Oleh: Kyan | 11/07/2005

Diantara Ihwal Wanita

Senin, 11 Juli 2005

DIA AYU: Diantara Ihwal Wanita

**

Membuat brosur dan kupon belum aku selesaikan. Jum’at pagi aku mengepel kamar. Sudah lama kosanku tak dibersihkan, karena sibuk persiapan dan fokus menghadapi ujian. Aku sudah merencanakan mau membuat surat untuk ibu. Aku ingin meminta uang buat bayar registrasi tanggal duapuluh Juli.

Ketika di bagian akhir aku menulis surat, dimana aku mencurahkan segala isi hati dan meminta maaf, tiba-tiba saja airmataku berlinang. Kenapa menagis, bukankah aku adalah seorang laki-laki yang harus tangguh dan tidak boleh cengeng menghadapi setiap persoalan?

Sang perkasa bukan berarti tidak pernah mengeluarkan air mata. Aku menangis karena takut aku pernah menyakiti hati seorang ibu. Itu pasti dan takut ibuku tidak memaafkannya. Baru kali ini aku merasakan tangisan air mataku. Aku jarang bahkan tidak pernah menangais dalam beberapa tahun ini. Katanya kalau mata ingin cerah, sering-seringlah menangisi dosa.

Aku menerima kembali surat kiriman insentif dari Ahad-Net. Alhamdulillah, aku mendapat hadiah tahunan Rp 52.400,- Ingin segera kuambil dan silaturahim ke Mitrasalur Ahad-Net di Majalaya. Sekalian aku belanja apa yang kubutuhkan. Mau kubeli Habbasauda, buat mengobati tanganku yang kena kutu air dan gatal-gatal di lengan. Aku selalu berusaha untuk hidup bersih, tapi tetap saja kena penaykit kulit. Ini sebuah ujian dan aku harus sabar menerimanya.

**

Sabtu pagi ketika aku sedang mandi, ada suara perempuan memanggilku. Kuhentikan guyuran dan kuselidiki milik suara siapa yang memanggilku. Owh, suara Ayu yang semampai itu. Owh, Ayu kemanakah kamu selama ini. Aku kangen padamu.

Ia bilang cepetan mandinya, tuh ada Mamah Uly datang ingin menemuimu. Aku tersentak kaget, ada apa gerangan ia datang ke kosanku. Padahal dalam minggu ini ia seperti sedang tak bersahabat denganku.

Segera kuselesaikan mandi. Ternyata yang datang selain dua perempuan yang kukenal, ternyata mereka membawa dua pengikut lagi. Satu laki-laki bernama Didi, sepupunya atau adiknya Mbak Ulfa, dan Nik, masih saudaranya dari Purbalingga. Rupanya dia mau menanyakan tentang study tour ke Tazkia. Dia masih bingung antara ikut atau enggak. Aku berusaha meyakinkan dia bahwa akan banyak sekali manfaat yang didapat kalau ikut kesana.

Lalu Ayu bercerita padaku, katanya sekarang sedang ketakutan. Kemarin ikutan SPMB dan takut jalan terakhir masuk IAIN gak lulus juga. Sebagai kakak atau diantara orang yang berusia paling tua, aku harus melindungi mereka dan menenangkan dirinya. Aku harus lebih dahulu punya kesabaran untuk mendengarkan segala kegelisahannya.

Sebenarnya mereka hanya butuh didengarkan dan tidak benar-benar meminta solusi. Dengarkanlah saja dan jangan sampai memvonis sesuatu. Aku harus lebih dewasa dan siap mendengarkan segala keluh-kesah padaku. Dan aku pun harus tahan bahwa tidak setiap masalah sendiri disampaikan ke orang lain. Biarkah saja ia mencurah secara natural dalam sesi-sesi percakapan.

**

 

Senangnya aku kedatangan tamu empat sekawan dari kosan bunderan. Dan hari ini aku bersyukur dan bahagia bisa menamatkan baca Buku Saku Tasawuf Positif-nya Haidar Bagir. Rasa-rasanya kalau sudah menamatkan satu buku, muncul kepuasan pengalaman eksistensial. Bila tiga hal yang dicintai Rasul adalah wanita, farfum dan salat. Sedangkan mungkin buatku tiga hal yang kusukai adalah: wanita, pesta, dan buku.

Rangkuman bukunya bahwa konsep tasawuf adalah ibarat makanan, dan ihwal makanan adalah tingkatan-tingkatan yang harus dilalui oleh penempuh spiritual. Ihwal adalah keadaan-keadaan spiritual sesaat sebagai hasil dari mujahadah (memerangi hawa nafsu) dan riyadah (latihan-latihan spiritual) dunia. Tapi hati tetap bergantung kepada Allah. Tidak sekedar ibadah mahdah, tapi ada ibadah-ibadah sosial dan membela kaum dhuafa dan mustadafin.

Ibn Arabi adalah syaikh Akbar. Ungkapan eskatik seperti Ana al-Haq, akulah kebenaran, wihdatul wujud, di dalam jubahku yang ada hanya Allah, adalah sebagian dari ungkapan pengalaman atau luapan-luapan yang tidak tertampung oleh simbol indrawi.

Malam minggu gak ada yang menginap di kosanku. Malam minggu aku sibuk persiapan katering. Kubuat brosur, kupon, kuitansi, dan segala tetak-bengeknya. Hari Minggu seharian mengerjakan semuanya sampai gak sempat mandi pagi. Itulah pengorbanan. Tak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Yang bikin aku kesel, komputerku selalu bikin aku murka dan ingin menendangnya ke tempat sampah. Bagaimana tidak kesal kalau barang yang sedang dibutuhkan malah menambah masalah. Maklum sih pentium satu. Kalau anak ITB katanya komputer kayak gini sudah dilempar ke tong sampah. Tapi, begitu juga masih memberikan manfaat dan pemasukan buatku. Begitulah adanya.

Matahari dalam sepenggalan. Sudah ditunjuk Dian Hadi sebagai penanggung jawab katering. Dia baru saja datang dan aku melampiaskannya segala kemarahanku padanya. Ia cukup bersabar dan akhirnya aku ingin tertawa sendiri. Sampai sore dan akhirnya datanglah Veri. Dia baru pulang dari Tasik membawa oleh-oleh bungkusan nasi.

Setelah selesai semuanya aku segera mandi sore. Dan tiba waktu salat Maghrib, kami pergi ke masjid. Selepas Maghrib aku dan Veri pergi ke kosan Kang Yaya selaku panitia Study Tour ke Tazkia. Kami mau menanyakan tentang persiapan dan lembaga syariah mana saja yang hendak dikunjungi. Ia bilang sudah positif adalah Tazkia, Takaful, dan Dufan.

Terus kunjungan kami berlanjut ke kosan Siti Nuraeni. Dia bercerita yang katanya baru saja datang dari Ciwidey. Aku belum pernah ke Ciwidey, kapan ya? Ingin sekali aku bisa keliling daerah cekungan dan pinggiran Bandung. Tempat yang kutahu jangan hanya kotanya saja.

Kuperoleh uang limapuluh ribu dari teman-teman yang membayar foto kelas. Aku, Veri dan Siti Nuraeni jalan ke depan kampus mau mengambil foto kelas. Eh, sampai di sana tokonya tutup. Harus besok. Kami balik lagi lewat jalan Manisi. Malam-malam cuma keliling doang menikmati malam.

Tadinya mau mampir ke kosan Uly, tapi aku ragu. Tidak pasti dia ada di kosannya. Akhirnya gak jadi deh. Lagian sekarang dia bersama saudaranya. Takut mengganggu. Kami mengantarkan Siti dulu pulang sampai kosannya, dan kami menyewa VCD film Kingdom of Heaven (alam surga).

Ceritanya tentang perebutan Yerussalem oleh Salahuddin al-Ayyubi dari tangan kaum Frank. Menonton sampai jam sebelas kurang dan setelah itu aku menulis. Selalu tidak sempat aku menulis. Tapi sekarang sudah kusempatkan dan selesai jam duabelas malam. Tapi aku belum salat Isya. Aku harus ke air untuk berwudhu dan salat Isya.

Senin adalah hari pertama membuka stand katering untuk ditawarkan kepada mahasiswa baru. Stand MKS berdekatan dengan stand Muamalah dimana penjaganya dialah orang yang sering kucuri pandang. Akhirnya bisa kukenal juga anak jurusan Muamalah yang modis itu. Kutahu namanya sekarang: Tantri Sumarni.

Dialah kecengan seniorku di Muamalah. Berparas salju dengan kulit putihnya yang merona. Pertama aku melihatnya saat dulu awal-awal kuliah, dia berbusana serba hitam. Dengan kulitnya yang putih merona dan balutan serba hitam, semakin kontraslah kemulusan kulitnya. Bahkan setiap kali aku berpapasan dengannya selalu dia memakai busana serba hitam. Entahlah apakah karena serba hitam, sehingga nuansanya begitu mencolok yang akhirnya memikat pandanganku ataukah memang dia sungguh rupawan.

Dalam berkenalan dan merintis persahabatan, memang aku harus mulai memecahkan suasana dan mulai bertanya. Jangan menunggu ditanya oleh orang lain. Aku sendiri yang harus proaktif mencoba mengakrabkan diri padanya. Meski resikonya akan dianggap: SKSD, sok kenal sok dekat

Besok harus membuka stand lagi di kampus. Selama seminggu kami akan membuka stand. Jam setengah tujuh pagi setiap hari harus sudah siap berangkat ke kampus. Bila nasi belum habis, pagi-pagi harus dimakan. Hari ini foto kelas diambil, fotoku jelek banget. Tapi setelah ditilik-tilik lagi bagus juga.

Dan aku senang bisa jalan bareng dengannya. Aku, dia, dan Veri mengkuti teknikal meeting study comparative ke Tazkia. Aku berhasil bertanya pada mereka. Nanti di Takaful aku harus bertanya. Nanti di perjalanan menuju Jakarta mau membaca seputar asuransi dan menyiapkan pertanyaan. Pertanyaan untuk di Tazkia sedikitnya sudah ada gambarannya tentang apa yang ingin kutanyakan.

Pulangnya aku bareng Angel Wings ke depan. Aku bertanya padanya sudahkah dibaca tulisanku. Jawabnya: belum, sambil tersenyum lebar. Tapi kok dia berbicara soal foto. Kalau fotonya bisa dibuka, tulisannya pasti bisa dibuka. Dia bilang disketnya gak bisa dibuka. Kayaknya sudah dibaca deh. Besok ingin aku tanyakan kembali dan bagaimana tanggapannya dan apa solusinya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori