Oleh: Kyan | 23/06/2005

Konsep Al-Farabi Mengenai Negara, Bahagia, dan Cinta

Kamis, 23 Juni 2005

Konsep Al-Farabi Mengenai Negara, Bahagia, dan Cinta

**

Pagi-pagi aku pergi ke Cicadas mau mengambil uang buat biaya service monitor. Di Cicadas ada mesin ATM BNI yang bisa mengambil uang pecahan Rp 20.000,- Jadi bisa diambil semuanya saldo tabungan Shar-E. Kucek kartu ATM Muamalat satu lagi. Ibuku belum mengirim uang lagi. Pulangnya aku ke Plaza Komputer, mencari casing monitor.

Casing monitor yang sedang diservice sudah pecah bagian atas dan bawahnya. Akibat komputer terlalu sering dipakai jadi panas yang mengakibatkan casingnya meleleh. Dan ketika suatu kali ngadat monitornya yaitu tiba-tiba mati, karena saking kesalnya aku pukul-pukul monitornya sampai retak. Karena ulahku sendiri dan sekarang sudah kuperoleh casing baru. Mungkin karena monitorku versi jadul jadi sudah ada yang menjual casing monitor meskipun bekas.

Aku pulang saja. Sempat aku salat Duhur dulu di mushala Plaza. Sudah lapar lagi. Di Damri kubaca buku kamus istilah produk perbankan syariah. Aku belum menghapal. Emang bukan menghapal tapi memahami. Padahal aku sudah janji selama seminggu ini, aku tak boleh kemana-mana.

Sampai di Cibiru, aku mampir ke service monitorku, eh belum dibereskan. Aku pulang saja sambil tidur-tiduran sambil mendengarkan senandung MQ. Tak lama kemudian datang dua orang bapak mau merental. Beliau tahu aku buka rental. Aku kenal beliau karena sering bertemu di masjid. Tapi aku gak tahu namanya. Aku grogi karena kondisi kamarku berantakan.

Aku tak bikin spanduk rental komputer karena aku gak pede buka rental komputer dengan ruangan sempit. Tapi aku ingin setiap yang kupunya dapat menghasilkan uang. Bukan berarti aku ini kapitalis, tapi tidak apa-apa cuma sekedar demi sesuap nasi.

**

Tiba-tiba pikiranku melayang pada konsep al-Farabi mengenai bentuk negara. Beliau menulis buku politik berjudul al-Madinah al-Fadhilah. Menurutnya bentuk negara terbagi dalam beberapa bentuk, yakni negara utama, negara jahiliah, fasiq dan sesat. Negara jahiliyah dibagi enam bagian, yang salah satunya adalah bentuk negera demokrasi dan negara yang orientasi manusianya cuma mengejar materi dan kesenangan indrawi.

Demokrasi termasuk jahiliah, karena efek negatifnya lebih besar. Walaupun dengan melalui negara demokrasi, negara utama/ideal bisa tercapai. Negara demokrasi adalah pertama menuju negara utama. Negara utama dipimpin oleh raja-filosof, seorang organisatoris dan pemikir. Tipe kepemimpinan adalah agamawan-cendekia, organisatoris-manajer, dan pembuat opini publik.

Setidaknya itu yang kuperoleh. Aku lebih suka membaca buku filsafat dan tasawuf, dibandingkan buku-buku kuliah. Tapi aku sudah janji selama seminggu ini aku tak akan membuka buku umum. Eh, nyatanya melenceng dari rencana. Kemampuan memanaj waktuku belum bagus. Aku tidak bisa merealisasikan agendaku. Setiap orang punya agenda tersendiri..

Al-Farabi memiliki segala khazaah ilmu pengetahuan teoretis dan praksis. Menurutnya kebahagiaan hanya bisa diraih dalam negera ideal, yaitu negara utama yang dipimpin oleh seseorang yang bersatu dalam dirinya karakter agamawan-cendekia, organisatoris-manajer, dan pembuat opini publik. Ia yang pemerintahannya dipimpin oleh seorang raja filosof. Ia juga menyatakan bahwa kita tidak akan mendapatkan penyelesaian terbaik terhadap masalah, kecuali dengan asosiasi atau organisasi dengan yang lain. Maka diperlukanlah satu perkumpulan, asosiasi, jaringan, dan bentuk paguyuban bentuknya persis dalam organisasi modern.

Raja filosof adalah contonya para nabi atau imam.  Pokoknya ia yang bisa melakukan kontak dengan akal aktif (wahyu atau ilham atau intuisi). Manusia bisa mencapai kesempurnaan adalah ketika bisa kontak dengan akal aktif (malaikat).

Kemampuan manusia terbagi tiga, yaitu ia pemandu-penguasa, penguasa subordinat sekaligus yang dikuasai, dan ia yang dikuasai sepenuhnya. Pemimpin harus memiliki tiga kriteria, yaitu agamawan, organisatoris dan pembuat opini publik.

Sedangkan cinta terbagi dua, cinta natural dan cinta yang dikehendaki. Cinta yang dikehendaki adalah muasalnya cinta natural. Cinta dikehendaki memiliki sifat sukarela dan cinta sukarela terjadi karena berbagi kebajikan, berbagi keuntungan, dan berbagi kesenangan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori