Oleh: Kyan | 29/06/2005

Berbicara Cinta Dengan Perempuan Jawa

Rabu, 29 Juni 2005

Berbicara Cinta Dengan Perempuan Jawa

**

Perempuan Jawa itu.. Bolehkah berbicara cinta, duhai manisku?

Di kamarku mulai ada kasur pemberian Teh Ima, anak jurusan AS—Ahwal Al-Syakhsiyah yang tulisan skripsinya kubantu mengeditnya. Dia baru saja dia lulus Munaqasah dengan nilai cumlaude. Aku membantu dia mengedit skripsinya sampai beberapa malam, hampir setiap hari berkunjung ke kosannya, bahkan pernah sampai jam sebelas malam di kosannya demi memberikan bantuan. Dan sebagai balas budinya aku diwarisi kasurnya. Karena di kamarku belum ada. Tadinya sudah merencanakan mau membeli kasur, sekarang sudah ada. Alhamdulillah.

Menghadapi UAS matakuliah MSDM ujiannya openbook. Jadi ada sedikit keringanan. Tapi tetap saja tidak optimal mengisinya. Karena asyik berimajinasi mencurahkan gagasan ke dalam tulisan, tahu-tahu waktunya sudah habis. Ada saja nomor jawaban yang kuisi tidak lengkap.

Makanya mulai besok aku harus membawa jam beker, karena jam tangan gak kupunya. Ternyata jamnya kadang error, sering ngaco jarum jamnya. Mentang-mentang jam murah cuma Rp 5.000,- Tapi aku mengisi soal MSDM ada rasa kepuasan tersendiri, karena cukup berhasil.

Pulang kuliah aku mau cuci cetak foto-foto ketika Mubes. Terus tadinya jas almamaterku mau ditukar dengan punya Puri. Eh ternyata jas dia sudah dirombak abis. Sudah dipermak tetap saja gagal. Tempat logo kampusnya menyempit, karena jahitan permaknya terlalu banyak yang dibuang. Ditambah jasnya kekecilan buatku.

Siang hari datang ke kosanku, Uswah dan Rurri mau mengembalikan buku. Dia mau bayar, tapi kutolak. Biarlah asalkan aku sudah senang bisa membantu. Aku senang koleksi buku dibaca teman-temanku. Walaupun sebenarnya aku butuh uang tapi demi menjaga harga diri. Dan dia sudah bersedia jas almamaternya ditukar dengan yang punyaku.

Sorenya aku dan Robbi ke Manisi ke kosan teh Ima, mau mengambil printer. Malah kami tercegat hujan ketika baru berangkat. Sementara jam lima aku harus mengambil studio foto. Terpaksa ke sananya kami hujan-hujanan, karena sudah janji padanya.

Sebelum ke kosan teh Irma, kami mampir ke kosan Angel Wings, mau memfotokopi ayat tentang Wakaf. Begitu beradu pandang dengannya, tampak seperti makin cantik saja. Mungkinkah karena sedang di tempat sedikit gelap, di bawah lampu redup. Tapi katanya kalau orang Jawa, kalau cantik, cantiknya tak tertandingi. Tapi kalau jelek, jeleknya ya tetap jelek. Buktinya dia perempuan Jawa yang cantik parasnya sangat menggangguku.

Hujan semakin malam semakin deras. Sampai Maghrib masih menunggu hujan reda di kosannya. Tapi kasur ingin kubawa sekarang dari Teh Irma, karena dia mau segera pulang. Walaupun hujan-hujanan dan masih ada rasa kangen, kami sampai juga ke kosan teh Irma cukup basah kuyup. Dan selamat juga kubawa kasur dilipat-lipat sampai kecil. Malu untuk sementara dibuang dulu, demi membawa kasur jelek. Tapi aku bisa tidur sedikitnya nyaman dengan kasur pemberian orang.

 

 

**

Tadi ketika beres UAS, KBMP MKS mengadakan rapat. Sebagai pejabat Sekretaris Umum, kupikir aku berhasil memimpin rapat. Omonganku gak terlalu kaku. Ternyata aku bisa memimpin pertemuan. Meskipun tetap saja ada kekurangannya. Aku harus lebih banyak memberi kesempatan pada forum untuk menanggapi masalah.

Sebagai bentuk penghormatan pada audien, aku sering menyebut nama-nama mereka satu per satu. Jangan terfokus hanya pada satu orang. Sebutlah nama mereka dengan sesering mungkin. Karena aku sendiri merasa dihargai ketika dalam rapat, disebut namaku oleh pembicara.

Waktu rapat, aku hanya bertanya pada Angel Wings tentang siap tidaknya jadi bendahara. Aku berani gak memanggilnya Neng Cantik. Nanti akan kucoba di pertemuan lain bagaimana reaksi dia. Tadi saja dia mukanya merah gara-gara jadi bahan pembicaraan. Sepulang rapat, aku pulang bareng ke kosannya. Dan aku minta maaf padanya atas perlakuan anak-anak tadi.

“Begitulah anak-anak harap dimaklumi”, di sela-sela perbincanganku. Anak kelas pada syirik saja dengan hubungan kami.

Tadinya mau lima menit saja di sana, eh dia malah bertanya ini dan itu. Mengobrol yang lain-lain sampai tiada ujung kecuali harus dihentikan. Begitulah perempuan kalau sudah dikunjungi, inginnya dilama-lamain. Aku kalau dikunjungi ingin meraka cepat pulang, meski tergantung juga sang tamu maksud kedatangannya ke kosanku. Kalau yang datang adalah yang membuatku senang, aku ingin banyak bercengkrama dengan mereka.

Semoga saja aku meraih ilmu dan hikmah dari inti pembicaraan tadi. Besok UAS untuk matakuliah Perbankan. Sampai detik ini ujian aku belum membuka buku catatan. Karena sejak siang sibuk mengurusi organisasi, sampai lupa mau mengambil stempel dan membuat kopsurat. Tapi aku banyak silaturahim dengan temen-temen.

Sekarang sudah jam sebelas kurang sepuluh menit. Aku harus tidur dan harus bangun secepatnya. Aku harus belajar mulai dari membaca catatan-catatan kuliah. Semoga saja aku bisa menjawab soal-soalnya. Yang aku lakukan semuanya berniat karean Tuhan.

Medengarkan ceramah ust. Masrukul Amri, bahwa ketika marah ucapkanlah Astghfirullah. Aku harus segera beranjak ke tempat tidur dengan kasur baruku ini. Bukan baru, tapi baru pemberian orang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori