Oleh: Kyan | 21/06/2005

Cinta Yang Tersamar dan Menepi

Selasa, 21 Juni 2005

Cinta Yang Tersamar dan Menepi

**

Tadinya aku mau ikut acara baksos dengan anak jurusan Muamalah. Tapi aku sudah janji dengan teh Ima yang sedang menyusun skripsi dan sangat butuh bantuan orang lain. Kasihan aku padanya, soalnya tak ada yang membantunya. Aku harus membantu dia. Barang siapa ingin ditolong, maka dia harus menolong. Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Itulah hukum kehidupan. Selagi aku mampu aku harus menolong setiap orang. ketika aku ada kesulitan, Allah mengurus seseorang untuk membantu menyelesaikan permasalahan.

Pertama kali kenal Teh Irma, aku diajak Robbi bertandang alias apel malam mingguan ke kosan Hanni. Hanni satu asrama dengan Teh Ima. Mungkin Robbi percaya dan sering mengutak-atik tugas makalah, maka skripsi bila sekedar mengedit tulisan aku bisa. Bagaimana cara mengetik huruf dan ejaan yang benar sedikitnya aku tahu. Meskipun aku belum pernah menyusun skripsi aku mencoba untuk membantu Teh Ima.

Tapi di sisi lain aku harus belajar buat persiapan UAS. Di sisi lain aku harus membantu orang. Aku makhluk sosial, tapi aku juga makhluk individual. Sampai saat ini tugas teh ima belum rampung. Nanti aku harus ke sana lagi. Hari ini tadinya mau ke Bapusda mengembalikan buku. Seminggu ini aku harus berlajar persiapan UAS. Aku takut nilaiku jatuh. Semoga saja aku mampu mempertahankannya.

Kenapa tiba-tiba aku jadi sedih begini. Gak ada angin gak ada hujan. Apakah karena jawaban dia yang tidak memuaskan perasaanku. Jawabannya samar antara suka dan tidak. Meskipun ya dan tidak sama saja bagiku, namun aku ingin tahu apakah dia benar-benar suka padaku atau tidak.

Aku tidak ingin pacaran, takut terjerumus pada perzinahan tapi sesungguhnya aku butuh jawaban. Jika jawabannya ya aku sangat bersyukur dan bila tidak ‘ampun paralun’. Lantas kapan saatnya tiba aku dapat dicintai oleh seseorang. Padahal aku sudah berusaha mencintainya dan mencintai siapapun. Mengharap balasan dari makhluk-Nya memang kadang menyedihkan. Tapi kalau mengharap dari Tuhan, kasih sayang-Nya begitu luas.

Ya Allah berikan aku sifat ketegaran dalam menempuh hidup ini. Aku ingin mencintai dan dicintai. Karena aku manusia yang butuh cinta. Biarlah apapun balasannya aku akan tetap mencintai sampai ujung waktu. Kalau aku tulus ikhlas, Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya. Allah sesuai persangkaan hamba-Nya. Aku mencintai-Mu, tahukah itu?

Kenapa kamu tidak mengerti juga. Aku akan selalu mencintaimu. Ya Allah engkaulah yang memberi perasaan seperti ini. Ya Allah tabahkanlah hati ini. Satukanlah hati kami dalan menuju jalan-MU. Aku mencintai-Mu, Tuhannnn…

**

Semalam kemarin, Senin malam aku mampir ke kosan dia. Waktu pulang dari teh Ima. kukira aku tak bakalan lagi menginjakkan kaki di kosan dia, ternyata sekarang aku bisa mengecup senyum terkulumnya. Bila kemarin ia sudah menampakkan wajah marah padaku, sekarang ia bertatap mesra. Karena disangkanya aku yang mengirim sms.

Apakah aku harus memberitahu dia bahwa sms itu bukan dariku dan tanpa sepengetahuanku. Bukan aku yang mengirimnya, tapi akupun mau tahu juga bagaimana reaksinya jika dikirimi pesan yang mengungkapkan satu perasaan. Apakah dia akan cek dan ricek, tabayyun atau bagaimanakah dia meresponnya? Apakah ia bertanya apakah informasi itu benar atau palsu, mengatasnamakan diriku, dirinya atau orang lain. Karena kemurkaan sering terjadi akibat salah sangka.

Waktu Senin pagi dia bersikap beda dari biasanya. Apakah itu persangkaanku saja, atau emang begitu keadaannya. Waktu hape dia dibaca oleh Susi, dia langsung mengambilnya. Mungkin takut sms Robbi yang mengatasnamakan aku tentang ungkapan cinta dibaca Susi. Aku akan tetap bersikap biasa saja. Kalau pembicaraanku menarik bagi dia, aku mau bertanya sejak kapan kamu tertarik dengan hal itu. Bukankah alergi dengan satu masalah ini.

“Namun tetap diingat jangan menafikan perasaan kamu. Kita tidak akan bisa membunuh fitrah kita sebagai manusia. Kita bisa mengendalikan hal itu ke dalam hal-hal yang bermanfaat. Makanya aku buat ungkapan, biarlah cinta itu menjadi sebuah kekuatan bagi perubahan duniamu dan duniaku.”

Suatu saat nanti aku akan menulis surat untuknya untuk mengungkapkan segalanya dan sekaligus nasihat-menasihati. Ini adalah sebuah perjalanan hidup. Aku merasakan episode hidup ini. Segala kekakuan, ketakutan, kebahagiaan, kesenangan melerai dalam hidupku. Akan terus melangkah dan mendaki sampai ke ujung senja mencari tahta cinta yang hilang ditelan masa.

Ingat sewaktu SMU, ada teman yang bilang padaku, bahwa aku berpotensi menjadi seorang penyair. Bakat sudah ada tinggal penggalian potensi yang telah ada dan terus berlatih dan berlatih. Aku terus berjalan menelusuri lorong kehidupan. Adakah cinta menyapa, aku harus menemukan cinta sejatiku. Cinta Allah, cinta Rasulullah dan cinta Jihad di jalan-Nya.

**

Lantas aku harus bagaimana? Belajar begitu malas. Inginnya menutak-atik komputer. Tinggal empat hari lagi menuju UAS semester dua. Aku harus tetap mempertahankan idealismeku. Tidak mencontek sekecil apapun bentuknya. Belajar untuk jujur. Tidakkah ingin memiliki sipat kemuliaan diri?

Ingat apa sih aku ini? Tidak punya uang? Kenapa harus sedih? Bersyukurlah hari ini. Meski hidup di Bandung tidak punya sanak keluarga, tapi aku punya banyak sahabat yang siap membantu. Di Cimahi terutama banyak sekali teman-teman SMA yang sebenarnya sangat peduli padaku. Seperti yang dikatakan mereka aku saja yang menghilangkan diri. Memang permasalahannya aku susah menghubung dia. Aku tak punya handphone. Kalau menelpon aku tidak punya uang. Punya uang juga buat makan dan masih banyak lagi kebutuhan.

Monitor masih di tempat service, dan belum belum aku tebus. Kira-kira berapa ya? Dua monitor lagi diservice. Sebenarnya suasana hati sedih begini biasanya pertama karena jerawat. Tapi sekarang mungkin pertama, karena mau UAS dan aku belum siap dan takut IP-ku jatuh. Dan kedua, gara-gara cinta yang tak berujung. Padahal aku yakin cinta itu bisa sampai ke tepian. Kenapa hal-hal seperti ini membuatku gelisah. Masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan dan dikerjakan dengan serius selain hal itu. Aku harus belajar dengan baik. Aku harus sungguh-sungguh menghapal ayat-ayat Alquran dan Hadis Muamalah. Aku harus latihan soal.

Setelah menulis ini aku harus membaca buku bank syariah. Aku ingin mendengar senandung MQ. Tapi membaca buku sambil mendengar radio tak penuh konsentrasi. Aku ingin hidup lepas dan bebas. Kebahagiaan ada di hati. Masalah akan selalu ada sepanjang hayat dan sadar bahwa setiap orang mampu melewatinya.

Ya Allah, sempurnakanlah cahaya bagi kami dan ampunilah dosa-dosa kami. Ya Allah, terangilah hati kami. Berikan kami istri dan anak  yang saleh salehah. Cukupkanlah rezeki bagi kami. Berilah kami ketentraman di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat. Berilah petunjuk menuju jalan-Mu. Ampuni dosa-dosa kami dan dosa orang tua kami. Hamba memohon pada-Mu ya Robbi![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori