Oleh: Kyan | 15/07/2005

Jangan Sebut Namanya Lagi

Jum’at, 15 Juli 2005

Jangan Sebut Namanya Lagi

**

Apakah yang aku tulis ini bermanfaat bagiku dan bagi yang lain? Kurasa bermanfaat karena menggambarkan keadaan hatiku yang sedang kalut. Malam ini, rasa benciku masih menggerogoti jiwaku. Apakah rasa sayangku padanya akan semakin pudar.

Jika aku menemukan perempuan yang lebih baik dari dia, mungkin bisa jiwaku terobati. Tapi sampai detik ini, dia memang sangat menarik hatiku. Karena dialah seorang yang selalu semangat dan selalu memberi motivasi padaku. Jika aku bercengkrama dengannya, semangatku bangkit dan selalu mendapatkan ilmu baru. Muncul spirit baru untuk terus berjuang.

Namun apakah layak dia bagiku. Tidakkah dia terlalu baik bagiku. Apakah aku bisa mendapatkannya, bahkan lebih baik dari dia. Tapi kenapa aku begitu marah padahanya. Apakah karena cinta yang tertolak? Aku harus berpikir rasional. Masih banyak perempuan lain seperti dia, bahkan lebih baik dari dia begitu banyak bertebaran di bumi Nusantara ini. Lagian kenapa aku harus gampang menyerah.

Ayat al-Fatihah saja ada tujuh ayat. Maka menyatakan cinta pun bila masih ditolak, terus lagi berusaha menyatakan di setiap kesempatan sampai minimal tujuh kali. Jangan gampang putus asa dalam menghadapi suatu masalah. Harus yakin bahwa kita bisa mendapatkannya. Bagaimanapun caranya.

Aku bisa mendapatkan cinta dia. Aku yakin itu. Ap sih kekurangan aku? Akan menyesal dia kalau sampai ada perempuan menolakku. Jarang sekali bahkan tidak ada orang lain sepertiku. Memang pastinya tak ada  dua manusia yang memiliki satu karakter, sata wajah mirip denganku.

Aku benci dia. Aku gak mau bertemu dengannya lagi. Pokoknya aku benci dia. Tapi dipikir-pikir aku yang mulai membenci dia, akulah penyebabnya. Dia selalu baik-baik saja padaku. Dalam sikapnya dia tidak memperlihatkan hal-hal yang membuatku kecewa. Cuma karena itu saja dalam soal cinta yang membuatku sikapnya mengambang. Aku ingin bertanya padanya pernahkah terlintas di hatinya mencintaiku?

Pokoknya saat ini aku gak mau bertemu dia lagi. Masih banyak hal yang harus kukerjakan. Tapi kenapa harus menyiksa diri. Yang kukhawatirkan adalah ketika rasa sayangku sudah mencapai titik jenuh. Rasa sayang tergantikan dengan rasa benci. Dan dia malah sebaliknya mulai tumbuh rasa suka.

Kenapa sih dia menolak cintaku. Aku harus bagaimana biar bisa mendapatkan cinta-mu kekasihku. Memang rasa cinta tak bisa dipaksa. Kalau dipaksa hanya dapat membohongi diri sendiri saja. Aku tak bisa dan tak boleh memaksa dia. Namun aku tak akan berhenti agar dia luluh padaku.

**

Lebih baik perhatianku beralih pada perempuan utamaku. Kemarin di hari Kamis, datang sepucuk surat dari ibuku. Terima kasih Bu, engkau sudah memaafkanku, memaafkan anakmu. Masalah keluargaku yang berantakan ditambah lagi masalah perasaanku. Mengertikah semua orang akan segala masalahku. Apakah mereka tidak menerimaku karena aku orang miskin dan masa laluku yang kelam?

Aku tidak pesan kepada Tuhan terlahir sebagai orang miskin, dari keluraga broken home. Ini adalah memang jalan terbaik bagiku. Aku akan mengerti jalan kehidupan ini. Kesabaran dan kesyukuran yang hanya bisa aku lakukan. Aku tidak boleh membenci siapapun. Toh Allah lah yang membolak-balikan hati setiap orang.

Aku yakin akan datang suatu masa ketika seseorang yang mencintaiku sepenuh jiwa menghampiriku. Aku yakin dunia ini penuh dengan manusia yang bisa mencintaiku. Aku yakin akan hal itu. Kalau ingin mendapatkan sahabat yang sejati, aku haus menjadi sahabat yang sejati. Aku harus mencintai semua orang dan tidak boleh membenci siapapun. Balaslah segala kebatilan dan keburukan dengan kebaikan dan kebenaran. Akan kujemput bidadari, menantikanmu di batas waktu.

Merasakan apakah aku saat ini? Aku bersyukur karena Manajemen Operasi aku tidak perbaikan. Namun apakah aku sudah bisa dan menguasai materinya? Nilai SIM alhamdulillah bagus juga. Aku bisa ikut study tour ke Tazkia. Semuanya karena nikmat Allah. Kecewa karena cinta ditolak, kok bisa mempengaruhi segalanya.

Dia menolak karena Allah. Aku yakin diapun mencintai. Tapi dia begitu juga aku tidak ingin melupakan syariat dan juga melanggar prinsip yang telah dibangun. Yakinlah buah dari kesabaran akan terasa manis.

Duhai bidadariku yang entah dimana, aku akan menantimu sampai batas waktu. Jangan biarkan aku menyerah menunggu kedatanganmu. Kenapa semua ini begitu menyiksaku. Masih banyak teman dan sahabat yang begitu baik padaku, yang peduli padaku. Aku tidak boleh menyerah.

Aku ingin pulang kampung. Sampai dimana batas kesabaranku. Sampai dimana keteguhan dalam memegang prinsip hidupku. Kenapa hari-hariku selalu ingat dia. Apakah dengan jarang bertemu, rasa cintaku akan pudar? Makanya aku ingin tidak berteman dan bertemu selama beberapa minggu ini. Biarlah rasa rindu itu semakin menggebu-gebu dan cinta itu luruh dan lenyap ditelan debu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori