Oleh: Kyan | 05/07/2005

Sampai Kau Mampu

Selasa, 05 Jul 2005

Sampai Kau Mampu

**

Dasar masalah cinta. Kenapa aku begitu merasa tersiksa karenanya? Dari segi hubungan diantara kami ibarat pacar, cuma permasalahannya muncul keraguan dia tidak mencintaiku dan dia jadi milik orang lain. Masalahnya berasal dari diriku sendiri.

Akulah yang membuat diri ini tersiksa. Aku harus yakin pasti jodohku bakal datang. Tapi tetap saja ada kehendak bebas memilih. Jangan diam saja, tidak melakukan apa-apa untuk apa yang ingin kita dapatkan.

Ya Allah, berilah daku petunuk-Mu dalam secuil kasih-Mu untuk perempuan yang kau kirimkan padaku. Engkaulah yang memberi rasa ini. Engaku mengujiku karena engkau sayang padaku. Maka berilah aku kesabaran. Tolong sadarkan hati ini. Jika itu jodohku yang engkau kirim untukku, maka perkuatlah ikatan cintaku padanya. Dan jika bukan, segera pertemukanlah aku dengannya. Berilah petunjuk dan berilah kami kebahagiaan dalam menempuh hidup ini, untuk menuju ke haribaan-Mu.

Kenapa tulisanku ini banyak menulis tentah kisah emosiku. Cinta pada perempuan. Mencintai Tuhan lewat perempuan. Karena selama ini hal itulah yang menguasai diriku yang terus menghampiriku. Aku ingin berteriak biar semua orang tahu bahwa aku mencintainya.

**

Masalah ujian akhir, sepertinya nilai-nilaiku pada turun. Kurasa tidak optimal dalam belajar. Waktu kesendirianku tidak cukup buat belajar. Sedangkan aku bisa belajar kalau suasana hening. Sejak jam setengah tujuh pagi sampai jam sembilan malam, selalu saja ada tamu yang datang. Memang harus kujalani dan tidak henti melayani. Sang tamu adalah hadiah dan harus dimuliakan kehadirannya. Kedatangan tamu silih berganti. Pergi yang satu, datang yang lain tanpa jeda. Itulah aku.

Dan aku gak bisa belajar optimal. Sebenarnya dalam suasana gaduh pun kita bisa belajar. Sekarang kantuk sudah menyerang. Inginnya tidur. Sementara aku belum belajar dan mengisi quiz tugas Kewirausahaan. Aku harus bagaimana? Jalani saja hidup ini, bagaikan air mengalir.

Tanganku ada kudisnya, belajar jadi terganggu karena gatal-gatal. Tidak tahu apa namanya, mungkin kutu air. Di sela-sela jari tanganku tumbuh luka dan berair. Diobati mesti pakai salep.

Besok aku harus ke apotek. Sekalian pulang bareng dengannya. Waktuku selalu dibayangi wajahnya. Di setiap keheninganku muncul bayangan kecantikannya. Mungkin karena aku mengundangnya, karena sudah bersahabat selama setahun ini. Lalu muncullah benih-benih asmara. Jangan salahkan persahabatan. Allah jua yang memberi rasa ini. Tapi kendalikan rasa itu. Nikahi atau berpuasalah—tahan semampumu, sampai kau mampu.

Mengisi soal ujian matakuliah Kewirausahaan, aku mengisi jawaban sampai gak selesai. Aku mengutamakan soal-soal yang banyak penjelasan dan mengabaikan soal yang orang lain pada mencontek. Semuanya ada di quiz. Aku merasa rugi, soalnya teman-teman pada mencontek. Sedangkan aku tidak menyontek.

Bukan tidak mencontek, tapi tidak ada kesempatan untuk mencontek. Padahal waktunya masih banyak, dan pengawas sudah tidak jadi pengawas. Pengawas mungkin bosan, jadi tidak taat pada peraturan bahwa waktu mengisi ujian adalah sembilan puluh menit. Mahasiswa mempunya hak waktu sembilanpuluh menit, ini baru enampuluh menit sudah harus dikumpulkan.

Ah, sudah terjadi. Kekesalan sedikit terobati. Aku selalu saja tidak banyak waktu buat belajar. Karena setiap hari sampai malam selalu saja ada tamu. Baik itu teman, kenalan, atau orang yang merental bila komputernya sedang tidak terpakai. Aku merasa terganggu dengan kedatangan mereka. Bukan tidak rela, tapi ini setiap hari. Lagian sekarang sedang masa-masa ujian. Mestinya mereka mengerti dengan keadaan. Ini sedang ujian dan aku perlu banyak waktu sendiri buat belajar.

Apakah mereka tahu keinginanku? Apakah aku harus memberi tahu mereka? Aku takut menyinggung perasaan mereka. Memang sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mudah-mudahan Allah memberi kesabaran kepadaku dan memberi pahala atas kesabaranku. Tapi Alhamdulillah, malam ini aku bisa belajar Manajemen Keuangan sampai jam setengah dubabelas malam.

Cuma aku salat Subuh di kamar, gak sempat ke masjid. Aku harus menikmati episode perjalanan hidup ini. Hidup adalah sebuah keberanian dan ketidaktahuan adalah sangat perlu. Setiap manusia kadang menghadapi persoalan yang sangat dimengerti, ada kalanya tidak tahu dalam hal-hal lain. Perlu juga sikap cuek, care dan segala sikap yang melekat pada diri kita. Hanya perlu menikmati.

Sebentar lagi selesai masa-masa UAS. Teman-teman pada pulang, sedangkan aku harus pulang kemana. Pulang ke rumah nenek, terlalu jauh dan menghabiskan ongkos. Waktu liburku akan kugunakan buat silaturahim ke teman-teman SMU. Mungkin aku masih ingin menikmati kesendirianku.

Aku gembira bisa menelpon temen SMU-ku, Anggita Rahmi. Menelepon dia menghabiskan Rp 7.800,- Tidak terasa banget meski hanya beberapa patah kata. Katanya dia ingin main ke kosanku. Pernah dari Padalarang mau ke Cileunyi, tapi kesadar sampai di Leuwipanjang. Karena aku belum punya handphone, jadi susah untuk dihubungi. Aku menikmati saja ketidakpunyaan handphone. Ya, harus bagaimana lagi. Maka nikmati saja, atau duduk-duduk saja.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori