Oleh: Kyan | 30/07/2005

The Sword of Tifu Sultan

Sabtu, 30 Juli 2005

The Sword of Tifu Sultan

**

Hari ini mengantar Dudi mengirim tugas Marketing lewat e-mail. Setelah itu kami bersepakat mau main ke Palasari. Memang kita tidak bisa hidup sendiri yang sering membutuhkan pihak lain untuk menyelesaikan suatu persoalan. Karena pergi ke Palasari dibonceng motornya, mesti mencari helm mau untuk dipinjam. Kalau sampai gak dapat, seperti kata Dian bulan-bulan lalu, berarti teman-temanku belum banyak.

Akhirnya kudapat juga helm. Jalan Soekarno Hatta begitu teriknya sengatan sinar matahari. Karena ruas jalannya lebar dan cenderung lurus dari bunderan Cibiru sampai Leuwipanjang bahkan sampai Elang. Nanti di akhirat bakal lebih panas lagi. Kulitku akan lebih hitam legam lagi kalau sering di lapangan. Sudah lagi kata temanku terasa ada perbedaan antara waktu SMU dengan sekarang. Jadi waktu tiga tahun aku sudah berubah. Kulitku semakin keriput dan tidak seputih dahulu. Apakah gara-gara ke Batam?

Tidak hanya menurut orang lain, menurutku sendiri ketika bercermin, terasa ada perubahan antara pertama kali ke Batam dengan sewaktu pulang dari sana. Sekarang aku di Bandung sudah setahun pas banget. Soalnya waktu pulang dari sana bulan Juli juga dan bulan Juli sudah mau berakhir. Apakah berbahaya lagi seperti dahulu. Kulitku putih dan bersih. Mungkin kulitku harus dirawat. Memakai Citra White lotion dan sering memakai masker.

Menjadi alasan kenapa aku mau untuk ketemu teman-teman SMU. Dulu aku sering dibilang kayak orang china, si bule, tinggi, ganteng. Lalu bagaimana dengan sekarang, apakah sekarang masih begitu, agak berubah, atau berubah banget? Akhirnya aku malu untuk bertemu.

Uangku lebih banyak dibelikan buku daripada buat ongkos atau telpon teman-teman. Mungkin suatu saat kalau sempat aku bakal ketemu mereka dan aku sudah jadi intelektual Muslim—berkhayal tidaklah dilarang. Dan telah menghasilkan sebuah karya monumental.

Di Palasari aku belanja buku menghabiskan uang Rp 96.000,- Akhirnya ada buku yang bisa menyelesaikan teka-teki pertanyaan waktu kecil. Tentang siapakah Tifu Sultan dan Haidar Ali itu dalam film yang aku tonton sewaktu kecil: The Sword of Tifu Sultan yang dulu tayang di TVRI. Ingin menonton itu film. Film tentang kisah penguasa klasik Islam di Hindustan.

Nanti aku mau membeli buku, Renungan Seorang Pemuda Muslim. Dan puisi Rumi yang disuguhkan Nicolson. Nicolson memiliki murid, bernama Leslie Wines, juga mengarang buku biografi spiritual Rumi, “Menari Menghampiri Tuhan”.

Itu kuketahui dari buku “Seratus Muslim Terkemuka” yang ditulis Jamil Ahmad, dari Pakistan. Dalam buku tersebut beliau masuk kategori: Penguasa, Negarawan, dan Administrator. Tentang film Tifu Sultan, kuingat dulu setiap malam minggu kami bocah-bocah selepas pengajian berlarian dari masjid besar kampung menyusuri gelangan sawah dalam gelap, untuk sampai di rumah Uwaku yang punya televisi. Lumayan jauh tempatnya, tapi demi film favorit rintangan apapun dihadapi.

Tidak setiap malam minggu aku menonton, tapi membekas dalam setiap adegannya. Dan sekarang ingin melihat lagi bagaimana itu maksud dan keseluruhan itu film. Ingat ketika adegan episode akhir, Tifu Sultan sedang makan ternyata istana sudah terkepung oleh pasukan Inggris. Beliau berperang habis-habisan dan meninggal. Beliau diusung dan diarak rakyatnya menuju lahat, diiringi lantunan membaca surat Yaasin.

Dalam pertahanan serbuan, penyerbu  yang terdiri tiga koalisi: Inggris, Mahratta, dan Nizam mengajak bersekutu. Tapi Tipu Sultan yang bernama panjang Sultan Fateh Ali Khan Padshah, sebagai Putera Haider Ali berkata dengan lantang: “Hidupnya seekor singa sehari masih lebih berkenan ketimbang ratusan tahun hidupnya seekor serigala”. Karena keberanian dan ketakutannya oleh Tifu Sultan, ibu-ibu Inggris ketika memarahi anak-anaknya yang bandel, sering dengan berteriak, “He Tipu datang, ayo diam”

Memang dramatis endingnya. Karena ini diambil dari kisah dan tokoh nyata. Seorang Sultan dari Mysore dengan gelar besar Singa Dari Mysore. Karena konspirasi dari dalam (Mir Sadiq) dan yang menyerbu adalah koalisi tiga sekutu, dimana serdadu saat itu sedang mengantri menerima gaji. Meskipun para tentaranya sangat pemberani, kalau sedang sibuk dan tidak siap berperang, akhirnya begitu mendapat gempuran menjadi terkalahkan.

Mengetahui kelengahan istana, pasti karena seorang pengkhianat. Mir Sadiq sebagai pengkhianat terdokumentasi dalam syair Iqbal: “Jafar dari Bengal dan Sadiq dari Deccan, adalah corengan atas kemanusiaan, aib atas agama dan malu atas negeri”. Kuperoleh video-nya di Youtube beberapa episode. Tapi tidak ada terjemahnya bahasa Indonesia. Masih asli berbahasa Hindi. Karena filmnya dari sana.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori