Oleh: Kyan | 06/08/2005

Menjadi Modernis Bersama Islam

Minggu, 07 Agustus 2005

Menjadi Modernis Bersama Islam

**

Pagi-pagi di hari Sabtu aku masih di Cibiru Bandung. Tapi jam dua siang sudah ada di kampung di daerah Tasik selatan. Tepatnya di kampung Citamiang Tawang Pancatengah yang jaraknya beratus-ratus kilo dari kota. Tidak hanya jauh dari kota Bandung, tapi juga tidak dekat dari kota Tasikmalaya. Bahkan jarak antara kampungku dan kota Tasikmalaya ternyata lebih jauh dibandingkan jarak kota Tasik dengan Bandung. Tapi berkat teknologi transportasi, jarak yang sangat jauh bisa ditempuh lima jam.

Aku dilahirkan dari kampung. Tapi aku mampu berkompetensi dengan orang-orang kota. Aku harus menguasai dunia teknologi. Komputer, internet, bahasa Inggris dan Arab. Kalau aku jadi orang yang bermanfaat bagi umat dan bangsa, tentu kampung halamanku akan bangga memiliki anak daerah sepertiku. Aku melakukan upaya untuk terwujudnya semua yang aku cita-citakan dan angankan. Bukan sekedar ingin mendapatkan pujian. Tapi ini sebagai aktualisasi diri bahwa aku seorang pemuda muslim, sebagai harapan umat dan bangsa.

Aku meyakini Islam bisa dan mampu menghadapi segala tantangan zaman. Jangan hanya sekedar mengusung slogan “Islam is the solution”. Tapi perlu diuraikan lagi ke dalam hal-hal realitas kondisi sebenarnya. Diperlukan tahapan-tahapan tertentu yang pasti akan mendapatkan kesulitan-kesulitan.

Tugas pemikir dan cendekiawan muslim untuk merumuskan Islam yang bisa menghadapi tantangan zaman. Diperlukan sebuah perjuangan dan pemokusan pikiran agar bisa menghasilkan premis-premis yang tidak keliru. Perlu mentafsirkan prinsip-prinsip dasar Islam berdasarkan kontekstual.

Untuk mencari autentisitas Islam diperlukan pemikiran yang progresif. Menjadi modern bersama Islam. Begitu isi buku karya Tariq Ramadhan yang kubaca hari ini. Inti buku itu bahwa Islam harus menerima modernitas. Prinsip-prinsip dasar modernitas seperti rasionalitas, kebebasan, adalah juga prinsip-prinsip Islam. Tuhan memberikan akal kepada kita. Tiada ketundukan selain kepada Tuhan. Iman yang paling tinggi adalah menyatakan kebenaran di hadapan pemimpin yang dzalim.

**

“Lulus SMP langsung menikah.” Begitulah ia bercerita padaku di bus perjalanan dari kampungku. Aku berkenalan dengannya. Namanya Siti, lulusan SMP 3 Pasundan. Katanya dia mau main ke Tanjungsari. Lalu ada kejadian lagin, sewaktu di bis Budiman ada orang pingsan. Seorang perempuan yang dari wajahnya sudah berusia kepala tiga. Katanya dia sedang mencari saudaranya di Ciamis, tidak ditemukan maksud tujuan. Memang dia tak memegang alamatnya, hanya berdasarkan tekad saja katanya. Karena hasilnya nihil, balik lagi ke Bandung. Mungkin karena pusing dengan kekalutan pikirannya, dia jadi pingsan.

Mungkin dia tidak benar-benar tanpa informasi dia sampai Ciamis. Mungkin dia membawa sedikit petunjuk. Hanya mungkin orang yang sedang dia cari tidak ada di tempatnya. Bahkan, di hati kecil terlintas jangan-jangan dia gak punya ongkos karena kehabisan bekal. Dia berpura-pura pingsan saja supaya bisa gratis sampai di Bandung.

Pikiran negatif harus dikendaikan. Kondektur terlihat kurang ikhlas menanganinya. Aku telah berprasangka buruk saja pada orang lain. Mungkin bisa saja ia sudah dinikahi atau bahkan dihamili oleh laki-laki orang Ciamis yang sekarang sedang dia cari. Ia mau mencari keberadaan dia untuk minta kesediaannya bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Mungkin begitu salah satu kemungkinan ceritanya.

Di bus aku lebih banyak diam, tidak terlalu banyak mengobrol dengan Siti, pasangan tempat dudukku.  Kenapa aku jadi canggung begini. Aku takut omonganku menyinggung hati. Aku hanya sempat bertanya, kenapa gak dilanjutkan sekolahnya. Dia terlihat masih terlalu polos. Dia belum dewasa. Apakah aku terlalu cepat menilai orang lain? Aku tak boleh gegabah ketika menilai seseorang.

Hikmah yang kudapatkan dari perjalanan pulang ke kampung halaman. Diantaranya pembangunan fisik seperti rumah, masjid dan apa saja telah mengalami kemajuan. Tapi apakah sudah dibarengi dengan pembangunan ruhani itu yang sedang membenak di pikiran. Dimana-mana diperindah bangunan fisik, tapi sering dilupakan unsur spiritual manusia.

Akupun sedang memiliki kerusakan spiritual. Pulang kampung tapi tidak bertemu dulu dengan ayahku yang sudah sekian lama tak bertemu. Apalagi baru-baru ini sedang ditimpa musibah kecelakaan motor dan kakinya tergilas.

Bibiku menasihatiku, datanglah dan temuilah ayahku. Bibi Ika rupanya sedang mudik ke Citamiang dan sudah lama tak bertemu. Dulu sewaktu kecil kalau pulang lebaran aku sering diberinya uang jajan. Pasti itu setiap kali mudik lebaran.

Rupanya hatiku masih beku untuk dapat bertemu ayahku. Kubilang saja, biarlah aku mendoakannya dari jauh. Karena sudah terburu-buru harus pulang lagi ke Bandung. Memang kusadari sebaiknya aku menemuinya. Tapi aku tak punya daya atau magnet atau aura yang menarikku untuk datang ke tempatnya. Padahal hanya beberapa kilometer saja dari rumah nenekku di Citamiang dengan rumah Uwa-ku di Cipadung. Tidak akan memakan perjalanan sehari meskipun dengan berjalan kaki.

Mungkin aku mau saja kalau diberi uang. Sekarang aku sedang butuh bekal kuliah. Mana pertanggungjawaban orang tua untuk membesarkan anak-anaknya dengan memberikan pendidikan yang cukup. Memang, setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Hanya saja kemampuan orang tua tak dapat diandalkan. Tapi bagaimanapun aku harus memakluminya dengan ketidakmampuannya.

Aku harus berjibaku sendiri mencari peluang-peluang. Untuk menjemput uang, harus dengan uang. Aku selalu berusaha untuk memberikan uang pada orang yang meminta sumbangan pembangunan masjid. Tapi aku sekarang mulai berpikir, biarlah orang lain yang membangun fisiknya, sedangkan aku yang akan membangun spiritualnya. Akan kubangun perpustakaan yang lengkap yang menyediakan literatur lengkap. Literatur dibutuhkan untuk membangun kualitas SDM yang mampu menghadapi segala tantangan zaman. Aku harus bisa menggerakkan umat ke arah yang lebih baik.

Aku harus mensucikan hati, biar hidayah dan ilham datang dengan mudah. Aku ingin membiasakan salat Tahajud lagi. Kenapa aku merasa kesulitan? Apakah makanku kebanyakan? Sekarang makanku semakin jarang. Nafsu makan berkurang. Lebih banyak menyediakan makanan akal. Perjalanan pulang aku bisa mendapatkan banyak hikmah dan mampu menamatkan satu buku karya Tariq Ramadhan: Menjadi Modern Bersama Islam.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori