Oleh: Kyan | 31/05/2005

Pay Tompel, Penghuni Misterius

Selasa, 31 Mei 2005

Pay Tompel, Penghuni Misterius

**

Hari terakhir bulan Mei apa yang kudapatkan di bulan ini. Apakah aku semakin baik atau sebaliknya? Apakah aku semakin malas belajar ataukah semakin menumbuh jatuh cinta paanya. Hari ini adalah hari bebas rokok sedunia.

Ingat terus dengan hari Kamis mau persentasi. Aku tidak tahu bagaimana aku persiapannya. Inginnya mengerjakan yang lain terus. Hari ini ada dua buah surat yang datang. Dari ibuku dan Ahad-Net.

Alhamdulillah ibuku sudah mengirim uang Rp 250.000,- tapi yang Rp. 100.000,- buat kakakku. Jadi aku mesti ke rumah kakakku di Garut. Dari surat kedua cuma info insentif bahwa bulan April aku mendapat Rp.3.200,- Semenjak pulang dari Batam aku sudah jarang belanja ke Ahad-Net. Jika sekarang belanja yang penting-penting saja, seperti sabun pencuci. Mau memasarkan obat Habbatussauda, peminatnya belum kenal lebih jauh tentang produk Ahad-Net. Aku harus belanja bulan ini.

Aku pasrah saja pada Allah. Semua makhluk berada dalam genggaman-Nya. Akhirnya aku jadi membeli monitor Rp. 150.000,- dari Pay Tompel. Dia bilang kalau membeli baru Rp.800.000,- Tapi kutawar yang asalnya Rp.300.000 menjadi seharga Rp. 150.000,- Hanya katanya jangan sekarang diambilnya. Takut anak-anak pada tahu dan aku mau saja menyepakatinya.

Begitu aku main ke kamarnya lagi, segala peralatan sudah dipak, persiapan mau pulang. Aku khawatir jangan-jangan dia menipuku. Aku mesti waspada. Walaupun dari cerita dia, aku dianggapnya orang dipercaya—karena sama-sama orang Batam. Aku harus berpikir positif.

Katanya baru padaku saja dia bercerita tentang dirinya. Dia menyuruhku menyimpan rahasia dirinya. Bahwa sebenarnya dia tinggal disini adalah intel dari kesatuan Kopassus Marinir Batam. Katanya dia lagi mengintel sekolah Krida di Cipadung. Jauh-jauh dari Batam cuma untuk itu dia datang?

Sebelumnya dia sering bilang katanya dia korban narkoba dan disini sedang menenangkan diri, mau sekolah sepulang pesantren di Abah Anom Tasikmalaya. Jadi dia percaya padaku karena ada banyak tempat yang berkaitan denganku. Batam dan Tasikmalaya. Tambahnya lagi dia sedang  menunggu ijazah mau mendaftar Koramil.

Aku jadi bingung sebenarnnya dia siapa. Tadi dia bilang seorang intel dari Batam, ada permasalahan apa dengan sekolah Krida Nusantara yang bercorak militer itu. Aku percaya saja, tapi waspada. Yang aku khawatirkan adalah dia bohong. Mungkin ada hikmahnya aku tidak boleh gampang berprasangka buruk. Namun aku tetap waspada dan mencari solusi. Aku bertawakal dan ridha terhadap apa yang telah, dan akan terjadi padaku.

Aku khawatir jangan-jangan aku kena tipu olehnya. Rasa khawatirku mereda selepas Maghrib dia tiba di Asrama. Karena siang tak kulihat batang hidungnya di asrama. Katanya malam ini dia mau berangkat. Nanti jam pagi aku harus bangun untuk mengambil monitor dari kamarnya. Ya Allah, bangunkanlah aku ketika Tompel memanggil-manggilku. Sekarang sudah jam sebelas, aku belum tidur. Aku berserah pada Allah saja. Dia bilang berangkatnya mau dijemput mobil oleh saudaranya.

Begitu saatnya tiba, akupun bersyukur bisa terbangunkan oleh panggilan dia. Kulihat dia mengenakan seragam militer membawa ransel dan barang-barang. Barulah kuambil monitor yang sudah kubayar seharga Rp 150.000,- kemarin pagi.

Setelah dia memberiku alamat dan nomor telepon rumahnya, dia pun berangkat bersama temannya yang katanya juga orang Batam. Aku dikenalkan padanya dan berpesan kalau ke Batam lagi aku disuruh main ke rumahnya di Bengkong Dalam. Nama temannya adalah Angga, akuannya juga seorang polisi intelegen.

Kami bersalaman dan menyaksikan mobil yang mereka tumpangi melaju di jalan Desa Cipadung. Hanya aku penghuni asrama yang menyaksikan dia berangkat pulang. Kunci kamarnya dia serahkan padaku dan ada banyak barang yang dia tinggalkan di kamarnya. Ada sarung, gayung, ember jolang, sabun, handuk, celana pendek, bahkan celanda dalam.

Dia bilang sisa semua isi kamar silakan ambil. Tapi nanti aku harus menelepon dia mau meminta izin dulu apakah mau dipakai lagi atau tidak dengan handuk dan sarungnya. Aku simpan saja dan jangan dulu dipakai sebelum meminta izin. Sebuah anugerah dari Allah bisa kuperoleh barang-barang berharga.

Lalu kubereskan kamarnya sambil mengumpulkan barang-barang yang tersisa. Begitulah sedikit cerita penghuni misterius di asrama Kurnia. Sebelumnya aku merasa curiga dan belum begitu yakin apakah dia benar seorang intelejen. Tapi aku sangat senang bisa kenal dengan orang seperti dia. Semoga Allah membalas segala amal baik dia padaku. Aku berhutang budi padanya. Aku bersyukur tak terkira.

**

Hari ini aku main ke Bapusda. Di sana ada layanan internet gratis tapi, tapi komputernya cuma satu. Setelah antri, aku pun punya kesempatan untuk mencobanya berselancar. Kubuka situs penerbit Mizan. Salah satu yang kudapatkan katanya Rasulullah memelihara ayam putih. Sempat membuka situs Paramadina. Kuliah di sana ternyata biayanya mahal sekali. Pasti orang-orang kaya yang bisa kuliah disana.

Aku mendapat pelajaran bahwa supaya terbiasa menulis harus sering mengirim surat. Aku mau menulis surat untuk memberi dan menanyakan kabar terkini para sahabatku. Mukmin yang baik adalah yang menyambungkan tali silaturahim. Terutama menghubungkan kembali ikatan-ikatan yang terputus. Tapi kenapa aku kemarin bermimpi mendapat kiriman hape n-Gage dari ibuku. Ada pertanda apa ya? Ah itu cuma sekedar mimpi karena ada kawan yang punya handphone begitu.

Kubaca koran Republika dan majalah Sabili. Membahas soal pornografi dan pornoaksi yang sekarang sedang menjadi isu publik. Mereka mengatakan ketika perempuan dijadikan komoditi, direndahkan, kemana para lelakinya. Ketika perempuan terbuka auratnya, sementara keluarganya hanya berdiam saja dan malah bangga karenanya. Sebagai anggora keluarganya, pamannya, bibinya, sepupunya, dan semua anggota keluarganya harus bertanggung jawab bila salah satu anggotanya terjerumus pornografi pornoaksi.

Munculnya isu gender adalah akibat kaum wanita terdzalimi oleh kedigjayan laki-laki. Muncul karena dalam kurun sejarah tertentu peran perempuan dihilangkan. Dimana hampir di seluruh tempat peradaban berdiri kokoh budaya patriarki. Justru kehadiran Islam bukan untuk merendahkan kaum perempuan, justru menyelamatkan martabatnya yang kian tergerus perannya baik di ranah domestik dan publik.

Ketika Rasul menerima pesan Ilahi, di jazirah arab kedudukan perempuan sudah direndahkan, mungkin seperti halnya zaman kini yang telah menjadikannya komoditi perdagangan dan bisnis perdagingan. Jika Islam dikatakan merendahkan perempuan, pemahaman Islamnya saja yang sempit.

Sudah jelas Islam mengatakan bahwa yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah derajat ketakwaannya. Siapapun baik laki-laki atau perempuan yang sanggup berbuat dan menebar kebaikan di muka bumi ini, dialah yang paling tinggi derajatnya di mata Tuhan. Hanya memang ada ayat-ayat Alquran yang dipelintir untuk melegitimasi budaya patriarki.

Di koran yang kubaca tadi aku mendapat tiga istilah baru, teosofi, technosofi dan libidosofy. Teosofi adalah unsur-unsur ketuhanan yang tercermin dalam kehidupan, yang terealisasi pada simbol-simbol. Technosofi adalah ketika teknologi sudah bisa membuktikan hal-hal diluar akal manusia. Disini sudah ada manusia mulai mengunggulkan teknologi. Selain alam realitas, ada pula alam virtual atau artifisial.

Sedangkan Libidosofi adalah ketika manusia mentuhankan hawa nafsunya, yaitu termasuk mentuhankan teknologi. Maksudnya ketika teknologi telah mengendalikan manusia, bukan manusia yang mengendalikan teknologi. Ketika manusia telah terkungkung oleh rutinitas akan rentan Libidosofi. Bahaya teknologi akan menghilangkan unsur-unsur kemanusiaan, dehumanisasi.

Sehubungan dengan hari bebas rokok sedunia, hari bebas tembakau, aku sering dibuat kesal banget kalau ada orang merokok di tempat umum. Yang namanya sudah kecanduan, memang susah dihilangkan. Mereka harus diberi pemahaman dengan hikmah. Aku tidak boleh bertindak arogan, reaktif terhadap si perokok.

Tapi harus santun dan proaktif serta mengedepankan nilai-nilai islami. Aku lebih baik menghindari perdebatan. Kalau terpaksa berdebat juga harus dengan bernada lembut dan minta izin dulu, bolehkah aku menyangkal. Bolehkah aku berpendapat? Boleh aku meluruskan?

Hari-hariku hanya ingin membaca dan menulis. Mempelajari makalah Manajemen Kredit yang nanti mau persentasi di hari Kamis. Aku belum mempelajarinya secara mendalam. Belum juga mencari bahan-bahan buat makalah SIM. Tadi ke perpustakaan yang seharusnya mencari bahan kuliah, ini malah surfing internet mumpung gratisan, dan membaca koran dan buku lain.

Biarin saja atuh, semua ini adalah keinginanku. Aku tak mau terkungkung oleh ini-itu. Apakah aku terjangkiti gejala skizoprina, tidak ingin terbatasi oleh berbagai aturan moral dan sosial? Kebebasan yang bagaimanakah menurut Islam?

Habis Ashar aku ikut rapat Muamalah. Rapatnya dipimping kang Rusli. Mendengar gaya bicaranya bagus sekali, mengalir begitu saja. Kalau aku disuruh bicara begitu, bukan aku tak berani tapi bingung mencari kata-kata yang pas. Tentang bagaimana merangkai kata memang memerlukan latihan. Diperlukan banyak latihan. Aku ingin tahu istilah-istlah ilmiah. Back-up artinya dukungan, memback-up artinya mendukung adalah satu contoh.

Mungkin aku saja yang merasa jadi kambing conge. Sudah diberi kesampatan buat mengungkapkan pendapat, aku tak berbicara apa-apa. Karena belum pada kenal saja pada mereka. Berbeda kalau dengan Veri, dia sudah banyak kenal mereka. Aku tidak boleh iri, ngapaian mesti iri pada mereka.

Aku juga mempunyai berbagai kelebihan. Aku banyak kenal dengan orang-orang lintas fakultas. Setiap di jalan selalu saja ada yang menyapa. Sampai Veri pun berkomentar, “Teman kamu banyak sekali”. Banyak yang aku kenal karena aku terbuka pada mereka. Sering mengobrol dan menyapa walaupun mereka tidak menyapaku. Akulah yang proaktif. Aku harus sering banyak aktif di organisasi untuk mencoba bersuara.

Aku ingin aktif di LDM. Aku tidak boleh sombong. Janganlah aku merasa tinggi dan merasa punya banyak ilmu. Mentang-mentang banyak buku, tapi aku harus rendah hati. Sebenarnya aku tidak tahu apa-apa. Biarlah dihina tidak tahu apa-apa. Jadilah pendengar aktif, dan jangan memotong pembicaraan orang lain.

Aku harus memahami perasan dan pkiran orang lain. Aku tidak boleh menampakkan wajah kusut dan musam. Aku harus selalu tersenyum pada setiap orang. Aku harus percaya diri. Aku punya kelebihan, mereka pun punya kelebihan. Setiap orang pasti punya kelebihan dan keunikan tersendiri.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori