Oleh: Kyan | 09/06/2005

Kepada Ayu: Dari Satu Kosan Menuju Kosan

Kamis, 09 Juni 2005

Kepada Ayu: Dari Satu Kosan Menuju Kosan

**

Printer kembali bermasalah dan terpaksa harus dibawa ke Kandaga. Aku merasa bersalah karena tidak konsisten dengan janjiku. Aku telah mendahulukan kepentingan pribadi dan bisnisku, daripada kepentingan kelas. Gara-gara aku pergi duluan, anak-anak MKS tidak jadi datang ke Asuransi Takaful.

Aku sudah melimpahkan amanah ke Reza dan Sani. Mereka berdua malah sama pergi duluan, yang akhirnya anggota yang tersisa pada kebingungan. Aku juga lupa tidak memberi tahu Uly Ajnihatin bahwa jam sepuluh ada kunjungan ke Asuransi Takaful. Kukira dia sudah tahu. Salahku tidak croscek. Lagian sejak hari Jum’at sampai hari ini aku belum bertemu dengannya lagi. Makanya petang hari aku pergi ke kosannya.

Begitu kususuri jalan sempit menuju kosannya itu, di sana malah ketemu Ayu. Karena itu kesempatan, kubilang saja padanya bahwa aku mau ketemu Ayu. Aku kangen ke Ayu. Meskipun dia tahu kunjunganku adalah ke Uly. Berhubung Uly belum pulang, kami mengobrol saja dengannya, ditemani Siti.

Bertiga kami mengobrol tentang segala hal. Dari cara bicara mereka, aku terkagum-kagum dengan kata-katanya yang memikat, mengalir dan penuh hikmah. Mungkin dalam obrolan aku sering banyak mendengarkan. Tapi entah kalau sedang berbincang mesra dengan seseorang.

Kata Aa Gym tak usahlah segala sesuatu dikeluarkan lewat mulut kita. Kita berbicara karena diperlukan. Kalau gak usah dikomentari, kenapa mesti dikomentari. Biarlah mereka bicara dan ketika mau bicara minta izin dulu untuk menyanggah.

Tapi aku suka minder melihat orang lain lancar saat berbicara, bisa ‘capetang’ ketika ketika mengungkapkan pendapat dan gagasannya. Mungkin pembawaanku yang pendiam akhirnya banyak mendengarkan. Ditambah ada ungkapan ‘diam itu emas’. Akhinya aku banyak diam dan mendengarkan mereka.

Karena ada rasa tanggung jawab untuk memberi tahu kawan-kawan kelas bahwa besok jam tujuh berkumpul mau datang lagi ke Asuransi, aku pamit pulang pada Ayu dan Siti. Aku hanya menitipkan pesan buat Uly bahwa besok jam tujuh berkumpul di kampus mau ke Asuransi. Meskipun sebenarnya masih enjoy mengobrol antara aku, Ayu, dan Siti.

Dilanjutkan bertandang ke kosan beberapa teman perempuan. Berjalan sendirian menyusuri jalan Manisi menuju kosan Ai—Siti Nuraeni dan Ucum—Siti Sumaeroh. Pada mereka aku meminta maaf karena tidak jadi pergi ke Asuransi. Dan persinggahan terakhir adalah kosan Lia dan Eka.

Karena kunjungan pamungkas, jadi lebih lama di kosan Lia. Padaku dia bercerita tentang dia dan calon suaminya itu. Bahwa pengorbanannya begitu besar mulai dari materi, waktu dan segalanya diberikan untuknya. Mendengarnya aku jadi terpana. Apakah aku sudah melakukan pengorbanan sebesar itu untuk merebut perhatian seorang wanita?

Ceweknya saja belum ada. Meskipun belum punya pacar, berkorban untuk siapa saja karena Tuhan. Jadikan setiap orang seperti pacar. Aku harus berbuat banyak terhadap siapapun. Berbuat baik minimal senyuman dengan tulus dalam wajah ceria penuh pesona.

 

 

Hari sudah malam dan akupun pulang. Sampai di kosan mengerjakan tugas SIM sampai jam dua malam. Waktu deadline-nya besok. Padahal sudah dua minggu tugas SIM tidak kelar-kelar. Kenapa aku selalu mengerjakannya kalau menjelang mau dikumpulkan.

Sebenarnya aku mengerjakan tugas itu sejak dua minggu lalu, tapi kenapa gak rampung-rampung? Mungkin karena berpikiran nanti dan nanti dirampungkannya. Nanti juga selesai akhirnya sudah menjadi pikiran dan kebiasaan.

Memiliki pikiran kalau kepepet, baru bermunculan ide-ide untuk dituliskan. Kalau tidak kepepet suka buntu apa yang mesti dahulu dikerjakan. Nanti tugas berikutnya jangan sampai ditunda-tunda lagi dan harus selesai minimal sehari sebelum dikumpulkan. Karena mengerjakan tugas sampai larut malam, akhirnya salat subuh kesiangan.

Ya Allah aku sekarang lagi Futur. Keimananku lagi turun dan terus menurun. Malas pergi ke masjid. Barusan saja salat Maghrib dan Isya tidak pergi ke masjid. Alasannya karena lagi ada tamu yang mau mengeprint. Isya tanggung mau memback-up cd. Kenapa aku semakin hari semakin buruk.

Tadi pagi seharusnya kumpul jam tujuh. Malah ngaret sampai jam 7.20. Sanni marah-marah karena aku sendiri yang janji tapi tidak konsisten jam tujuh. Aku memang salah. Tadi sih mesti makan dulu. Tadinya mau segera pergi, cuma tanggung sudah pesan bubur ayam.

Tapi syukurlah sampai di Asuransi Takaful jam sembilan pas. Di kantor asuransi sampai jam duabelas. Aku berprakata ungkapan terima kasih dan mohon maaf karena keterlambatan waktu. Berterima kasih karena sudah menerima kami untuk kunjungan lapangan.

Mungkin aku sanggup berbicara karena didorong sama Uly Ajnihatin. Berarti dia bisa mensupportku. Lagian sejak dulu kalau disuruh ngomong sama cewek, tiba-tiba saja muncul kekuatan. Aku harus terus berlatih berbicara di depan umum. Suatu saat aku dapat berbicara di depan ribuan pendengar.

Segala omonganku dapat dimengerti dan setiap patah kata yang keluar dari mulutku mengandung ribuan makna yang dalam. Berkharisma, shopisticated bak syair-syair lagu Iwan Fals. Aku fasih berbicara dan untaian kalimat terasa mengesankan bagi orang yang mendengarnya.

Tadinya kami mau naik ke Mercucuar Masjid Agung, eh Uly malah pulang duluan. Dia pulang cepet karena sakit katanya. Orang yang disayangi harus dijaga, apalagi kalau sakit. Besok harus ditanya bagaimana sudah sembuh belum sakitnya dan sudah minum obat belum. Sepatah kata sebagai bentuk perhatian saja mungkin tidak berlebihan.

Pulang dan mampir ke warung untuk membeli beras. Dikira murah eh ternyata malah lebih mahal. Toh sudah jadi, ridhakanlah![]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori