Oleh: Kyan | 29/05/2005

Nuansa Persahabatan dan Cinta

Minggu, 29 Mei 2005

Nuansa Persahabatan dan Cinta

**

Aku baru saja pulang dari kosan Angel Wings jam sembilan malam. Mengambil fotokopi makalah. Ketika hendak ke toilet, di ruang tamu asrama banyak anak-anak asrama berkumpul. Rupanya mereka sedang seru menonton, dan akupun tergoda juga ingin menonton tayangan film Jomblo. Nonton bareng sampai barusan jam setengah sebelas. Setelah itu barulah aku masuk kamar dan menulis.

Memang sudah lama aku gak menonton TV. Setelah film seri Jomblo, acaranya dilanjut grand final audisi pelawak API di TPI. Apa yang kudapatkan setelah sekian lama tak menonton televisi. Kulihat iklan-iklan sudah pada berani mengumbar dada dan selangkangan.

Ketika SMA bersama teman kontrakan sering menonton bersama. Suksesnya “Ngelaba” yang dibintangi trio: Parto, Akri dan Eko. Mereka konsisten dari tahun 1995 sampai sekarang. Dalam cerita trio ini mengajukan proposal ke TPI, untuk membuat program Ngelaba. Dan suksesnya sampai sekarang.

Jadi, kalau ingin sesuatu berhasil, mesti konsisten dalam proses menjalaninya. Tetap bertahan walau diterjang badai rintangan. Harus pula mahir membuat proposal. Proposal yang bagus tidak sekedar teknik dalam penulisan, tapi lewat persentasi gagasan di depan audien. Suguhkan dengan bantuan Microsoft Powerpoint.

Hari Minggu adalah hari refreshing. Aku seharian di kamar kosku yang diselingi sebentar pergi ke kosan Angel Wings. Disibukkan dengan membaca buku dan akhirnya malah tertidur dari jam setengah tiga sampai jam lima lebih. Tiga jam aku tertidur. Mau konsentrasi baca buku malah ngantuk.

Sebelumnya dari jam sepuluh sampai Duhur kudengarkan ceramah Aa Gym di MQFM. Beliau menyinggung soal ambak, apa manfaatnya bagiku yang sebelumnya itu pernah kubaca di buku Quantum Learning-nya Debbi Porter. Dikatakan dasarnya motivasi adalah memberi harapan. Kita melakukan hal apapun karena ada harapan. Dengan adanya harapan, akan bertambah wawasan dan pengalaman.

Begitupun dengan seni berbicara. Lakukan terus, latihan saja terus. Hari ini apa ada sesuatu yang mengganjal. Apa ada waktu terbuang sia-sia. Mungkin tadi siang tidurnya kelamaan. Ketika saat-saat ingin mencurahkan pikiran dan perasaanku, munculah seuntai nama yang menyusup.

Di malam ini aku kangen padanya. Ketika bertemu nanti apakah aku akan bisa menunjukkan rasa sayangku padanya. Aku harus membuat keadaan biasa saja, jangan ada yang dibuat-buat. Selama ini aku belum memberi sesuatu padanya. Sebagai tanda persahabatan, atau untuk memelihara persahabatan adalah dengan saling memberi hadiah. Lantas kesukaan dia aku belum mengetahuinya. Tadi siang dia bercerita main ke Tegallega, dan membeli aquarium yang kini sudah terpajang di pojok kamarnya.

Aku tadi seperti memojokkan dia. Karena mencari-cari fotokopi makalah lama banget. Kubilang kan belajar sudah manajemen. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kupikir bila tidak ada kopinya, nanti Kamis takut bakal gagal persentasinya. Sementara bahan-bahan kuliah belum aku kuasai. Mesti dipelajari terus.

Kalau ada waktu luang inginnya aku membaca buku tafsir daripada belajar mata kuliah. Entah kenapa mempelajari materi mata kuliah kadang malas. Tapi membaca tafsir pun kadang diakhiri kantuk yang menyerang. Kebaikan godaannya gede. Ingin baca buku kecil saja biar cepat tamat. Nanti mau beli buku tentang keluarga sakinah. Tentang bagaimana membangun keluarga kompak. Aku harus mempersiapkannya dari sekarang.

Inginnya sekarang aku membaca buku, tapi malam sudah semakin larut. Nanti kalau bergadang terus, muncul lagi jerawat. Tapi kukatakan aku bahagia hari ini. Apa yang telah terjadi aku serahkan pada Allah. Aku ridha dengan keadaan sekarang. Bila merasa jauh dari sanak saudara, karena jalan takdir sudah begini. Aku cuma memiliki sahabat yang bisa mendengarkan segala asaku. Akulah yang harus memberi kasih dan sayang pada mereka.

Sudah lama aku tidak salat Tahajud. Dia bercerita biasa tidur jam sembilan dan bangun jam tiga pagi. Aku ingin seperti begitu dapat menikmati keheningan dini hari. Tapi selalu saja aku bangun kesiangan.

Besok pagi aku harus lari pagi. Malam ini ingin sekali aku salat Tahajud. Kalau bangun sebelum Subuh terasa damai jiwaku. Hidup adalah pilihan. Aku memilih hidup bahagia bersama orang-orang tercinta. Aku senang bisa bertemu dengannya hari ini. Meskipun tak begitu lama.

Ya Allah berilah aku kekuatan untuk bisa salat Tahajud. Sudah lama—tapi belum sampai sebulan—aku tidak bisa salat Tahajud. Aku harus bermanfaat bagi orang lain. Hari ini aku merasa pada sikapku tadi padanya dan kata-kataku mungkin membikin dia kesal pula. Hari ini sampai saat ini aku tidak benci siapa-siapa. Aku tidak punya dendam terhadap siapapun. Kalau berbicara dengan orang lain sebutlah namanya yang terindah menurutnya. Pujilah dengan tulus.

Apakah selama ini aku selalu memotong permbicaraan orang lain? Aku tiak boleh mengatakan anda salah. Ketika orang lain berbicara, kadang kita tidak sadar untuk menyangkal, memotong atau memojokkan. Aku harus memperlihatkan muka ceria, tak membuang muka ketika berhadapan dengan lawan bicara. Hargailah pendapatnya. Jangan gampang menyangkal dan memotong pembicarannya. Jangan bikin sakit hati orang pada intinya.

Jangan sampai omongan yang keluar dari mulutku membuat orang lain sakit hati. Aku harus meminta maaf pada mereka. Aku harus memelihara persahabatan. Dengan memberi perhatian lewat memberi hadiah, menyempatkan waktu bersamanya, melakukan sesuatu bersamanya, akan muncul saling merasa dan memiliki. Itu adalah harapanku menjalani hidup ini. Aku mau membuat surat untuk mereka.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori