Oleh: Kyan | 25/05/2005

Bumi Manusia

Pram - Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer – Bumi Manusia – Lentera Dipantara

Buku ini sempat dilarang beredar. Karena penguasa diktator yang membuat mulut bicara harus dibungkam dan gerakan bebas harus dihentikan. Dan rasa-rasanya ingin aku seperti seorang Minke. Ia cerdas, suka menulis, dan cakap sekali sebagai lelaki yang suka menggoda perempuan. Minke yang membuat Annelis, puteri Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh bertekuk lutut di hadapannya. Membaca novel ini aku mendapat angin kesegaran baru, spirit perjuangan untuk selalu memperjuangkan persamaan, kebebasan dan kemerdekaan, semboyan revolusi Prancis.

Membaca roman ini menegangkan, bahkan aku dibikin marah karena ulah peradilan kolonial. Seolah-olah cerita ini benar tentang realita hidup zaman kolonial Hindia Belanda. Tapi benar di mana-mana kolonial itu selalu menindas dan memeras.

Tapi apakah dunia ini akan lepas dari peras-memeras? Kaum pendatang seringkali menghabiskan harta kekayaan negeri yang didatanginya, sampai tak kebagian penduduk aslinya. Tapi itu alamiah, asalkan cara mendapatkannya dengan etika yang benar bernama kerjasama yang saling menguntungkan dan berkeadilan.

Namun pertentangan kepentingan, perbedaan sudut pandang bisa mengeruhkan kesepakatan. Manusia beda. Tapi dalam diri manusia bukankah ada cahaya persaudaraan. Tidakkah di antara kita terdapat potensi untuk mencintai dan menyayangi saudaranya. Apalagi seorang pribumi harus menjadi tuan bagi negerinya. Tentu pribumi yang giat bekerja, bukan yang berleha-leha membiarkan kekayaan negerinya terus-menerus dikuras dan yang tersisa hanya dedaknya.

Aku akan bangga seandainya aku jadi seorang penulis. Betul aku ingin jadi penulis. Menulis untuk mengisi kehidupan, bukan untuk menyambung kehidupan. Menjadi penulis memang tak semudah membalikkan telapak tangan, cespleng. Tapi harus membiasakan diri seperti seorang penulis besar.

Aku mendapatkan kosakata baru dari roman ini. Aku menjadi tahu lika-liku sejarah “Nasion Indonesia”. Bumi yang kuinjak ini telah berdiri dalam rentang perjalanan sejarah penguasa-penguasa yang entah itu merakyat atau mendazalimi. Bumi ini penggalan sorga, yang konon—masih asumsi, hal yang belum diyakini kebenarannya—bahwa inilah tanah sisa-sisa peradaban Atlantis yang tenggelam sebagaimana cerita Plato.

Informasi dari naskah Yunani bahwa nun di tanah seberang ada peradaban adiluhung yang katanya tempatnya di sini, di tempat pertemuan lempengan Eurasia. Atlantis yang tenggelam akibat letusan gunung-gunung yang meletus bersamaan. Lalu kemudian abad berikut berdiri kerajaan maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang sekarang, abad-abad selanjutnya berdiri kerajaan Majapahit di Trowulan, lalu berdiri Mataram Islam, kemudian berdirilah Republik.

Apakah saatnya NKRI runtuh? Digantikan dengan nama lain? Negara kelima seperti judul novel karya Es Ito? Filsuf berkata sesiapa yang tak belajar dari perjalanan seribu tahun, ia tak berakal. Di setiap zaman selalu ada bentuk kezaliman dan ketidakadilan dalam berbagai bentuk. Kupikir di zaman ini pun ada bentuk kezaliman tersamar. Aku melihat masih terpisah jurang antara golongan kaya dan miskin, yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin, sampai sangat miskin alias fakir.

Dalam Islam ada konsep zakat dan Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia. tapi Islam dianut sekedar formal, hanya simbol. Islam selalu dikumandangkan, tapi Islam sejatinya pembela rasional dan keadilan tak pernah benar-benar diperjuangkan. Islam hanya di permukaan, sementara di batinnya masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Karena meyakini ada pengadilan di akhirat, sehingga tak sungguh-sungguh memperjuangkan keadilan di dunia saat ini.

Tapi aku harus mulai dari mana dan bagaimana memperjuangkan keadilan. Sampai saat ini orang-orang pribumi masih nunduk-nunduk dan merangkak-rangkak di hadapan Amerika-Eropa. Kupikir keadaan tak berubah antara dulu dan sekarang. Hanya rupanya yang berbeda. Zaman yang berbeda hanya cara dan perkakasnya saja. Tetap saja masih terjadi penindasan yang disengaja maupun tidak antara manusia satu dengan manusia lainnya.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori