Oleh: Kyan | 06/07/2005

Surat Cinta Untuk Bidadari

Rabu, 6 Juli 2005

Surat Cinta Untuk Bidadari

**

Karena semalam belajar sampai jam setengah duabelas, alhamdulillah aku lancar mengisi soal ujian. Sampai semuanya aku mampu mengisi. Tumben aku mampu selesai dan pulang sebelum teman-teman mengumpulkan. Biasanya aku selalu menjadi yang terakhir mengumplkan jawaban sampai-sampai harus mengejar pengawas. Karena pengawasnya harus pulang. Mungkin karena soalnya pernah aku pelajari dan openbook.

Waktu pulang dia pun bilang, tumben menanyakan tentang hal-hal pribadi. Bukankah dia pernah bilang, “Tak ada waktu buat membicarakan tentang hal itu?” Ia berjalan duluan bersama temantemannya. Ia sempat menoleh ke arahku. Seperti di film cinta saja. Jadi ingat film AACD.

Rencana liburan mau kemana? Aku ingin silaturahim ke temen-temen SMU-ku. Aku ingin pulang ke rumah nenek di Tasikmalaya. Sekalian mau mengambil tape. Atau mengirim surat dulu supaya jelas apakah ada atau tidak tape-nya. Aku ingin punya tape.

Aku pun ingin magang keuangan. Aku sudah bertanya ke Uly Ajnihatin tentang Mihdan. Dia jawab kenapa dulu ketika ditawari jadi marketing malah menolaknya. Katanya sekarang sudah ada anak Unpad.

Emang sih kesempatan tidak datang dua kali. Aku menolak karena ingin fokus pada kuliah dan tak ingin mengecewakan ibuku. Lagian waktu liburan, aku harus mengurusi rapat kerja, stand pendaftaran mahasiswa baru, dan pengembaraanku. Aku akan terus mengembara menelusuri lorong kehidupan, mencari jalan kebenaran sejati.

Langkahku tidak akan surut dalam menempuh perjalanan ini. Aku akan terus melangkah dan mendaki menuju alam impian jiwaku. Aku sadar dengan badai gelombang dan ranjau menawan akan terus menghalangi langkah gontaiku. Tapi akan kuleraikan dan akan kuterjang.

Taman impianku terlalu luas bila kusia-siakan. Kukepalkan tangan mungilku untuk menghantam badai cobaan segala anganku. Akankah datang belahan jiwaku yang akan menemani dalam taman surgaku, aku hanya menunggu waktu. Aku yakin bahwa akan datang bidadari impian jiwa yang akan memberi kesejukan dalam kehausan asaku.

Duhai bidadariku, tunggulah kedatanganku di taman itu. Akan kusampaikan padanya sebait kata hati yang terus bergumul di hati ini. Mau mencoba menulis yang mungkin isinya begini:

“Tulisan ini jangan dibaca selain dirimu! Semoga tulisan ini sedikit bisa menyelesaikan masalah diantara kita. Permasalahan jadi berlarut-larut karena adanya miskomunikasi. Kamu sendiri bilang,  “Tak ada waktu tuk ngomongin kayak gituan”. Emang sih jangan sampai ada waktu kita yang tersia, terbuang percuma cuma buat ngomongin hal yang tidak penting. Karena bagi kita masih banyak permasalahan yang lebih penting yang mesti kita kerjakan dan selesaikan. Kita musti berbuat sesuatu, terutama untuk agama dan kelurga seperti yang kamu katakan dalam SMS.

Makanya aku lebih baik diam dan biarlah waktu yang bicara. Membiarkan air mengalir menuju muaranya, membiarkan perasaan itu terus merasuk ke dalam sukmaku, dan membiarkan semuanya terus menyiksaku. Karena buah dari kesabaran akan terasa manis.

Tumben kamu nanyain tentang hal itu. Bukankah tak ada waktu untuk membicarakan hal itu. Apakah kesabaran sudah menipis? Puncak tertinggi dari kesabaran adalah ridha terhadap apa yang menimpa kita.

Kenapa aku selalu menjawab ya ketika ditanya orang tentang hubungan kita. Memang iyakan kita jadian. Maksudnya kita jadian sobatan. Aku sudah bilang  ke kamu bahwa saya ingin jadi sahabat kamu. Bener kan? Kalau maksud pertanyaan anak-anak adalah “pacaran”. Bukankah sobatan bisa melebihi segalanya? Esensi dari pacaran dan persahabatan adalah belajar tuk mencintai sesama apa adanya sebagai refleksi dari cinta kepada Tuhan. Tanpa mengharapkan balasan kecuali dari Tuhan. Saling memberi dan menerima, saling mengisi satu sama lainnya dalam menelusuri lorong kehidupan ini.

Kata Al-Faraby ‘kita tak akan bisa mendapat penyelesaian yang terbaik, kecuali manusia satu dengan manusia lainnya harus bekerja sama. Berbedanya pacaran dan persahabatan adalah kalau pacaran sudah ternodai, karena tak mengindahkan unsur-unsur syariat. Saya mencintai Tuhan lewat perempuan dan apapun balasan dari makhluk-Nya saya tak akan mengindahkan hal itu.

Begitupun saya mencintai kamu dengan setulus hati adalah sebagai aktualisasi diri saya cinta kepada Tuhan. Balasan kamu ya atau tidak, itu pilihan kamu. Saya akan tetap mencintai kamu dan saya tak akan menyesal mencintai kamu. Meskipun saya tahu segala kekurangan dan kelebihan kamu.

Perasaan ini adalah sebuah anugrah dari Tuhan yang datangnya tidak saya undang dan diduga. Saya menyadari ini adalah sebuah episode perjalanan kehidupan. Sifat fitri manusia adalah ingin mencintai dan dicintai. Saya akan menikmati semua ini seiring waktu. Ya atau tidak sama saja bagiku.

Ketika ditanya oleh anak-anak, saya bilang ya aza, karena aku tak mau memperpanjang masalah ini. Biar mereka puas dan gak bertanya tentang hal itu lagi. Kalau kamu merasa risih dengan jawaban itu, menurut kamu jawaban yang terbaik apa? Saya udah  menjelaskan semuanya bahwa hubungan kita adalah persahabatan, tidak lebih dari itu. Bukankah persahabatan akan lebih kekal dan lebih berarti bagi kita? Tak ada kan istilah “mantan sahabat?”

Saya katakan sejujurnya, bahwa saya suka ma kamu. Entah apa penyebabnya. Karena Tuhan lah yang menciptakan dan memberi rasa ini. Saya gak bisa menghilangkan rasa ini begitu saja dan sebagaimana kamu mau. Sebagaimana kamu bilang, kita cuma bisa mengendalikannya.

Menurutku, kamu memang beda dari yang lain, sangat berbeda dan terlalu mengesankan bagiku diantara perempuan yang aku temui selama ini. Lagian kamu cantik, siapa sich yang gak tertarik dengan kecantikan kamu. Namun kecantikan bisa menjerumuskan seseorang, Maka hijabilah kecantikanmu itu. Disisi lain aku suka keperibadian kamu yang selalu ceria dan antusias, seolah-olah tidak punya beban apa-ap. Meskipun aku tahu masalah yang menimpa kamu begitu bejibul. Tapi kamu bisa mengatasi semua itu dan aku yakin kamu bisa melewati semua itu. Aku ingin banyak belajar sama kamu dalam segala hal. Makanya  aku ingin jadi sahabatmu.

Hidup adalah sebuah pilihan. Memang Allah akan memberi sesuatu pasti yang terbaik bagi kita. Meskipun hal itu belum tentu baik menurut pandangan kita. Allah memberikan pilihan buat kita. Kadang kita cenderung Jabariyah, berpikir kalau hal itu yang terbaik bagi kita. Bila itu hal baik atau jodoh kita, maka hal itu tak akan kemana-mana.

Memang, tapi kita diberikan kebebasan untuk memilih dan memberikan keputusan. Jika kita memilih yang baik, pasti akan mendapatkan yang baik, begitu sebaliknya. Dan itulah takdir atau hukum kehidupan. Maksud saya menulis ini apa maksudnya ya? Semoga kamu dapat memahami maksudku dan dapat mengambil keputusanmu.

Setiap desah nafasku selalu menyebut namamu. Dalam telaga impian hatiku selalu ingat dirimu. Tulisanku terukir namamu. Kau adalah belahan jiwaku yang terpatri dalam rasaku. Aku adalah dirimu dalam titian harapanku.

Ruang dan waktuku tersimpan angan tuk memilikimu. Kau adalah cahaya bintang dalam kepekatan malamku. Kau bidadari impian jiwa yang merasuk ke dalam sukma. Engkau, datanglah dan menyatulah di taman impianku. Dekaplah diriku dalam sayap malammu. Akulah sang pengembara pencari singgasana cinta. Itulah aku dan pilihlah aku!

Memang, cinta itu tak dapat kumengerti. Ketika hadirnya selalu tidak terduga dan kadang membuat kita sedih bila ia pergi. Cinta kadang bersembunyi dibalik luka hati. Mungkin aku tak pernah mengerti bagaimana keinginan hati. Saat ingin dicintai, dia malah berlari pergi. Saat dibenci malah dia menghampiri. Aku hanya ingin dicintai yang hadir bersama sejuta mimpi.

Biarlah cinta itu menjadi sebuah kekuatan akan perubahan bagi duniaku dan duniamu. Berilah aku senyuman, meski sekejap saja. Niscaya akan kuubah dunia yang kelam menjadi pualam, dari barang-barang rongsokan menjadi barang-barang mahal. Aku tak butuh selain itu.  Karena hal pertama yang diciptakan adalah sebuah cinta, maka aku pulang membawa cinta dan menuju cinta. Cinta yang suci, cinta  untuk kembali pada Tuhan.

Janganlah nodai cinta itu! Aku akan terus berjalan dan mendaki menelusuri lorong kehidupan mencari apa itu sebuah makna. Karena akulah sang pengembara. Kalau dipikir-pikir, aku pun merasa kok aku cengeng banget dalam mengehadapi hal-hal begini. Itulah manusia bisanya cuma berkeluh kesah. Apakah aku dewasa? Mungkin aku belum dewasa untuk menghadapi segala persoalan ini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori