Oleh: Kyan | 27/06/2005

Hari Pertama UAS Semester Dua

Senin, 27 Juni 2005

Hari Pertama UAS Semester Dua

**

Satu hari sudah UAS dilaksanakan. Tadi mata kuliah Fiqh Muamalah. Aku telah gagal mengisi. Aku sudah menuliskan jawaban salah. Pertama karena aku gak hapal ayat-ayat Muamalah. Dulu sih pak Syarif menyuruh menghapal ayat Alquran. Karena aku gak memperdulikan anjuran beliau, akhirnya aku gak bisa menjawab. Kemudian soal ketiga adalah soal hitungan. Aku salah karena keuntunganya tidak dikurangi dulu oleh biaya-biaya. Kenapa aku keliru. Aku ceroboh.

Tapi semua sudah terlewati. Aku harus mempersiapkan untuk hari esok. Semester kemarin mendapat nilai B, apakah sekarang bakal mendapat B lagi. Ingi meraih nilai A di semester dua, perjuangannya sudah final. Percuma mencontek juga bila tetap saja salah mengisi jawaban.

Ya Allah, hanya Engkaulah yang membolak-balikan pikiran hamba-Mu. Engkaulah yang menguasai segalanya. Bukankah aku sudah berusaha membeli buku, belajar mengejar ilmu-Mu. Ya Allah, kabulkanlah aku dapat meraih nilai A. Bukankah Engkau maha pengasih dan penyayang. Bukankah aku sudah menolong orang lain dalam kesusahannya. Aku memohon pada-Mu ya Rabbi.

Baiklah aku mau lebih sungguh-sungguh lagi untuk persiapan besok. Tinggal mengisi soal-soal yang sudah diberikan. Apa susahnya ya Allah berilah hamba kemudahan diantara kesedihan yang selalu datang menghampiriku. Aku belum persiapan aku harus sungguh-sungguh belajar hari ini.

Aku sudah tidak punya uang, kecuali uang recehan. Bayangkan hanya empatratus perak ada di saku celana. Waktu hari Sabtu, kupinjam uang ke Dian Rp 20.000,- habis buat makan dan menghandel fotokopi surat KBMP MKS. Aku harus berkorban. Besok baru dibayar. Aku tidak boleh banyak bermain, aku harus sungguh-sungguh.

Tapi malah tadi pergi dan pinjam buku dari Bapusda. Apakah bakal dibaca, sementara ujian sampai Kamis depan. Tidaklah apa mengembalikannya di hari Sabtu. Soalnya Senin mau ke Tazkia. Aku harus ikut karena ini pengalaman yang jarang terjadi. Kalau aku yakin bisa, pasti bisa. Semua tergantung keyakinan.

Meskipun masa ujian, aku tidak bisa meninggalkan main ke perpustakaan. Aku biasa rutin ke perpustakaan dua minggu sekali. Tadi kubaca koran, yang kudapatkan dari Republika ada artikel tentang hermeneutika sebagai pengganti tafsir terhadap Alquran. Melihat dari sejarahnya metode hermeneutika itu impor dari Barat. Mereka menggunakan metode ini terhadap bibel. Kata ‘heurme’ berasal dari nama Hermes. Hermes dianggap sebagai wakil tuhan yang diturunkan ke bumi untuk membawa pesan Tuhan. Hermes ini diyakini sebagai nabis Idris dalam sejarah versi Islam.

Metode ini katanya mengkritisi ayat-ayat dibalik makna ayat tersebut. Bagus, tapi kadang dengan rasa curiga. Memang karakter sebagian orang Barat selalu curiga dalam berbagai hal. Ada hermeneutika objektif ada juga subjektif. Katanya Alquran selama ini ditafsirkan dengan tradisi Arab. Apakah Alquran bisa dikolaborasikan dengan tradisi lokal?

Katanya kita harus melihat sisi-sisi universal Islam. Kemudian apakah sisi universal Islam atau ayat-ayat Alquran bisa disinkronkan dengan tradisi Indonesia, yang menurut Gusdur mesti ada pribumisasi Islam.

Tapi bahaya metode hermeneutika terhadap Alquran adalah tidak mensakralkan lagi ayat-ayatnya. Padahal Alquran adalah kitab wahyu dari Allah. Sebagian orang mengakui sebagai muslim, Islam harus dibela, menjadi pejuang Allah. Sebagian lainnya bilang Islam tak perlu pembelaan, Allah tak butuh pembelaan makhluk-Nya. Biar Islam yang membela sendiri, biar Alquran menjadi pembelanya sendiri. Memang, asalkan para intelektual Barat dan kita objektif dalam mengukur kebenaran.

Sebagiannya lagi bilang jika tidak setuju dengan metode impor itu, kepada para ulama harus ditantang supaya bisa menghasilkan karya tafsir Alquran yang bisa memuaskan dahaga kaum intelektual muda. Bisa menyingkap maksud Alquran yang sebenarnya sebagai pedoman untuk menghadapi zaman.

Kemudian Republika mendapatkan Syariah Award untuk kategori penghargaan khusus, karena Republika sudah mensosialisasikan ekonomi syariah. Ada pula berita film terbaru judulnya Gie. Kisah hidup Sok Hok Gie berdasarkan catatan hariannya. Gie diperankan oleh Nicholas Saputra. Ada juga film Kingdom oh Heaven yang mengisahkan perang Salib di Jerusalem.

Aku penasaran ingin menonton kedua film ini. Di perpustakaan kupinjam buku novel Harry Potter 1, Musahshi, dan Lorong Midaq-nya Naguib Machfudz. Apalagi yang kuikat dari Bapusda?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori