Oleh: Kyan | 05/06/2005

Mencret di Swiss van Java

Minggu, 05 Juni 2005

Mencret di Swiss van Java

**

Komputer bermasalah lagi. Tapi setelah diutak-atik menjadi bagus lagi. Pagi-pagi aku masak mie buat sarapan. Ternyata kuliah Sabtu pada gak ada dosennya, kecuali Fiqh Perbankan yang membahas akad Fasid dan akad Batil, Riswah (suap) Maisir (judi) Gharar (spekulasi), dan Akra (paksaan). Sepertinya catatan kuliahku mesti diulang mencatatnya, biar tulisannya rapi dan enak dibaca.

Tugas Komputer Bisnis belum kukerjakan, begitupun tugas SIM masih mencari-cari bahannya. Komputer sesudah bagus menjadi masalah lagi. Tadi setelah pulang kuliah aku coba nyalakan, ternyata tidak menyala lagi monitornya. Padahal waktu tadi pagi sudah bagus. Selalu datang lagi masalah demi masalah. Hidup memang penuh masalah. Aku harus menyikapinya dengan penuh sabar.

Aku hendak ke rumah kakakku di Garut. Sabtu sore aku berangkat dan sampai di Garut Leles jam delapan. Karena malam minggu jalanan macet banyak yang weekend. Di bis kusempatkan membaca buku tentang Iqbal. Tapi hanya sebentar karena penerangannya tidak cukup buat membaca.

Beliau seorang pemikir dan penyair. Apa yang kudapatkan dan bagaimana pendapatnya tentang Tuhan dan keindahan. Baginya Tuhan adalah keabadian dan Tuhan sendiri yang mampu menjelaskannya. Dan lewat seni lah kebangkitan Timur adalah mungkin. Guru spiritual Iqbal adalah Rumi, maka aku pun ingin membaca tentang pemikiran Rumi. Katanya lagi, waktu diidentikan dengan Tuhan. Hanya dengan cinta, dengan seni, keabadian bisa dicapai.

Semalam di Garut, aku mulai merasakan sakit perut. Sudah bolak-balik ke WC. Selalu saja setiap kali ke Garut selalu dijangkiti mencret. Karena mencret, yang bilang aku makin kurus banyak sekali. Diantaranya adalah kakakku, Mbak Ulfa, dan Lia. Kupandang badanku di cermin, memang aku makin kurus.

Bagaimana cara menggemukan badan. Aku harus melepaskan beban hidup. Ungkapkan segala pekara yang mengganjal. Buang semua ketakutan dan kegundahan. Semua perkara yang mengganjal harus dibersihkan. Semua ketakutan dan kegundahan harus dibuang.

Dan penuhi keinginan hatimu. Bahwa aku bebas dan lepas. Katakan dan ungkapkan kepadanya bahwa sayang padanya. Tidak berjumpa sehari sewindu. Rasa rindu yang menggebu, niscaya tersembuhkan oleh suara lembut suara yang merdu.

Keinginanku sejak beberapa bulan lalu ingin membeli spekar. Kapan ada pemeran komputer lagi aku mau membelinya. Kayaknya sebenar lagi dan sejak sekarang aku bisa mengumpulkan uang. Tapi aku ingin beli kasur busa. Aku pasti mampu membelinya asal keinginanku kuat.

Ternyata mencretku tak berlanjut, alhamdulillah. Jadi aku tenang akhirnya, selama di Garut bisa melupakan kesibukan kuliah di Bandung. Saat ini aku ingin menulis saja. Dan pikiranku melayang merambah pada segala keinginan dan harapan. Kuhitung-hitung sudah berapa lamakah kakakku menikah dan tinggal di Garut.

Sangat sering aku aku ke Garut. Garut yang sering menjadi rumah kepulanganku. Bahkan sering berbulan-bulan tinggal di rumah kakakku ini. Disamping sangat mengenakan, karena ketika ingin makan sudah tersedia, juga alam Garut memang hangat-hangat dingin. Garut memang terkenal dengan Swiss van Java, tempat plesiran yang kesohor di pulau Jawa di abad sembilanbelas, dan mungkin sampai sekarang.

Tapi sebenarnya jarang sekali aku keluar rumah sekedar mengecap lekuk-lekuk kemolekan Swiss van Java. Meski sesekali aku ikut kakakku menjual ayam ke pasar—kakak iparku seorang pemborong bangunan. Tapi sewaktu kondisi dilanda krisis, proyekan tidak ada, maka kakakku mencoba usaha beternak ayam.

Entah dalam kepulanganku yang keberapa, aku diajak kakakku main ke Garut kotanya, sekalian mengambil uang di ATM. Ada kiriman dari ibu di Batam. Ternyata si ayam dijualnya ke pasar yang lokasinya dekat stasiun—aku sudah familiar dengan bangunan stasiun—entah nama pasarnya apa. Mungkin pasar stasiun atau pasar Guntur.

Stasiun Garut di zamannya adalah katalisator pertumbuhan Garut menjadi ramai. Kudengar stasiun ini berada di ketinggian 1.200 meter dpl. Hal ini menempatkan stasiun garut adalah stasiun tertinggi di Indonesia.

Karena ingat pada komputerku masih belum bagus, aku harus kembali ke Bandung. Sampai di bandung sekitar jam delapan malam. Aku makan dulu sambil mendengarkan nasyid In-Team, Kasih-Kekasih. Lalu ada lirik Disinilah Kita, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai…

Aku langsung mengutak-atik lagi komputer. Sampai jam setengah sebelas masih belum beres. Mungkin harus konsultasi pada ahlinya. Belum kulihat lagi Bang Epul di kamarnya. Bang Epul termasuk penghuni asrama yang paling jago komputer. Kamarnya ada di ujung dekat toilet. Dan tadi sepertinya dia lewat kamarku. Padahal langsung saja bilang minta dibetulkan komputer.

Tugas masih pada belum selesai. Komputer Bisnis dan SIM belum merangkum. Besok aku tak boleh keman-mana. Aku harus fokus menyelesaikan tugas. Khususnya tugas Komputer Bisnis. Sebentar lagi mau UAS. Aku harus konsentrasi belajar.

Membaca tafsir pastkan hanya lima lembar saja sehari. Waktu luang sempatkan buat membaca buku-buku kuliah. Nilai ujianku harus kuperbaiki. IP-ku harus paling tinggi lagi. Aku mampu dan pasti bisa. Kesempatan masih terbuka lebar. Aku harus menyempatkan waktu buat belajar secara optimal.

Mau hampir setahun aku kuliah di Manajemen Keuangan Syariah, lantas apa yang telah kudapatkan. Demi waktu setahun itu kebiasan menulis sudah berjalan lancar. Membaca perhari sudah kusempatkan. Cuma membaca buku teksbook kuliah terasa malas. Seperti tidak berselera pada bahan-bahan kuliah.

Mungkin karena ada paksaan bahwa aku kuliah di MKS, maka adalah kewajiban belajar bahan-bahan keuangan syariah. Sementara membaca buku yang lain adalah dorongan dari dalam. Padahal aku sudah memutuskan kuliah di MKS, aku harus memfokuskan diri pada semua bidang-bidang MKS. Tapi membaca tafsir itu adalah tuntutan hidup. Alquran adalah pedoman hidup.

Mungkin waktuku banyak terbuang dengan jalan-jalan menunggu dosen masuk kuliah. Semua itu menyita waktuku. Banyak yang sudah membuat buku. Sedangkan aku belum bisa. Ini baru satu setengah tahun aku menulis catatan harian.

Walaupun sudah banyak membaca buku, aku tak boleh terburu-buru menulis buku. Ini aku baru belajar menulis catatan harian. Pokoknya suatu saat aku akan menerbitkan buku. Aku harus bekerja keras dari sekarang. Supaya nanti di hari tua tinggal menuainya.

Pikiranku masih fokus pada keinginanku ingin membeli kasur, speaker, hape, dan alat-alat komputer. Prioritas sekarang antara beli kasur dan speaker. Aku harus mulai menabung. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi. Aku mau menempelkan agenda hidupku di dinding, tapi takut dibaca orang. Jagi bagaimana ya, biarlah semua orang tahu bahwa aku akan mendapatkan apa-apa yang telah aku cita-citakan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori