Oleh: Kyan | 13/07/2005

Perjalanan ke Tazkia, Perjalanan Cinta

Rabu, 13 Juli 2005

Perjalanan ke Tazkia, Perjalanan Cinta

**

Selasa pagi kami siap study tour. Jam tujuh  pagi aku dan Veri segera bergegas ke kampus. Berkumpul bersama peserta lain yang pada mau ke Jakarta. Kalau dihitung-hitung berapa kali aku ke Jakarta? Sangat jarang aku bisa jalan-jalan ke ibukota. Ke Jakarta kami mau study tour ke asuransi syariah dan STEI Tazkia. Banyak pengalaman yang kudapat. Bis yang kutumpangi ternyata melewati universitas Paramadina pimpinan Cak Nur. Kampus tersebut di Mampang Prapatan juga.

Selama di asuransi Takaful aku mendapatkan banyak sekali hal-hal baru. Di ruang tunggu disediakan rak buku dan media cetak. Jadi ingat peradaban Islam masa lalu yang katanya di setiap instansi dan rumah pribadi terdapat perpustakaan. Takaful merealisasikan apa yang telah dilakukan masa lalu. Informasi seputar asuransi semakin banyak kuperoleh.

Katanya dalam asuransi syariah harus ada pemisahan antara modal peserta dengan modal perusahaan. Modal peserta terpisah dua, yaitu dana rekening tabungan dan dana tabarru yang jumlahnya telah ditentukan antara dua rekeing tersebut. Dana tabarru akan diberikan kepada peserta ketika terjadi klaim (musibah). Asuransi juga menjadi peserta re-asuransi (re-takaful), dimana ketika banyak klaim bila asuransi tak mampu, re-asuransi akan menanggungnya. Dan re-asuransi dihandel pula oleh restosesi.

Pulang dari asuransi Takaful aku satu jok dengannya. Antara Takaful sampai Bogor diantara kami banyak cerita, berbagi cerita, bertukar cerita tentang masa lalu sampai pengalaman sampai kini. Sampai akhirnya segala unek-unek keluar juga. Dia bicara terus terang, begitu pun aku. Aku mencintai dia, begitupun dia.

Aku telah berkomitmen tidak akan pacaran. Begitupun dia. Masih banyak hal-hal yang perlu kita selesaikan dan kerjakan. Dia juga mengaku memiliki rasa lebih yang entahlah apa itu namanya. Tapi diantara kami tidak ingin melanggar prinsip. Tapi di sisi lain aku ingin dicintai olehnya sepenuh hati. Jawaban dia masih samar, meskipun dia bilang ada rasa ataukah sebuah tanda.

Hatiku belum puas. Aku mengamati wajahnya, kok dia jadi banyak terdiam. Sampai di asrama Tazkia, dia kehilangan handphone. Kucari-cari sampai akhir depan jalan raya. Bisnya sudah gak ada. akhirnya setelah mandi kucari-cari lagi ke sana, ke dalam mobil. Dan alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Ketika makan dia memaksaku untuk memberi handphonenya. Tidak aku kasih soalnya aku sedang makan.

Aku melihat muka Veri dan Dudi seperti terlihat kecewa. Mereka bilang ketika aku duduk berdua dengannya, tak membuat dia bisa tidur ataupun bercakap-cakap. Mereka bilang dia seperti perempuan tertutup. Kujawab, sewaktu aku sejok dengannya, aku gak mengajak dia mengobrol, tapi dia sendiri yang memulai membuka obrolan. Dia bahkan mengajakku mengobrol terus.

Tiba-tiba aku marah ke Veri. Saat berangkat ke Dufan, dia menduduki tempat dudukku sejok dengannya. Apa ini keinginan Veri atau dia yang menyuruhnya. Aku gak tahu. Tapi kupikir mungkin niat dia berbaik. Takut terjadi perzinahan, pelecehan atau apa. Soalnya saat malam peluang selalu ada diantara laki-laki dan perempuan. Meskipun sedang tidak berkasih-kasihan.

Memang aku ini penjahat kelamin, sampai tak percaya bahwa aku ini lelaki baik atau tak mampu mengendalikan kesopanan pada perempuan. Tak terbesit sedikitpun akan hal itu, apalagi memperlakukan seseorang yang kucinta. Aku cuma ingin menyembuhkan rasa ingin tahu dan kangenku padanya.

Ditambah pula selama di Dufan, Tuhan tidak menakdirkan aku dengannya bertemu. Kejadiannya bermula ketika kami turun dari bus, aku dan Mas Teguh salat dulu di mushala dekat pintu masuk. Begitu aku kesana hanya ada sebagian peserta yang masih tertinggal. Kucari-cari dia dan untuk menghubungi dia, aku tak punya handphone. Permainan demi permainan terasa hambar dan tawar, karena pikiranku selalu ingat dia. Aku tak begitu menikmati setiap permainan. Sampai akhirnya tiba waktu berkumpul di bis.

Begitu dibagi makanan, makanku tidak berselera. Bahkan ketika mereka makanpun aku tak melihatnya. Mengobati kehambaran, bersama Veri dan Dudi main ke pantai Ancol. Aku menatap langit laut gelap yang membentang sampai tepian pandangan. Sampai akhirnya kami pulang ke tempat berkumpul dan barulah aku bertemu dengannya. Baru disitulah aku bisa makan sedikit enak. Sebegitunya aku ini hanya gara-gara tak melihatnya. Sebelum berangkat, aku duduk di sampingnya. Banyak cerita yang disampaikan tentang pengalaman di Dufan dan Tazkia.

“Jangan banyak bersyair atuh,” dia bilang begitu.

Di perjalanan pulang aku merasakan kekalutan jiwa. Tapi bisakah menikmati keindahan alam saat malam. Langit yang membentang dan gemerlapnya bintang. Kenapa rasa sedihku tiba-tiba datang. Kenapa? Apa karena tempat dudukku ditempati Veri sepulang dari Bogor? Mungkin itu salah satunya. Dan aku merasa itu konspirasi sebagai bukti bahwa dia tidak mencintaiku sepenuh hati.

Akhirnya sifat benciku datang. Kuanggap dia tidak benar-benar mencintaiku. Aku ingin mengatakan semua itu pada semua orang. Ketika mereka menyebut namanya, tolong jangan sebut nama itu di hadapanku. Kenapa? Aku ingin belajar untuk membenci dia.

Ketika rasa sayang telah mencapai titik kulminasi, titik jenuh rasa sayang itu akan tergantikan oleh rasa benci. Apakah rasa cintaku padanya sudah mencapai titik kejenuhan. Karena tidak mendapatkan kepuasan hati? Aku bingung untuk menjawabnya.

Sekarang aku seolah tak ingin bertemu dia lagi. Meskipun ketika sampai di kampus aku sudah janji mengantarkan dia. Ia malah bilang tak usah. Maka kupaksa saja. Sebelum berpisah dia sempat bilang, “Selamat tidur yang nyenyak aza.

Tapi jiwa yang penuh benci ini belum terobati. Menjadi ada masalah antara aku dan Veri, gara-gara masalah kecil dalam prasangka perjalanan. Aku tidak boleh membenci siapapun. Karena jika itu benar prasangkaku, niat dia baik, cuma sangat disayangkan tanpa etika yang diharapkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori