Oleh: Kyan | 22/07/2005

Pandai Menitipkan Perut

Jum’at, 22 Jul 2005

 Pandai Menitipkan Perut

**

Cinta seorang laki-laki diibaratkan sebuah gunung besar yang suatu saat akan meletus. Tapi cinta seorang perempuan seperti kuku yang terus memanjang secara pelan-pelan, yang dipotong bila sudah panjang akan sangat-sangat menyakitkan. Begitulah keadaan manusia tak akan ada habisnya membicarakan tentang cinta. Namun kadang ada orang yang begitu muak dengan persoalan cinta. Mungkin mereka sebenarnya tidak benci tentang cinta. Tapi mereka tidak mau menempatkan topik hal itu tidak pada tempatnya.

Makanya sejak sekarang sebelum aku berbicara dan bertindak harus bertanya dulu pada mereka, apakah yang akan kubicarakan dan lakukan akan bermanfaat bagi kamu atau tidak. Bila tidak menarik bagi orang lain lebih baik aku diam saja.

Jangan sekali-kali menyinggung kata “istri/suami/cinta/nikah”! Pikiranku bahwa menurut mereka terlalu dini kalau berpikiran tentang hal itu. Meski itu hanyalah pendapat dan maunya mereka, aku harus menghormatinya. Tapi aku akan tetap mencari ilmu tentang pernikahan. Mungkin sekedar mengoleksi dulu buku-buku tentang pernikahan.

Kamis aku mengajukan surat keringanan bayar SPP. Katanya aku terlambat karena yang lain sudah pake baju, sedangkan aku baru pakai sandal pergi ke kampus. Aku gak tahu sih. Tapi hari ini aku bisa memberanikan dulu masuk ke kantor al-Jamiah, ke bagian kemahasiswaan. Walaupun aku malu, aku mau mencoba meminta keringanan. Dan kalau bisa, aku akan memanfaatkan uang setengah keringanan itu kugunakan buat membeli buku di pameran buku nanti.

Di sisi lain aku ingin membeli handphone—akan lebih bermanfaat mana antara handphone dan buku. Kalau membeli handphone mungkin aku bisa silaturahim dengan teman-teman dan aku bisa memberikan informasi pada mereka tentang hal penting. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Kalau aku membeli buku, aku akan mendpat ilmu yang banyak. Dari orang lain juga bakal mendapat ilmu baru. Dan buku itu akan terwariskan kepada generasi mendatang. Kebutuhan akan handphone, mendesak tidak? Kata orang, handphone itu belum terlalu penting. Lantas cara menentukan prioritas itu bagaimana?

**

Hari Jum’at pagi saatnya hari registrasi. Tapi masih jadwal mahasiswa fakultas lain. Berangkat ke kampus langsung menuju ke Fakultas. Disana terlihat para stafnya sedang mengadakan SKJ, maklum hari Jum’at. Mereka sedang mengupayakan hidup sehat yang dapat menjadi contoh bagi mahasiswanya. Mahasiswa, akibat terlalu sering bergadang mengerjakan tugas, nongkrong-nongkrong, dan segala perilaku tidak sehatnya harus diberikan contoh bagaimana hidup sehat.

Aku berhasil mendapatkan “keistimewaan” bisa membayar SPP setengahnya. Aku sudah berjanji mau menggunakan uang setengahnya untuk membeli buku. Bukunya akan sangat bermanfaat buatku dan teman-teman. Bukan untuk kepentingan pribadiku sendiri dari perjuangan ini.

Mumpung masih pagi, segera aku menuju ruang kuliah tempat UAS kemarin dilaksanakan. Aku ingat pulpenku hilang dan mau kucoba mencarinya. Mencari pulpenku yang hilang kemungkinan sewaktu ujian berlangsung. Gara-gara diputusin dari talinya akhirnya hilang entah terjatuh dimana. Kucari kesana kemari, hasilnya nihil.

Itu kubeli pulpen sewaktu di Batam harganya kalau gak salah Rp 30.000,- lebih. Pulpen BIC berisi empat hilang juga, pensil mekanik sering hilang juga. Namanya juga makhluk, ada awal dan ada akhir, aku harus menyadari itu. Tapi tetap aku harus berhati-hati jangan sampai sedikit-dikit hilang barang. Bagaimanapun barang yang dimiliki adalah titipan, dan sebagai titipan harus dijaganya dengan baik. Tidak jatuh ke tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi aku harus mengikhlaskannya.

Ingat rumus Aa Gym dalam menyikapi harta dunia. Sikapilah seperti tukang parkir. Ia hanya mengaturnya, menatanya, baik itu kendaraan baru ataupun lama dianggapnya sama saja. Ketika kendaraan itu pergi, si tukang parkir tidak kecewa ataupun gundah gulana. Dia mengikhlaskannya saja semua pergi karena sebelumnya pun tak memiliki.

Berbincang dengan kawan-kawan tentang nikah mut’ah, mungkin aku telah salah menempatkan sesuatu. Mengadakan debat di tempat kerumunan orang. Aku yang terlalu memaksakan kehendak. Tapi pendapatku juga mesti dihargai, begitu juga aku harus menghargai pendapat orang lain.

Aku banyak mengobrol dengan anak-anak MKS-B saja. Teman MKS semuanya hampir seratus orang atau lebih. Ini harus dioptimalkan untuk saling berbagi keuntungan atau bahkan berbagi kesusahan. Jangan sampai kegembiraan hanya untuk sendiri, sementara kesusahan yang dibagi.

Omon bilang kita harus pandai-pandai menitipkan “perut/raga” pada siapapun dimana kita tinggal. Ketika mengalami kehabisan bekal dan kelaparan, mungkin dengan terpaksa kita dapat meminta kepada mereka. Meskipun tak akan semua orang yang dapat menerima kita. Pasti akan ada orang yang membenci kita. Aku harus menyadari akan hal itu.

Hari ini aku merampungkan segala perlengkapan yang dibutuhkan buat besok hari mengadakan rapat kerja di rumah Omon di Margahayu. Selepas Jum’atan seharusnya aku mengikuti rapat Panitia Taaruf. Aku bersama Johan adalah delegasi MKS untuk menjadi panitia Taaruf yang semua anggotanya dari masing-masing jurusan.

Aku malas keluar. Pertama sudah telat, kedua dengan terik matahari aku tak kuat panas. Akhirnya aku tertidur saja. Aku ingin banyak tidur supaya gemuk. Tapi orang Islam harus sering merenggangkan badannya antara tulang punggung dengan lantai. Begitu petuahnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori