Oleh: Kyan | 02/08/2005

Menakar Buku, Menulis Pluralisme

Selasa, 02 Agustus 2005

Menakar Buku, Menulis Pluralisme

**

Pagi-pagi ketika kubaca Tafsir, Dudi muncul dengan motor Honda-nya. Ia berangkat dari rumahnya di Cimahi jam enam dan sampai di Cibiru jam setengah tujuh. Tergolong berkendara tidak begitu macet jalannya. Tadinya aku mau sendirian saja ke Book Fair.

Kami berangkat jam setengah tujuh melewati jalan tikus menuju Braga. Sampai di Landmark jam sembilan lebih. Tiba di sana pintu masuk pameran belum dibuka. Setelah dibuka, diantara kerubungan orang-orang aku langsung menyerbu masuk dan berkeliling-keliling. Dan kucari konter Mizan.

Begitu kutemukan konter Mizan, sebelumnya aku kecewa karena tak ada diskon gede. Tapi akhirnya kutemukan konter Mizan lain setelah kukelilingi semua konnter. Konter yang memberi diskon gede adalah Mizan, Pustaka Alkautsar, Mapi dan sisanya kebanyakan berdiskon sepuluh sampai duapuluh persen. Nanti aku mau ke sana lagi mau membeli lagi buku.

Tadi aku belanja buku sampai duaratus lebih. Sabtu kemarin belanja buku menghabiskan seratus ribu. Rencana mau ke sana lagi, mau berbelanja lagi cukup seratus ribu saja. Kebanyakan buku-buku yang kubeli hampir semua dari kounter mizan. Buku-buku terbitan Mizan-lah yang kuminati.

Sedang kuminati adalah buku-buku filsafat, tasawuf, teologi, sejarah, dan sastera. Lagian Mizan tuh buku-bukunya bermutu. Apalagi cover-cover bukunya dan tata tulisannya sangat menarik untuk membacanya. Lalu di konter Pustaka Al-kautsar ada buku murah Ensiklopedi Sunnah-Syiah. Kubeli gak ya Ensiklopedi Sunnah Syiah. Isi bukunya pasti membahas perdebatan-perdebatan antara Sunnah, Sunni dengan Syiah. Seperti dikatakan di sampul belakangnya, perbedaannya seperti Timut dan Barat. Apakah itu dibuat-buat. Terlalu dibesar-besarkan, terlalu tendensius membeda-bedakan? Apakah itu benar? Ingin juga aku membaca dan menelaahnya. Kayaknya aku harus beli. Tapi menyesal gak kalau kubeli itu buku.

Tempo hari Kang Jojo memberiku pilihan diantara dua judul buku, buku yang kupilih ada di konter Mizan diskon setengah harga. Sementara buku yang kuminat tidak ada di konter harga normal atau yang dikson. Aku kecewa. Makanya sekarang mumpung sedang diskon 50 persen aku mesti ngeborong semua.

Membaca buku bagiku manfaatnya adalah menambah memperkaya perspektif, wawasan menjadi, dan mampu mengimbangi dalam sebuah obrolan karena otaknya jalan. Filsafat manfaatnya untuk mencari dan mengukuhkan nilai-nilai fondasi keislaman, mendekonsruksikan pemahaman yang memberhalakan materialisme, dan merekonstruksi pemikiran yang komprehensif, yang bisa menghadapi segala tantangan zaman.

Tadi di acara Radio membahas masalah pluralisme. Pluralisme dalam akidah, akupun tak setuju. Tapi pluralisme dalam bidang muamalah aku sangat setuju. Yang dimaksud paham pluralisme oleh MUI diharamkan pluralisme yang mana?

**

Kuperoleh pemasukan enamribu rupiah, pengeluaran sepuluhribu rupiah. Selalu besar pasak daripada tiang. Bagaimana agar bisa mendapat penghasilan yang lumayan. Tausiyah pak Miftah Farid di MQFM tentang etos kerja muslim. Seorang muslim pantang untuk sia-sia. Bila penghasilan masih kecil teruslah dipertahankan dan diperbesar.

Ada kisah zaman Rasul, dimana ada orang sedang butuh uang buat makan. Dinasihati, jual saja pakaianmu. Pakaian satu-satunya. Dinasihati lagi, jual sorbanmu. Sampai sebegitunya kemiskinan yang menimpanya. Berilah kapak, atau palu, atau kail supaya mandiri mencari sendiri jalan rezeki. Selama ini aku selalu meminta-minta. Minta ke ibu, memohon beasiswa, dimanakah itu disimpan harga diri.

Tapi aku kan sedang kuliah. Biar bisa konsentrasi menuntut ilmu harus dicukupkan materi. Bagaimanapun ingin sekali aku mandiri dalam finansial. Aku pun merasa malu meminta terus ke orang tua. Peluang usaha bisa kita ciptakan. Apa yang kira-kira tepat untuk dijual sebagai mahasiswa. Mesti jualan apa.

Menulis artikel, meresensi buku, menjual buku, jasa pengetikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan menulis. Aku harus terus berlatih menulis. Jangan sampai berhenti berlatih. Aku harus mencoba mengirim tulisan ke Mizan-Online. Apakah aku harus ikut sekolah menulis di MLC untuk bisa menulis? Nanti akan kubuka situsnya lagi.

Keterampilan yang diperlukan nanti di dunia kerja adalah komputer dan bahasa. Microsoft office harus dikuasai. Komputernya sudah ada. Buku panduan sudah ada. Tinggal praktik. Aku harus mampu membuat buku . Apakah selama ini tekadku belumlah kuat, keinginanku belum mantap. Mungkin nanti juga ada waktunya.

Aku ingin menularkan pikiran-pikiranku ke publik untuk perubahan umat. Kurasa referensi yang kupunya sudah cukup untuk dijadikan bahan-bahan untuk membuat buku. Suatu saat aku bakal menjadi seorang penulis hebat. Seperti Cak Nur, Cak Nun, Azyumazri Azra, Afif Muhammad, Kang Jalal, Quraish Shihab, Hernowo, Haidar Bagir, Ari Ginanjar, Aa Gym, dan banyak lagi.

Dalam menulis mulailah dengan cerita menarik yang dapat membuat orang meneruskan membaca. Memang kebanyakan begitu. Kang jalal begitu selalu memulai paragraf awal dengan mengangkat sebuah kisah menarik.

Ahmad Jamil pengarang Seratus Muslim Terkemuka juga begitu. Paragraf pertama dalam memulai sepak-terjang tokoh-tokoh yang diangkat dimulai dengan sebuah cerita. Dalam menulis harus bernada obrolan. Memang arus sering membaca buku-buku sastra. Dari tulis-menulis bisa menghasilkan sebuah karya yang maha besar. Finansial yang cukup, dan bisa mendapatkan kepuasan batin.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori