru hanya dalam hal-hal positif. Aku berikrar sebagai lelaki setia dan tidak mau mengikuti hawa nafsu belaka. Memang ini janji ketika masih bujangan dan belum mendapatkan pasangan.

Nuansa Cililin ternyata begini. Hari ini aku dan Veri diajak renang di tempat yang katanya dekat sekali ke rumah Sinta, adik kelas kami kuliah yang cukup berseri. Pemilik wajah manis dan putih itu orang Cililin. Pengalaman yang menyenangkan, karena sudah lama banget aku tidak renang. Inginnya menginap lagi di Yedi, tapi ada tugas yang harus segera diselesaikan. Dengan berat hati kesenangan bertamasya harus ditinggalkan.

Sekitar jam lima sore kami pun pamitan dan diberi oleh-oleh Wajit. Pulang naik bis Madonna dan di jalan aku bercerita tentang kehidupanku pada Veri. Tidak apa-apa ini bukan menceritakan kekeluhan, tapi bisa dijadikan hikmah.

Seperti halnya berangkat, pulangnya pun menjelang malam. Aku tidak begitu jelas melihat alam sekeliling jalan. Sialnya bis Madonna yang kami tumpangi, bukan yang lewat tol. Dan itupun tidak sampai ke terminal Leuwipanjang.

Kami turun di Elang dan beruntung masih ada Damri Elang Jatinangor. Sampai di Cibiru sekitar jam delapan dan begitu turun di bunderan Cibiru Veri pulang ke Ujungberung, sementara aku mampir dulu ke kosan Uly Ajnihatin. Sekalian mau meminta fotokopi tugas Marketing.

Setengahnya wajit aku berikan padanya. Apa karena ada maksud tertentu, karena sayangku padanya sebagai kawan, ataukah sayang yang seperti apa padanya. Apakah aku benar-benar suka dan telah jatuh cinta? Memang adalah hal wajar. Tapi apakah dia memiliki ketertarikan. Aku malah jadi kangen pada kakak sepupunya, Mbak Ulfa. Sudah lama aku gak bertemu bak seorang kakak. Mbak Ulfa apa kabar?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori