Oleh: Kyan | 24/08/2005

Obat Hati Ayu dan Nurul

Rabu, 24 Agustus 2005

Obat Hati Ayu dan Nurul

**

Sudah lama sekali tak kulakukan salat Tahajud. Susah sekali untuk bangun malam selepas seharian melakukan berbagai kegiatan kampus. Menurut Imam Ali, “Tanda orang muttaqin adalah orang yang bangun di tengan malam untuk salat dan memohon ampunan.” Keuakui keimananku memang lemah. Jangan merasa saleh, mentang-mentang sering salat berjamaah di masjid. Tidak punya pacar bukan berarti tak rental melakukan maksiat.

Amalku belumlah seberapa dibandingkan orang lain. Mudah-mudahan aku dibimbing untuk bisa istikomah. Meski beramal sedikit, tapi konsisten kulakukan. Memang sampai disitulah kemampuan ibadahku. Ingin sekali dibangunkan tengah malam dan diberi kekuatan untuk salat dan memohon kepasrahan kepada sang Pencipta.

Solusinya aku harus bermalam di masjid, seperti saat kecil dan remajaku dulu di kampung. Kalau tidur di masjid mau gak mau sebelum Subuh harus bangun. Malu kalau tidak bangun oleh orang yang salat dan sedang menunggu Subuh. Mungkin sekarang dapat diusahakan dengan tidur di tempat-tempat lalu-lalang orang, seperti ruang tengah rumah atau di terminal sekalian. Seperti dulu kulakukan di stasiun Tasik untuk pulang.

Masjid yang biasa aku salat di sana, kalau aku ditakdirkan mampu salat subuh di masjid, kebanyakan jamaah kalangan tua. Mahasiswa paling petugas masjid, kang Abdul Rasyid, anak jurusan Tafsir Hadits. Tidak lebih. Kampus Islam saja disebutnya, tapi perilakunya sama saja dengan pemuda-pemudi lainnya, yang rentan terjerat nafsu dan kemalasan.

Begitu juga dengan Dzikir al-Matsurat aku merasakan malas sekali. Aku pernah merasakan hati terasa damai ketika mengamalkan dzikir ini. Begitupun salat Duha dan saum Senin Kamis. Tapi itu dulu, dulu sekali. Dan tidak tahu apakah aku dapat kembali ke masa lalu, kepada nuansa saat itu?

Kapankah aku dapat memulai lagi agar bersikap istikomah. Obat hati ada lima perkara: bergaul dengan orang saleh, salat malam dirikanlah, perbanyaklah berpuasa, banyak membaca Alquran, dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Menyangkut membaca Alquran, sekarang aku lebih suka membaca tafsirnya. Hanya membaca satu ayat, tapi berusaha untuk memahami maknanya lewat tafsir para pakar tafsir Alquran.

**

Menikmati pagi dengan melihat orang-orang berlalu lalang. Mengamati mereka dari balik kaca jendela kamar, sambil mencerap perasaan untuk dituangkan ke dalam tulisan. Banyaknya mereka menuju bawah ke jalan raya dibanding menuju atas tempat banyak pemukiman.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan munculnya satu perempuan yang kukenal. Bersama satu perempuan lagi, tapi tidak kukenal. Karena kacanya gelap, dari luar dia tidak bisa melihatku. Tapi dari dalam dengan jelas aku dapat menatapnya, bagaimana kerlingan matanya yang hidup. Bagi siapa lelaki yang ditembus oleh pandangan matanya, niscaya dia akan bertekuk-lutut. Akh, mungkin aku berlebihan menggambarkan pesonanya.

Sudah berdiri mereka di pintu kosanku. Ia menampakkan wajah Ayu-nya sambil menyunggingkan senyumnya. Pemilik nama lengkap Ayu Srirahayu, seorang anak Stikes Bhakti Husada yang kini berpindah kuliah di kampusku. Entah maksud kedatangannya mau memberitahukan bahwa sobatku, Uly Ajnihatin sedang sakit, mau pinjam buku, ataukah ada keperluan lain.

Dia memperkenalkan temannya, seorang perempuan Ambon yang kuliah di Stikes. Ia bilang Uly Ajnihatin sakitnya sudah beberapa hari. Kupikir, pantesan dia dalam beberapa hari ini datang ke kampus atau kosanku. Padahal katanya dia mau membantuku buat perlengkapan Expo.

Ketika kami sedang berbagi cerita, muncullah satu lagi perempuan yang baru-baru ini kukenal: Nurul. Dia yang kosannya di seberang tempat tinggalku, dan tempo hari berkunjung ke kosanku.

Kuperkenalkan Nurul pada Ayu dan temannya. kukenalkan dia ke ayu. Mungkin karena berbeda budaya, dimana sama-sama perempuan, kenapa diantara mereka tidak bersalaman, apalagi cipika-cipiki. Sudah biasanya kalau perkenalan pertama adalah bersalaman, apalagi ini diantara perempuan.

Akupun tak menyarankan seperti yang kupikirkan saat ini. Pikiran ini hanya muncul ketika menulis catatan ini. Mungkin aku gelagapan juga takut dianggap salah-sangka. Mungkin dalam pikiran Ayu, Vyan ini banyak perempuannya, begitupun sebaliknya. Akh, aku saja yang kepedean.

Nurul hanya sebentar di kosan tanpa memberi tahu keperluannya. Mungkin dia hanya sekedar ingin melihat-lihat koleksi buku. Mengamati sebentar ke arah rak buku, dia pamit lagi pulang.

Begitu Nurul kembali, kuantarkan sampai pintu pagar, ada pula yang memanggilku. Suaranya tak kukenal dan ternyata Teteh yang rumahnya berdampingan dengan asrama tempat tinggalku. Ia mau merental komputer katanya. Enak banget sambil menunggu, membaca buku, atau bercengkrama di kosan, tapi bisa menghasilkan uang. Berdiam diri di tempat tinggal tanpa sia-sia.

Teteh tetangga selesai mengetik, datanglah satu laki-laki kawan kampusku, Dudi Abdul dan setelah itu Dian. Kosanku selalu saja kedatangan tamu. Akhirnya anggota percakapanku antara Ayu dan temannya, tadi Nurul, selanjutnya Teteh tetangga, sekarang muncul seorang yang dibilang teman-teman kampus: SKSD, sok kenal sok dekat.

Dudi banyak bercerita tentang aktivitasnya di Sumedang. Katanya dia magang di perusahaan pamannya. Dia bilang meskipun kerjanya cuma mengukur bahan, lalu menuliskannya, tapi capenya minta ampun. Tiap hari harus ke bank. Dia bertanya, tahu apa itu rekening koran, giro, dan susahnya merebut hati pelanggan. Tergantung seberapa besar promosi kita untuk bisa menarik pelanggan.

Memang segala sesuatu kalau terjun langsung ke lapangan akan banyak yang didapatkan dan akan merasakan senang susahnya. Aku senang mendengarnya ada kawan yang bercerita pengalamannya selama magang. Ketua jurusan memang sering berpesan kalau sedang liburan semester bagus digunakan magang. Tapi buatku karena sibuk mengurusi katering dan Expo,  mana sempat aku magang.

Setelah diantara kami berbincang-bincang, Ayu hendak pulang. Dia mau meminjam satu buku tentang metode belajar. Tapi dia mengajakku main ke kosannya. Katanya kita makan-makan di kosannya, sekalian menengok Mamah Uly. Ada-ada saja Ayu ini. Emang antara aku dan Uly ada apa-apa atau tidak ada apa-apa. Lagian ungkapan cintaku sudah ia tolak yang sakitnya tiada terperi.

**

Menjelang sore aku dan Ayu berangkat menuju kampus untuk sampai di kosannya. Tapi begitu sampai di gerbang depan kampus, ketika kami asyik bercerita sambil jalan, di kejauhan seperti ada yang memanggilku. Ternyata dia: Uly. Tadinya mau berkunjung ke kosannya, tapi malah ketemu depan warnet kampus. Kubilang kalau lagi sakit tidak boleh keluar. Soalnya kondisinya belum stabil.

Dia bilang mau ke kosanku, malah bertemu di jalan yang sedang jalan sama Ayu. Kupikir dia sudah sembuh sekarang, aku tak perlu ke kosannya. Karena selepas Ashar mau ada meeting Expo di Panitia Taaruf.

Akhirnya mereka pulang menuju asrama tempat tinggalnya mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Menunggu adzan Ashar, aku ke warnet dan membackup cd lagu, program, dan gambar. Sudah lama tak bertambah musik baru. Kuingin lagu Debu dengan album barunya, ‘Makin Mabuk’ dan Siti Nurhaliza dengan lagunya ‘Bukan cinta Biasa’. Aku ingin segera mencobanya di komputer sendiri.

Tibalah rapat tecnikal meeting Expo. Masih aku baru berani ngomong di belakang saja. Aku harus berani ngomong di depan khalayak untuk memberikan ide-ide solusi. Malah terjadi gontok-gontokan pada keukeuh pada pendapat pribadinya tanpa ada titik temu dan penengah.

Mungkin aku harus bisa jadi penengah. Tapi aku sulit untuk merangkai kalimat dan curahan gagasanku. Semuanya harus dilatih. Suatu saat aku yakin bisa karena aku calon orang besar. Tapi begitulah dalam rapat, perbedaan pendapat adalah wajar.

Pulang rapat ketemu Rini, sepupu Noor Yahdini. Bersama Aril, aku jadi main ke sekre baru Al-Paci, paguyuban alumni sekolah Cijantung. Bertemu Hobir, Awang dan anak baru, Koko jurusan Biologi. Menuju hampir Maghrib aku pulang sampai di kosan Dian sudah gak ada. Lalu kunci kosanku dimana. Begini, dibikin pusing sendiri mau masuk ke kamar sendiri tak bisa.

Aku ke kosan Robbi, barangkali dititipkan padanya. Sekalian silaturahim untuk melapangkan rezeki. Dan terbuktilah disana, Eeng—Hendri baru menerima oleh-oleh dari ibunya. Lalu Robbi bilang, Memang rezekinya kamu Yan, begitu datang banyak makanan. Aku makan tahu, lepet dan sawo begitu lahapnya. Meskipun sudah kenyang, tahu masih banyak.

Dari kosan Robbi aku pulang jam sembilan malam dengan perut sungguh-sungguh kenyang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori