Oleh: Kyan | 28/07/2005

Kumis Para Filosof

Kamis, 28 Juli 2005

Kumis Para Filosof

**

Ingin sekali aku silaturahim ke teman-teman SMU. Nanti setelah pameran buku aku akan silaturahim ke mereka. Selama ini aku selalu jenuh, karena tidak bergerak, diam saja di kosan. Siapa lagi orang dekatku selain teman-temanSMU-ku. Sampai hari ini aku hidup di Bandung tanpa ada sanak saudara. Makanya dekatilah orang yang sudah terbukti perhatian padaku.

Selama liburan ini akan kugunakan buat silaturahim ke teman-teman. Mungkin saja mendapatkan banyak hal dari keutamaan silaturahim. Rencananya ingin bertemu Cahyo, Djaka, Anggi, Fitrian dan Hafizh. Lebih baik aku main ke rumahnya. Supaya bisa bertemu keluarganya. Biar lebih akrab dan lebih dekat dengan keluarganya. Siapa lagi yang akan diminta pertolongan selain orang-orang dekat denganku secara syariat. Walaupun secara hakikat yang berhak diminta pertolongan adalah Allah.

Bukankah fimran-Nya, berjalanlah ke seluruh penjuru bumi, niscaya akan kau temukan tanda-tanda kekuasaan Allah. Bumi itu luas dan carilah karunia-Nya. Teori gerak Masrukul Amri, bergeraklah! Jangan takut untuk melangkah. Lebih baik berbuat seribu macam tindakan dan semuanya gagal daripada berbuat satu tindakan dan berhasil. Mungkin itu realtif, tergantung konteksnya.

Hampir setiap hari aku selalu ke warnet. Warnet harus dijadikan sebagai sarana sekolah kehidupan. Kali ini aku ke warnet dengan Robbi dan Inonk. Di jalan ketemu kang Ryan, anak Furistif LDM. Katanya aku beda sekarang, berkumis. Dalam hadits, kurud kumis dan panjangkanlah jenggot. Tapi kenapa banyak ulama yang malah sebaliknya. Memanjangkan jenggot, hanya sedikit orang yang melakukannya. Bagaimana menginterpretasikan maksud sebenarnya dari hadis itu.

Dulu Rasulullah bersabda begitu untuk membedakan dari musuh, supaya bisa membedakannya antara mana kawan dan mana lawan ketika peperangan. Karena kedua kubu sama-sama memakai jubah yang sekarang dianggapnya itu “pakaian islami”.

Memang asbabun nuzul hadits itu bagaimana? Sekarang sudah zaman globalisasi, dimana sudah terjadi arus orang seperti benang kusut, ia berkelana kesana-kemari ke segala penjuru bumi, demi sunatullah mencari penghidupan.

Bukankah Sayyid Quthb, penulis Tafsir fi Zhilal yang dianggap fundamentalis juga memanjangkan kumisnya. Begitupun Muhammad Iqbal seorang penyair-filosof kumisnya baplang, yang itu ternyata di India-Pakistan pemuda-pemudanya sampai sekarang masih mempertahankan berkumis baplang. Mungkin itu budayanya begitu. Aku harus lebih banyak belajar lagi, karena aku tidak tahu apa-apa.

**

Hari ini aku mengirimkan tugas Marketing lewat e-mail, ditemani Fakot yang juga sama mau mengirimkan tugas meminta bantuanku. Lalu aku diajak mampir ke kosannya. Asalnya dia orang Bogor dan sangat mahir menggiring bola sepak.

Di jalan tak sengaja bertemu kang Jojo, yang katanya sekarang terpilih jadi Ikatan Mahasiswa PUI. Dia orang Majalengka pertama kali mengenalnya dia sering main ke asrama tempat tinggalku: Asrama Kurnia. Karena di asrama Kurnia, banyak mahasiswa asal Majalengka. Majalengka adalah basis terkuat organisasi PUI selain Sukabumi.

Ia bilang mau mengganti buku yang hilang itu. Ya, dia meminjam koleksi bukuku dan katanya hilang. Dia mengajakku main ke toko buku emperan kampus dekat gedung perpustakaan. Aku dipersilakan mencari-cari judul buku yang kira-kira harganya sama dengan buku yang hilang itu.

Lalu aku tertarik dengan buku cover hitam berjudul, “Tuhan di Mata Kaum Filosof”, penulisnya Etiene Gilson. Ada juga buku “Renungan Seorang Pemuda Muslim” penulisnya Ismail F. Alatas. Keduanya buku berwarna hitam dan judul yang menarik minatku. Diantaranya aku harus memilih salah satu. tapi aku bingung memilih yang mana.

Akhirnya aku lebih memilih buku judul pertama. Kalau buku Renunganan, mungkin lain kali aku dapat membelinya sendiri. Buku pertama dikasih, meski buat mengganti bukuku yang hilang. Setelah kubaca beberapa lembar, kurasakan isinya terlalu berat. Isinya membicarakan sejarah para filosof, mulai sejak Yunani sampai abad kontemporer tentang pandangan mereka terhadap Tuhan.

Aku harus membaca lagi meskipun sudah tamat. Seperti para filosof muslim dulu membaca buku-buku karya filosof Yunani banyak diulangi lagi sampai beberapa kali. Dan harus kubaca lagi buku “Sejarah Tuhan”-nya Karen Armstrong dan buku “Tuhan dalam pandangan al-Tbatathati”. Selalu Tuhan yang dibicarakan dan dalam pandangan kaum filosof. Lalu menurut ahli Tasawuf bagaimana tentang Tuhan. Banyak yang belum aku tahu.

Aku juga ingin membeli kamus Filsafat, kamus bahasa Indonesia dan kamus istilah populer. Meskipun isi bukunya terlalu berat, toh itu buku pemberian gratis. Membeli buku Tuhan menurut kaum filosof sudah terjadi, tak perlu disesali. Suatu saat bakal terasa manfaatnya dan pasti akan dapat hikmah dari buku tersebut. 

Sedikit mengenai isinya bahwa orang-orang filsafat bermula dari Thales (orang Miletus), Socrates, Plato, dan Arisoteles (dari Yunani), Augustinus, Thomas Aquinas (wakil Kristen), Rene Descartes, Malebranche, Spinoza, Kaum Deis (wakil Modern), Kant, Comte, Huxley, Bacon (Kontemporer, Neo-Modern, Posmodern).

Thales mengatakan segala sesuatu berasal dari air dan segala sesuatu penuh dengan dewa. Dewa yang dimaksud adalah dewa dari mitologi Yunani. Katanya dewa yang dimaksud adalah kekal, tidak pernah mati. Dan menurut Plato Tuhan sebagai kebaikan dan ketidakterbatasan sesuatu yang memikirkan dirinya sendiri (self). Lalu kaum Kristen ingin menyatuan pemahaman Tuhan menurut filosof Yunani dengan Tuhan yang dimaksud dalam Alkitab.

Tuhan telah berfirman kepada Musa: Aku adalah Aku. Dia adalah Dia.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori