Oleh: Kyan | 11/06/2005

Karena Otak Mumet

Sabtu, 11 Juni 2005

Karena Otak Mumet

**

Malam minggu. Barusan aku baru pulang dari kosan Angel Wings. Sebelumnya aku sudah menelepon dia beberapa kali buat memastikan ada gaknya dia di kosan. Aku sungkan kalau pas ke sana orangnya sedang tidak ada. Makanya aku ke kosan Wati, meminta diantar ke sana. Ternyata dia mau mengantarku ke kosan Angel Wings.

“Makasih ya, sudah mau mengantarku. Apakah ini apel malam minggu? Gak tahu tuh. Aku hanya butuh ke kosan dia mau mengambil cd Holy Quran. Cuma alasan saja kali ada keperluan. Ada maksud dibalik selimut.

Sewaktu mengobrol diantara kami bertiga, kusinggung kosan berdua adalah belajar memahami orang lain sebagai sesama satu kamar. Begitu juga nanti kalau suami istri akan terbiasa memahami orang lain dengan sekamar. Eh malah dia minta ganti topik pembicaraan. Wajar saja kan aku bilang begitu.

Wati bicara begini, “menurutku justru lebih bagus sudah dari sekarang persiapan menikah. Mulai sekarang mencari ilmunya. Biar nanti menjadi istri dan suami yang baik.”  Rupanya pandagan dia belum ke arah situ. Ia belum mau berpikir soal pernikahan. Ngomongin pacaran saja dia benci.

Tapi esensi pacaran dia mau. Bagiku pacaran dengan persahabatan sama saja. Asalkan jangan dibuntuti perzinahan saja. Tapi mana ada pacaran jaman sekarang tanpa peluk cium. Tapi itu soal lain. Tanpa persahabatan akan bisa membunuh fitrah manusia. Dalam persahabatan untuk dapat bermanfaat antara satu dengan yang lain. Untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, harus selalu lebih baik antara hari ini dan kemarin.

Lalu dia bercerita tentang teman kerjanya yang malam-malam pergi sendirian. Perasaann temannya seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Mendengar itu tidak tahu kenapa aku langsung bilang,”Makanya kalau keluar harus dengan muhrimnya. Paling tidak ada yang melindungi. Setidaknya dengan muhrim ada jaminan aman.

Jawaban dia, “Kok jawabannya selalu kesana sih”, dengan suara agak meninggi.

“Emang jawabanku salah? Emang bener kan wanita perlu berhati-hati. Itu kan hadis yang bicara, bukan kata saya,” kujawab setenang mungkin. Kutambahkan lagi, “Bukan berarti aku selalu menyingung ke hal-hal pernikahan. Tapi ini bicara syariat, aturan Allah.” Tidak tahu kenapa kata-kataku begitu menggebu untuk menyangkal.

Ia hanya bisa diam. Bersamanya selalu saja muncul perdebatan, yang aku pun tak faham. Bukannya hubungan pria wanita adalah untuk bersenang-senang. Sedikit-sedikit muncul marahku.

Mungkin karena sudah beberapa kali aku bangun kesiangan terus. Tidurnya terlalu malam jadi membuat otakku mumet. Hari tadi saja bisa bangun jam empat pagi, eh malah tertidur lagi. Dasar godaan syaitan terkutuk.

Otak mumet ditambah karena matakuliah Marketing malah membikin tegang. UAS-nya mau studi kasus, dibawa ke rumah alias take home. Karena soalnya memakai bahasa Inggris. Dosen memakai buku Manajemen Pemasaran-nya Philip Kotler edisi Inggris. Untuk dapat menjawab soal, kami harus membeli edisi Indonesia-nya. Meskipun bukunya tebal terpaksa harus membeli bukunya. Hanya satu soal, tapi jawabannya harus diketik dan memakai bahasa Inggris, itu yang membuatku tegang.

Masalah lain mau mengeprint, printernya ngadat lagi. Baru Rabu kemarin kuservice ke Kandaga, sekarang sudah rusak lagi. Kemarin problemnya karena kabel pemutarnya putus. Kata tukang service mungkin gara-gara masuk tikus. Masa di kamarku ada tikus.

Rupanya problem sekarang pun sama. Hanya putus di tempat lain dan sekarang tidak bisa lagi ditambal. Tapi harus membeli tali baru seharga empatpuluh ribu. Sudah tiga kali berturut-turut ke Kandaga dalam seminggu ini.

Jadi semuanya menghabiskan tujuhpuluh ribu dalam seminggu buat service printer. Gara-gara printer rusak, pemasukan seminggu nihil. Rencana mau membeli EDO-RAM seharga seratus ribu tak jadi. Kalau pun uangnya cukup, lebih baik membeli motherboard. Ingin kupunya dua komputer supaya penghasilan rentalnya bertambah.  

Salat Jum’at di sekitar Kandaga. Ibadah di masjid daerah asing seperti ada yang berbeda. Ribet dengan membawa ransel dan takut sepatuku dicuri. Setelah itu mau mengambil uang di ATM BNI, disana sudah penuh orang mengantri.

Tapi disana aku bertemu Hari, anak jurusan PAI. Dia yang kukenal di bimbel Furistif. Dia adalah tetangganya Pak Anton, ketua jurusanku. Rumahnya satu komplek katanya.

Pulang dan mampir ke warung kampus, di sana banyak teman-teman yang kukenal. Kuberanikan mensosialisasikan kartu Syar-E. Barangkali diantara mereka ada yang tertarik dengan produk yang kutawarkan. Sekedar berusaha menambah penghasilan.

Memang dengan masalah yang ada, masalah akan selalu datang. Yang membuatku pusing ketika masalah harus mengeluarkan uang. Tadinya jika kupunya uang mau ditabung buat membeli kasur dan alat-alat komputer, mau menyicil merakit komputer. Karena Agustus nanti mau ada pameran komputer.

Tapi aku sering tidak tahan dengan uang yang kupegang. Sering akhirnya uang habis buat membeli buku. Membeli buku menghabiskan Rp 90.000,- di bulan ini. Dipikirnya alokasi buat makan nanti saja. Dipikirnya mendingan dibelikan buku atau apapun kalau tersedia uang. Soal makan kan ada penghasilan dari rentalan komputer.

Kutekadkan nanti kalau ibuku mengirim uang lagi mau buat membeli kasur saja. Tabungan Syar-E saldonya tinggal empatpuluh ribu. Nanti Juli mau window shopping ke Tazkia. Katanya bakal menghabiskan Rp 150.000,- Aku harus punya uang Rp 200.000,- buat persiapan.

Rencana pengeluaran bulan Agustus ada pameran buku, September bakal habis masa kontrakan. Selalu mengandalkan uang dari ibu saja. Sudah gede masih meminta uang. Aku tak pernah meminta tapi ibuku yang sebelum diminta sudah mengirimku uang. Bukti kasih ibu pada anaknya. Jikapun harus meminta tak pernah menentukan besarnya. Sedikasihnya saja berapapun.

Liburan dua bulan aku harus magang kerja biar bisa membeli hape. Semuanya menyangkut dengan uang. Tanpa alat tukar itu sudah memenuhi kebutuhan dan keinginan. Tapi kebahagiaan bisa diraih bukan dengan uang saja. Uang banyak belum tentu bahagia. Sedikit uang belum tentu sengsara. Damai hanya di hati.

Kembalikan semuanya pada Allah. Memang episode kehidupan sedang begitu, sedang selalu kesulitan dengan uang, suatu saat akan banyak uang dan itu episode perjalanan kehidupan juga. Nikmati saja setiap episode kehidupan ini. Ridhalah pada semuanya!

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori