Oleh: Kyan | 03/07/2005

Makna Mimpi Tentang Rasa

Ahad, 03 Juli 2005

Makna Mimpi Tentang Rasa

**

Tibalah saatnya aku menghadapi ujian Manajemen Pemasaran. Banyak yang harus kuisi dan harus memakai bahasa Inggris. Memang, kemampuan bahasa Inggris adalah kebutuhan sangat penting. Teman-temanku banyak yang di bahasa Inggris. Seharusnya aku manfaatkan mereka untuk mengajariku bahasa Inggris. Inggris dan Arab adalah bahasa yang harus kukuasai. Tapi aku harus bagaimana untuk belajar bahasa dengan caraku sendiri.

Aku beruntung mempunyai dosen dan ketua jurusan yang peduli dengan kemampuan bahasa asing mahasiswa. Mengisi jawaban mesti dikirimkan lewat e-mail. Terakhir dikumpulkan tanggal satu Agustus. Memang masih lama tapi tetap harus dikerjakan dari sekarang. Kalau terus ditunda, ketika waktunya sudah mepet akhirnya mengerjakannya asal-asalan dan tidak optimal.

Pulang kuliah aku dan teman kelasku mengadakan rapat catering di kosanku. Mereka yang datang adalah Ria, Nova, Lilis, dan Noor serta teman cowok kelas MKS. Perempuan yang disebut terakhir, baru pertama kali dia datang ke kosanku, ketika sudah selama setahun ini kuliah di MKS. Orangnya cantik. Tapi kayaknya aku tidak jatuh hati padanya. Meskipun dia sebenarnya cantik rupawan.

Hasil keputusan rapat, aku kebagian tugas membuat brosur, kupon, menjaga stand pendaftaran. Pokoknya nanti Kamis aku harus mulai mengerjakannya. Kalau sekarang sedang sibuk melewati UAS. Konsentrasi aku harus fokus pada ujian. Selama UAS ini sepertinya nilai pada jelek.

Semoga saja Allah yang maha pemurah menakdirkan aku meraih nilai terbaik. Karena usaha sudah optimal sebagaimana yang telah kuusahakan. Aku selalu menjaga dan memberi bantuan pada orang lain. Waktuku habis dengan melayani orang lain. Banyak teman yang kubantu, sementara waktu belajarku tersita dengan hal-hal tersebut. Aku pasrah saja pada Allah. Bukankah Allah maha melihat dan maha adil?

**

Rencana setelah Ashar ada tiga pilihan antara membantu Lia membuat e-mail, silaturahim dengan Deri ke rumah Epik Sopyan, atau silaturahim ke rumah Ria di Kosambi. Jam dua aku ke service komputer, menanyakan bagaimana box monitor apa sudah ada. Ternyata adanya di tempat lain. Di service monitor menghabiskan Rp 30.000,- setelah kutawar jadi Rp 25.000,- Dan tukang service bilang box monitornya sekitar 25-30 ribuan. Tidak apa-apalah yang penting selesai.

Menjadi pilihan pulang dari service komputer, mampir ke kosan Lia-Eka sampai tibanya adzan Ashar. Disana kami hanya mengobrol saja dan rencana pergi ke warnet dibatalkan. Dibikin kesepakatan besok saja perginya.

Sampai di kosan ketemu Omon. Aku menunggu Deri yang katanya mau main ke Ujungberung. Maghrib masih belum muncul, tanda tidak jadi ke rumah Epik-nya. Yang datang malah Veri mau menginap di kosanku. Bersama Veri sekedar mengisi malam minggu main ke kosan Uswah dan tak lama kemudian Siti Mufrodah datang ke kosan Uswah.

Bermalam minggu hanya bersama kawan-kawan. Karena dengan masalah percintaan, aku dibuat bingung. Suka gak sih sebenarnya. Aku sudah tahu segala kelebihan dia, berikut kekurangannya. Aku baru kali ini mengenal perempuan yang semangatnya begitu tinggi. Dia begitu berbeda dibandingkan dengan perempuan yang aku temui selama ini. Aku bangga mempunyai sahabat seperti dia. Sehingga dalam diriku menyembul sebuah rasa. Entah merah, biru, putih, atau hitam sebagai warna-warna cinta.

Ketika kemarin bertemu di kampus, ia memperlihatkan muka ceeeeeria banget. Mungkin pertanda ia sedang mendapat kegembiraan. Cuma sewaktu pulang kuliah, sewaktu aku mau ke Bapusda dengan perempuan lain, dengan Ria, apakah dalam dirinya timbul rasa cemburu. Kalau dia suka pasti dia cemburu, karena pengalaman orang begitu. Apakah ini harus kuungkapkan dan bertanya apakah dia cemburu? Hallah sudah kelihatan dia suka padaku. Buktinya? Ini hanya mengaku saja.

Tadi malam aku bermimpi bertemu dengannya di sebuah tempat bernuansa hijau yang tidak kukenal. Di tempat itu dia mengaku mencintaiku juga. Namun setelah itu, dia lenyap dari pandanganku. Dia malah pergi ke dunia lain yang tidak dapat kuraba, entah dia pergi kemana. Dan di sampingku juga ada seseorang yang meratapi kepergiannya.

Mungkin ini kedengarannya aneh dengan mimpiku. Mungkin benar mimpi hanya ilusi, penyembulan dari hasrat pikiran yang mengimajinasi sampai terus tersadar meski sedang tidur. Adalah satu keinginan terpendam bahwa aku ingin dicintai.

Semoga hal itu tidak menjadi kenyataan, ketika akhirnya dia pergi dan berpisah dariku. Tapi aku mendengar juga dari teman-teman bahwa banyak lelaki yang suka padanya. Bahkan ketika ujian, dia ngomongin cowok dengan temannya. Gak tahu siapa yang dibicarakan.

Yang aku dengar dari pembicaraannya—karena dia di depanku—tentang lelaki tempo hari. Dan tiba-tiba saja semangat hidupku mati. Aku down begitu saja tanpa alasan rasional aku menjadi lemah semangat. Memiliki ketakutan aku kehilangan dia dan dia menjadi milik oran lain. Dan takut cintanya padaku pudar—emang aku dicintai? Apakah aku harus langsung mengungkapkannya segera secara verbalistik?

Hanya pernah lewat sms ia bilang padaku begini: “Semoga kita bisa menjaga rasa itu. Karena aku percaya pasti Allah memberi jodoh yang terbaik buat kita.” Aku tak bisa menafsirkan lebih jauh dari kata-kata pesan tadi bahwa dia juga mencintaiku dengan sebenar-benarnya.

**

Ibu sudah mengirim uang empatratus ribu. Nanti tanggal duapuluhdua Juli harus sudah registrasi semester tiga sebesar tigaratus ribu. Cukupkah seratusribu buat makan dan biaya window shopping ke Tazkia, Takaful dan Dufan? Biayanya kemungkinan bakal habis duaratus ribu. Bagaimana cara mensiasatinya? Belum monitor yang bakal menghabiskan dana limapuluh ribu. Begitu banyak kebutuhanku.

Mudah-mudahan beasiswa segera turun dan aku bisa mengajukan beasiswa ke Fakultas Syariah supaya membayar registrasi bisa setengah harga. Aku harus datang ke al-Jamiah bagian kemahasiswaan mau minta keringanan biaya registrasi semester tiga. Sebenarnya masalah keuangan selama ini lancar-lancar saja. Meskipun kadang muncul rasa khawatir kekurangan. Takut tidak cukup buat registrasi kuliah. Aku harus membuat surat pada ibu meminta uang lagi. Tapi aku malu meminta, tapi harus bagaimana lagi?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori