Oleh: Kyan | 19/06/2005

Kabar Dari Hati Untuk Air Mata Membatu

Senin, 19 Juni 2005

Kabar Dari Hati Untuk Air Mata Membatu

**

Aku bersyukur pada Tuhan, karena hari ini aku sehat. Terutama jerawatku sudah sembuh sekarang. Ini sebuah anugerah Tuhan telah diberikan kesembuhan dari momok menakutkan dan mendegradasi kepercayaan diri. Suka stress hanya gara-gara satu bintik jerawat muka yang cakep ini. Suka minder kalau jerawat terus bermunculan.

Kalau melihat oang lain berwajah bersih, punya hape, punya cewek, punya keluarga harmonis dan punya segalanya bagaimana aku tidak minder dan keder. Suka minder oleh berbagai kelebihan-kelebihan mereka.. Mungkin inilah sifat iri dengki yang bercokol dalam hati. Aku tidak boleh iri terhadap siapapun. Aku juga punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Aku yakin punya sesuatu yang dapat diunggulkan. Karena syaitan yang selalu menggoda manusia.

Aku mempunyai kelebihan tersendiri dan pasti ada orang yang mencintaiku sepenuh hati. Aku yakin sudah ada orangnya, namun entah dimana dan sekarang dimana berada kuserahkan pada Tuhan untuk bersabar menunggu saatnya tiba. Semoga saja dia bisa menjaga diri dan segera aku segera dipertemukannya.

Duhai adindaku, jagalah dirimu!

Kumerasa terwakili, Robbi sudah mengirim pesan kepadanya, untuk mengungkapkan segala perasaannya. Padahal Robbi cuma bercanda. Jawaban dia sangat bijak. Mungkin dia sebelum memberi jawaban, dia konsultasi dulu ke temen-temennya. Walaupun secara eksplisit dia tidak memberi jawaban pasti. Namun secara implisit dia mencintaiku. Dia suka padaku meskipun aku tidak dapat membuktikannya. Karena cinta bukan untuk dijelaskan tapi dirasakan.

Dia ingin tetap berkomitmen pada tujuan awal. Ia ingin berjuang untuk keluarga dan agama dan belum memikirkan ke arah itu. Karena perasaan mencintai dan ingin dicintai adalah fitrah. Kita tidak akan bisa membunuh fitrah itu. Fitrah ingin kembali pada asal, yaitu Tuhan.

Mencintai sesama, mencintai lawan jenis, mencintai unsur material, sekaligus spiritual. Aku akan menjalani kehidupan ini dengan lapang dada. Biarlah air kehidupan mengalir menuju muara sebagaimana hukum kehidupan yang bersatu di samudera kasih-Nya. Aku menjalankan syariat, berusaha untuk mendapatkannya secara sungguh-sungguh untuk dia bersama menjalani lika-liku hidup ini. Inilah hidup.

Kepalaku terasa pening. Apakah gara-gara kurang tidur, atau karena banyak pikiran yang tidak aku kendalikan. Seminggu lagi mau UAS, aku harus belajar optimal. Aku harus bersungguh-sungguh. Jika haslinya tidak memuaskan berarti prosesnya tidak optimal. Hasil adalah cermin dari proses. Berproses karena Allah. Jangan karena IP, penilaian manusia yang relatif. Mau kecil ataupun besar adalah bergantung perjuangannya.

Selama seminggu ke depan, aku tidak boleh kemana-mana. Tidak boleh membaca buku-buku umum. Pending dulu segala aktivitas yang tidak mendukung pada UAS. Selama tiga bulan bahkan enam bulan, perasaanku seingatku belum mereview pelajaran kuliah. Aku sibuk apa sih. Kalau ada waktu luang biasanya kugunakan untuk menulis dan membaca buku. Terutama buku tafsir, tasawuf, dan filsafat.

Karena itu yang menarik simpatiku. Aku tak boleh menyalahkan unsur-unsur luar. Seperti temen kelasku pada datang ke kosan, pulang satu datang yang lain. Apalagi sekarang kosanku berdua dengan Robbi. Hidup tidak akan bisa lepas dari sosialisasi.

Itulah hidup manusia yang tidak akan mendapatkan penyelesaian terbaik, kecuali manusia harus berasosiasi membentuk wadah perkumpulan dan paguyuban. Namun ada saat-saat untuk sendiri di tempat keheningan dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan lewat berkontemplasi atau beruzlah sepekan, halnya seperti kaum sufi. Menghilangkan kepenatan dan kekalutan hidup untuk menghimpun kembali kekuatan.

Rencana kawan-kawan kelas mau pada kemping nanti setelah UAS. Masuk kuliah sehari lagi. Hari terakhir kuliah Manajemen Operasi dan terakhir pula bertemu bidadari yang kusayangi itu. Seminggu lamanya aku tidak bertemu. Dan baru bertemu lagi di hari ujian nanti, 27 Juni.

Ya Allah berilah aku kemudahan dalam menjalani ujian ini. Hanya Engkaulah yang menjadi tumpuanku. Aku berlindung pada-Mu. Bukankah kasih sayang-Mu begitu besar dan tidak terbatas. Kasih-Mu melebihi kasih sayang ibu terhadap anaknya.

Tolonglah aku ya Rabbi. Aku sungguh mengharap ridha-Mu. Jika kasih sayang-Mu terhalang oleh dosa-dosaku yang semakin hari semakin penuh berlumur dosa yang terus menggupal memenuhi langit dan bumi, kepada siapa lagi aku memohon bimbingan dalam hidup yang kian kalut ini. Aku telah banyak berdosa pada-Mu ya Tuhan. Aku telah mengkhianati janjiku pada-Mu dengan membiarkan diri jatuh pada kubangan dosa.

Tapi bukankah ia juga ciptaan-Mu. Keindahan-Mu. Aku mencintai dia karena aku mencintai-Mu. Mencintai dia sebagai jalan menuju-Mu. Bukankah Engkau menyuruh hamba mencintai makhluk-makhluk-Mu. Bila hamba salah dalam perasaan ini, ampunilah dosa-dosaku. Hanya Engkau yang bisa mengampuniku, bukan yang lain. Tak ada yang lain selain diri-Mu. Selain kepada-Mu kepada siapa lagi aku bermohon.

Ampuni hamba ya Rabbi. Aku tidak bisa meneteskan air mata karena airmataku sudah sangat membeku, mengeras membatu. Hanya Engkaulah yang bisa melunakan kembali hatiku. Engkaulah yang memberi rasa cinta ini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori