Oleh: Kyan | 28/05/2005

Andaikan Dengan Cintaku

Sabtu, 28 Mei 2005

Andaikan Dengan Cintaku

**

Tak ada satupun dosen yang masuk hari ini. Beginilah kalau kuliah, banyak waktu senggangnya. Buatku sangat merugikan dan harus membuatku bila gak ada dosen tetaplah aku harus belajar. Belajar harus terus berjalan. Karena kuliah memakai sistem SKS.

Kalau sudah di kampus biasanya boro-boro ingin belajar, yang ada cuma mengobrol saja yang tidak ada habisnya. Bisa bermanfaat asalkan tema pembcaraannnya berkualitas. Aku yang harus mengerahkan pembicaran mereka supaya temanya tidak itu-itu saja. Tidak sekedar soal perempuan melulu.

Yakinkah aku kalau dia jadi istriku nanti. Sejak dini sudah omong-omong soal pernikahan. Aku ingin mendapat istri yang sempurna. Dia yang cantik luar dan dalam. Segi fisik tinggi semampai, berkulit putih, hidung mancung, berwawasan luas, dan tidak kampungan. Tidak kampungan maksudku boleh saja orang kampung tapi tidak kampungan. Karena percuma saja orang kota, tapi sikapnya seperti kampungan.

Maksud kampungan adalah berwawasan sempit, tidak berpandangan jauh ke depan, mengerti bagaimana memberi kasih sayang kepada anak dan mendidiknya dengan baik. Mulai dari sekarang aku ingin belajar bagaimana membentuk dan membina rumah tangga sakinah. Diperlukan ilmu lewat mengikuti kajian keluarga sakinah, membaca buku tentang pernikahan, ceramah keluarga, dan kursus pranikah.

Apakah aku berpikir sudah terlalu jauh? Aku rasa tidak ada salahnya mulai dari sekarang memikirkan bagaimana pernikahan. Menjelang usia duapuluhlima tahun, tiga tahun lagi sudah ancang-ancang menikah. Adalah waktu sebentar menunggu waktu tiga tahun itu.

Tapi aku ingin melanjutkan kuliah ke jenjang Sarjana. Aku ingin melanjutkan kuliah di Malaysia. Apakah setelah lulus dari D3 MKS, lalu bekerja setahun—itu juga kalau langsung bekerja—setelah itu baru menikah. Tapi bagaimana dengan dua kakakku yang keduanya belum juga menikah. Mereka juga sama belum berumah tangga. Padahal mereka sudah pada tua.

Aku harus menikah segera mungkin. Daripada ditahan mudaratnya bakal lebih banyak. Tentang calonnya siapa, yang penting aku berusaha untuk menjadi suami ideal. Kalau aku sempurna pasti bakal mudah mendapatkan istri sempurna. Kalau aku serba kekurangan setidaknya aku meraih yang sepadan.

Sabtu ada ujian Manajemen Keuangan. Soalnya kayaknya berhitung. Aku harus belajar segera mungkin. Makanya setelah menulis catatan ini harus langsung belajar. Tapi aku ingin bercerita dulu. Dengan segala gundahku tak dapat kuceritaan pada orang lain, jadi tertuang pada catatan harian.

Karena orang lain pun pasti dihadapkan pada masalahnya sendiri-sendiri. Justru aku sebagai cowok harus tegar dan bisa mengayomi perempuan. Aku siap jadi tempat curhatan mereka, ku siap mendengarkan keluh kesah mereka. Bukankah aku harus bermanfaat bagi yang lain. Aku tida boleh cengeng dan tidak sabar ketika ditimpa banyak ujian.

Jalani saja hidup ini dengan bergatung hanya pada-Nya. Aku pasrah hanya kepada-Nya. Tak ada kekuatan dari selain-Nya. Dengan hidupku sering kesepian dan kegundahan, jauh dari sanak saudara, kepada siapa lagi aku bermohon kecuali kepada Allah SWT. Tuhan Maha Menyaksikan.

Ingin aku berbagi cerita dengannya. Mungkinkah dia sudah tahu bahwa aku kurang kasih sayang. Tumpuan harapan dari segi materi cuma dari ibu. Kalau bapakku entah dimana. Aku tidak benci mereka, tapi biarlah hidup ini berjalan bagaikan air mengalir dari pancaran sinar Ilahi.

Di lantai depan daun pintu kamarku, tergeletak catatanku. Mungkin tadi Angel Wings datang ke kosanku mengantarkan fotokopi catatanku. Mungkin dia tidak tahu aku hanya ke masjid saja untuk menunaikan salat Isya berjamaah. Mungkin dia sejak tadi menungguku di depan kosanku. Tadinya aku mau ke kosannya, karena lama menunggu ia yang malah datang ke kosanku.

Akhir-akhir ini aku selalu ingat padanya yang entah kenapa. Setahun sudah berjalannya waktu aku bisa mengenalnya. Mungkin sudah tumbuh benih-benih asmara. Itu perasaan yang wajar. Mungkinkah aku mencintai dia. Aku tidak dapat menapikan perasaan ini. Apkah aku perlu mengungkapkannya. Tidak perlu. Yang penting sekarang mengungkapkan lewat perbuatan.

Malam ini aku harus belajar. Sekarang sudah jam sembilan malam. Nilai-nilai UTS harus meraih nilai bagus. Aku tidak boleh terkalahkah oleh yang lain. Tapi akupun harus berhenti sejenak ketika malam minggu aku ingin seperti mereka.

Sekarang malam minggu, itu tahu semuanya. “Berkesan gak malam ini?” bisiknya padaku. Biasanya kalau malam minggu yang lain pada main dengan teman perempuannya. Buatku malam ini sama saja dibanding hari-hari lain. Cuma kadang aku merasa kesepian kalau melewatkannya sendiri dan bahkan iri jika ada teman-teman yang pacaran.

Kubilang, “Kayaknya asyik deh bisa pacaran seperti mereka. Minimal kalau tidak bisa bertemu di malam minggu, bisasemalaman saling kirim sms”. Tapi handphone aku tak punya. Ingin sekali punya hape biar aku bisa komunikasi dengan teman dan bisa memberi perhatian pada mereka.

Melewati malam minggu, kuhabiskan dengan membaca buku “Jadi Pembiacara Dahsyat”. Kata isi buku bahwa dalam setiap hari ucapkan kata pujian dan penghargaan untuk teman lewat kertas post-it. Mungkin hal kecil tapi sangat berarti bagi yang terpuji. Bisakah aku melakukannya? Nanti kalau pergi kuliah mau kucoba. Aku juga mau mengirim email untuk teman-teman lamaku. Aku kangen pada mereka semua.

Saat ini juga aku kangen padanya. Kalau punya hape pasti aku sms mereka. Kapan aku punya hape lagi. Liburan semester dua aku mau mencari kerja saja. Apa mesti ke Batam atau di Bandung saja. Keinginanku banyak sekali. Ingin punya hape, mau membeli monitor, kasur, dan semua yang dapat kubeli.

Semuanya meminta pada Allah saja. Nanti aku pun mau bilang, aku lagi jatuh cinta, yang padahal aku tidak mengundangnya. Datang dengan sendirinya kenapa sih, apa kelebihan dia sampai aku jatuh hati padanya. Di setiap saat selalu teringat dia.

Biarlah perasaan ini merasuk ke dalam jiwa ini. Apakah aku harus mengungkapkannya. Ungkapkan saja lewat perbuatan, kata mereka. Aku ingin membuat puisi untuknya. Wanita yang kuharapkan adalah perempuan yang gaul. Maksudnya ia tahu segalanya, tapi kalau bicara denganku dia dapat memahami maksudku. Dan begitupun aku dapat memahami jalan pikirannya. Karena kata buku perempuan sangat berbeda dengan laki-laki, bahkan keduanya saling bertolak belakang. Tapi kan sama-sama manusia.

Dia bilang kalau jodoh gak bakal kemana. Kenapa sih harus jatuh cinta. Itu hal yang wajar cinta, tapi sangat menyiksa jiwaku. Bukankah cinta ini sebuah kekuatan yang bisa mengubah segalanya. Melihat dari tatapan mata, gerak-geriknya, sikapnya dia menampakkan ia suka padaku.

Biarlah semuanya berjalan seiring dengan waktu. Keraguanku apakah dia juga merasakan seperti ini saat ini kurasakan? Aku manusia, dia manusia. Hanya pada Tuhan semuanya kembali. Meminta hanya pada-Nya, baik sedikit ataupun banyak.

Sebentar lagi mau UAS. Aku sudah mendapatkan apa di usiaku yang semakin dewasa ini. Menginjak usia seperti ini sudah seharusnya menghasilkan sebuah karya. Karyaku apa sekarang ini. Aku ingin jadi penyair, filosof, ekonom, dan semuanya. Belajar membuat puisi bagaimana?

Tahukah kamu betapa jiwa ini tersiksa karenamu. Sudut jiwaku hanya kaulah yang ada. Seolah aku melembut ke dalam sukmamu. Ada bintang gemerlapan menyapaku. Seolah-olah dia tahu bahwa aku sedang terpenjara. Kaki tangan jiwaku tak bisa bergerak. Sudut ruangan penuh dengan cahayamu.

Saat seperti ini apakah kamu merasakan belenggu hasrat cinta. Kau anak manusia yang lahir ke dunia untuk menjemputku dalam meraih harapan dan impian bersama. Kau tercipta untukku, hanya untukku. Kita sudah terikat sejak alam sukma menuju buana. Kau tak bisa lari kemanapun kau pergi. Disitulah aku selalu menunggumu, di sebuah tempat berpayung rindu. Aku menunggu luruhnya hatimu.

Andaikan aku hanya dekat selama tiga tahun, lantas setelah lulus apakah hubunganku dengannya akan putus sudah? Aku tak mau kehilangan dia. Rencana dia setelah lulus mungkin melanjutkan karir di Mihdan Co. Ia pasti masih ingin di Bandung, karena itu yang pernah terucap darinya. Tapi cita-cita dia di negeri orang ingin mencari ilmu yang nanti mengamalkannya di kampung halamannya.

Aku jadi teringat pada satu teman SD-ku yang juga cita-citanya sama. Dalam satu pertemuan ketika balik kampung, dia ingin mengoptimalkan kampung halamannya. Aku jadi kangen dengan tempat kelahiran sendiri. Sementara aku ingin terus mengembara. Meskipun aku selalu rindu kampung halaman, aku mesti pulang kemana, keluargaku tak dimana-mana.

Sepertinya nanti kalau menikah pasti bakal mengikut istri. Istri orang Jawa bakal ke Jawa, istriku orang Mandura aku akan ke Madura atau ke Sumatera. Aku ingin melanglang buana ke Amerika, Pakistan atau Malaysia. Aku ingin mendapat jodoh di sana. Tapi sekarang sudah jatuh cinta.

Berlebihankah keinginan menikah dengan orang luar negeri. Percampuran itu baik, demi perbaikan keturunan katanya. Aku ingin menikah dengan orang yang mencintaiku apa-adanya. Terimalah dia sepenuh hati. Ketika aku menikah ingin aku mencurahkan kasih sayang padanya. Apakah aku siap menerima kekurangannya. Semua orang pasti punya kekurangan, dan itulah yang dinikahi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori