Oleh: Kyan | 01/08/2005

Abu Dzar, Sosialis Sejati dan Syndrome

Senin, 01 Agustus 2005

Abu Dzar, Sosialis Sejati dan Syndrome

**

Hari ini aku tidak kemana-mana. Menyibukkan diri mengklasifikasikan buku perpustakaan pribadiku. Pagi-pagi aku lari ke Manglayang dan aku mencoba menelusuri jalan-jalan kecil. Lokasi SMAN 26 Bandung dan SMK Krida Nusantara tempatnya jauh dari jalan raya dan suasananya jauh dari kebisingan kendaraan.

Ketika langkah demi langkah menyusuri jalan sering menyembul pikiran-pikiran yang tanpa diduga. Tadi terpikir di jalan, kenapa aku tidak dilahrikan disini di sekitar Cibiru. Mungkin karena inilah takdir Tuhan. Anda dilahirkan di sebuah kota adalah takdir, anda dibesarkan dengan berbagai cara adalah pertanggungjawaban orang tua anda, dan menapaki kehidupan dan mengakhiri kematian adalah keputusan anda.

Ketika menginginkan jodoh yang sempurna menurutku, belum tentu baik menurut Allah. Katanya begitu yang sering dilontarkan orang dan memang sudah kutemukan dalilnya dari Alquran untuk kita tetap bersemangat dan kuta. Hanya kadang kesabaran kian memudar akibat tidak tahan dengan cobaan yang datang bertubi-tubi. Aku harus bertawakal kepada Allah.

Belum sempat juga aku menulis untuk dikirim ke Mizan, mencoba meresensi buku-buku terbitan Mizan. Aku ingin menulis artikel. Kalau artikel harus panjang, jadi lebih baik menulis resensi buku mungkin ini aku bisa. Tapi kemampuan itu harus dapat dibuktikan. Aku belum mencoba dengan serius.

Menulis adalah sebuah keterampilan hidup. Dari artikel yang kubaca tadi. Melalui membaca dan menulis, tentang diri sendiri akan banyak yang akan diraih. Seolah kita punya sayap, metafora, imajinasi untuk terbang tinggi menelusuri lintas pikiran pengarang buku.

Aku masih membaca biografi Seratus Muslim Terkemuka karya Jamil Ahmad. Terkesan dengan pribadi Abu Dzar, sang sosialis sejati, pembela kaum egaliter, atau Mustadafin. Dia berani berkata benar di hadapan penguasa Khalifah Utsman. Namun beliau tetap patuh pada penguasa. Begitu juga kisah tragis Husain bin Ali di Karbala. Ketika beliau shalat, kepala anak Singa Tuhan itu dipenggal dan tubuhnya diinjak-injak dan terus diarak. Beliau tidak pernah tunduk pada penguasa dzalim Yazid.

Kesalehan Umar bin Abdul Aziz, hidup sederhana dan mengayomi rakyat miskin. Beliau tidak pernah memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Sampai penerangan lampu umum tidak boleh dipakai untuk pribadi. Meminjam kertas kecil saja, beliau menggantinya. Memang harus dari hal-hal kecil dalam melatih kejujuran.  Fritjop Scoun “Muh Isa Nuruddin” beliau seorang intelektual Islam dari Jerman kelahiran Swiss. Buku karangannya “Memahami Islam” dan pengusung perenial, Kesatuan Agama-Agama.

**

Rencananya memang aku seharian di rumah saja. Mau menyelesaikan membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Tapi Yedi tiba di kosanku, sengaja berangkat dari rumahnya di Cililin demi untuk mengirim tugas ke warnet. Di warnet aku diberi tahu bahwa ada cara penerjemahan bahasa Inggris melalui Transtoll dan diberi tahu cara operasinya. Pulangnya, aku ditraktir makan di tempat yang kupikir adalah warung makan paling enak di Cibiru: Warung 305. Maka pantas saja mahal bagi orang-orang sepertiku. Terima kasih Yed…

Nanti rencananya dengan Reza mau main ke Cililin ke rumah Yedi. Seperti mingu-minggu kemarin bersama Veri. Tapi kapan waktunya masih belum jelas. Direncanakan di waktu liburan semester ini. Rencanaku juga ingin pulang ke Tasik, tapi bingung dengan ongkosnya yang mahal.

Pulang ke Tasik, kira-kira bakal menghabiskan Rp 50.000,- Tapi aku juga ingin silaturahim ke teman-teman SMU, tapi yang pasti perlu ongkos juga. Aku disuruh nelpon lagi oleh Rina ke handphone-nya. Nasib ya nasib tidak punya handphone. Kok, aku perhitungan sih biarpun buat menelepon seseorang.

Uang yang ada cuma Rp 150.000,- sudah kupersiapkan untuk membeli buku di Book Fair. Bagaimana kedepan kalau mau membeli buku, hanya dijadwalkan kalau ada pameran buku saja. Tidak setiap bulan ini harus membeli buku.

Kira-kira dalam setahun, pameran buku berapa kali. Biasanya ketika tahun ajaran baru dan bulan baru Hijriyah, Muharram. Mungkin bulan Ramadhan juga. Mumpung diskonnya besar, membelinya hanya ketika pameran. Hanya alasan membeli buku, bukan karena temanya ingin dibaca, tapi karena harganya yang murah. Apalagi buku yang dibaca ada kemungkinan sia-sia kalau tidak diikat dengan tulisan.

Masih banyak yang belum kubaca buku-buku di perpustakaan kampus dan daerah. Tapi koleksi bukunya tidak menarik minatku. Buku-bukunya sudah kumal, sudah ketinggalan gagasan, dan gak selera untuk dibaca. Buku yang kubaca lebih enak yang kubeli saja. Karena akan memaksaku untuk membacanya sampai tuntas. Bila tidak tuntas akan percuma keluar banyak duit.

Kenapa sih aku ini begitu suka pada buku. Karena hobi atau apa kebutuhan. Orang kalau hobi itu, semuanya akan dikorbankan untuk hobi. Ada hobi baik dan hobi busuk. Lebih baik hobi buku daripada hobi maksiat. Apakah aku syndrome, karena aku haus ilmu?

Mendapatkan ilmu kan bukan cuma dari buku. Banyak sumber-sumber lain seperti silaturahim, berbincang-bincang, menghadiri majelis pengajian, dan sebagaimana. Silakan pilih mana yang murah ongkosnya. Tapi aku sukanya dari buku. Karena mungkin tipe belajarku visual, meraih pembelajaran dari melihat. Karena aku berpedoman, lakukanlah menurut kamu bila itu yakin benar, meskipun orang lain mencelanya. Baik dan buruk pasti akan ada orang yang selalu memberikan komentar….[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori