Oleh: Kyan | 25/08/2005

Perempuan Dewasa vs Lelaki Humoris atau Serius [?]

Kamis, 25 Agustus 2005

 Perempuan Dewasa vs Lelaki Humoris atau Serius [?]

 **

Pagi cerah basah menggemburkan tanah-tanah tersiram madah. Hujan menetes dan merembes melalui selaput-selaput, yang dihirup nafas-nafas senandung nama-Mu. Mari kita bertunduk, bersyukur dalam sisa dengkur. Memuja penggenggam semesta. Duhai ya Rabb-ku.

Tak lelah mencari oase di sahara hari. Menimba sunyi di semak-semak berduri. Lalu bertemu merpati jingga di belantara maya. Bergetarlah suara menyuruhku singgah ke tamannya. Apakah ini satu pertanda tiba saatnya. Akh, engkau dikoyak mimpi.

Datanglah ke sumur wadi. Karena kemurniannya bersumber dari pegunungan cadas biru. Basuhlah muka yang menderas menuju lembah kelabu. Bersyukurlah engkau masih dilimpahi air kehidupan, di saat dulu engkau kehausan di tengah jalan. Mengharap seulas senyuman yang menawan.

Janganlah sekarang engkau membangkang. Sebab hanya kepada-Nya setiap jiwa-jiwa mendekat dan merapat. Lalu menyatu dan menjelma Fitri. Sebab tak ada lagi sikap mendua, saat-saat kita berdua saling mendekap. Kini kau hendak mendua untuk mengkhianati cinta?

**

Tadi malam aku berbincang-bincang dengan kawan-kawan di kosan Robbi. Disana ada Asun, Eeng, dan tentu Robbi. Eeng yang baru kedatangan ibunya membawa tahu Sumedang yang dihidangkan ke hadapan kami. Malam ini jadinya aku tidak makan nasi, tapi makan tahu sampai terasa mual saking banyaknya.

Ceritanya kami disana berdiskusi bersama. Dasar anak muda. Ketika terjadi silang pendapat, muncul emosi untuk tetap mempertahankan argumen masing-masing. Aku berusaha untuk mendengar dan tidak memotong pembicaran. Ketika bicara jangan pakai emosi seperti orang amuk dan amarah. Tapi berucaplah dengan tenang. Dan ketika berakhir sebuah diskusi, bersikaplah seperti biasa.

Dulu Imam Syafii dan Imam Hambali berdiskusi tentang apakah disebut kafir orang yang meninggalkan salat. Ketika mereka mengakhirinya, mereka berpelukan. Dalam hal apapun, etika harus diutamakan. Bukan kebenaran yang kita anggap kebenaran. Karena kebenaran bukanlah kecongkakan.

Hari tadi adalah hari kedua kuliah Taaruf mahasiswa baru. Mahasiswa baru diperkenalkan pada BEM-nya masing-masing. Berdasarkan arahan dari panitia, mahasiswa baru MKS dikumpulkan di gedung badminton. Untuk menerima perkenalan dari ketua umum dan sekretaris umum.

Setelah Aril selaku Ketua KBMP memberikan sambutan, lalu aku dipersilakan untuk sedikit berkata-kata pada mereka. Aku tidak berpidato lama, kecuali hanya mengatakan selamat datang di kampus IAIN, selamat datang di rumah baru dan keluarga baru Manajemen Keuangan Syariah. Hanya itu aku sedikit berkata.

Mungkin aku terlihat grogi ketika berkata-kata, tapi jadikanlah ini sebuah pengalaman. Ketika kita bertanya atau berbicara di depan forum, anggap saja mereka benda. Karena belum tahu pasti mereka apakah mereka tahu tentang apa yang akan disampaikan. Yakinkan diri bahwa sebenarnya kita lebih tahu tentang apa yang dibicarakan. Tapi kadang kita seperti takut terlihat bodoh dengan apa yang ingin diungkapkan dan ditanyakan. Bahkan, dengan kita bertanya, kita bisa mewakili mereka yang memiliki unek-unek yang sama. Bukankah manusia mempunyai kegelisahan yang serupa—untuk tidak mengatakannya sama.

Tentang bagaimana merangkai kata yang pas dalam pembicaraan, kurasa aku bisa melakukannya. Melihat orang lain sedang berbicara, sering juga timbul rasa iri pada mereka begitu runtut kata-katanya. Begitu memukau dan mengalir kata-kata yang diucapkannya, meski kadang muncul jeda. Secara total, kata-katanya dapat menggelitik pikiran dan terasa menyejukan.

Aku harus terus melatih cara berkomunikasi. Karena aku mampu seperti mereka. Sebab modal globalisasi adalah iman yang mantap, keterampilan berbahasa, komputer dan network. Aku harus menampilkan yang terbaik untuk menjadi manusia berguna. Sebagai manusia baru sebagai gagasannya Sosialis-Marxis. Sebagai Insan Kamil sebagai gagasannya Iqbal. Menjadi seorang kreator, peniru Tuhan.

**

Barusan aku menelpon Dian dan Yedi yang entah apa keperluanku. Mungkin karena ada tertulis nomor telepon rumahnya. Hanya kuberitahukan pada mereka, supaya besok ke kampus jam sepuluh untuk diadakan rapat Expo.

Kutelpon sedikit lama adalah teman SMU-ku: Anggita dan Yuni. Lupa tadinya mau menelpon Djaka, sobat sesama anggota KSI di SMU. Anggita bilang sekarang sedang sibuk semester pendek. Kudoakan semoga teman-teman SMU menghadapi ujian semester pendek mendapatkan kemudahan. Kubilang pada Anggita selamat ulang tahun. Tepat sebulan dari hari ini dia berulang tahun. Karena takut nanti lupa mengucapkan, sekarang aku mau mengucapkan selamat panjang umur dan berkah dengan usianya.

Lama sekali aku menelpon Anggita dan Yuni. Semuanya habis limabelas ribu. Tidak apa-apa, apalagi sudah dua tahun lebih aku tidak pernah bertemu Yuni. Mereka pasti sudah banyak berubah sekarang. Isi pembicarannya sudah sarat penuh hikmah. Hanya waktu yang bisa membuat semuanya berubah.

Yuni menasihatiku tiga hal: Jangan terlalu banyak memilih perempuan, jangan terlalu banyak menilai pada kesan pertama dan sisi buruk yang ada pada orang lain, dan fokuslah pada sisi baik pasangan kita. Itu yang bisa membahagiakanku selama ini. Begitu sarannya padaku.

Dia akan menikah tiga September. Syukur alhamdulilah diantara sahabatku, ada yang mau melaksanakan setengah agama. Kuingin memberikan kado di pernikahan Yuni. Kupikir buku tentang pernikahan pilihan yang tepat. Akan kusempatkan datang ke pernikahannya, sekalian reuni dengan teman-teman.

Apakah aku sudah berubah dan berbeda antara yang dulu dengan sekarang? Perbedaan antara ketika di Batam dan ketika balik lagi ke Bandung, hanya orang lain yang bisa menilainya. Tapi ada satu teman sebangku yang bilang padaku, yaitu Hafizh bahwa aku tetap saja seperti yang dulu. Dengan semangatnya dan selalu serius saja.

Berbeda denganku, Hafizh selalu bisa bercanda. Mungkin karena gampang bercanda, banyak perempuan yang suka. Selama kukenal dia di SMA sudah berapa kali dia berganti pacar. Ketika sebangku saja dua kali dia berganti pasangan. Benarlah kata buku yang kubaca, bahwa perempuan suka dengan lelaki humoris.

Apakah aku tidak bisa jadi humoris? Mungkin pengaruh kehidupan masa kecilku yang membuat aku bertipe serius. Di keluargaku kebanyakan pendiam, baik dari pihak ayah dan ibu, paman atau bibiku banyak yang diam alias sering tidak banyak bicara. Hanya kadang-kadang suka menjadi pemarah.

Katanya banyaklah bergaul dengan orang-orang humoris. Apakah aku harus banyak membaca buku humor supaya tertular dan punya referensi humoris ketika bercengkrama? Memang tipeku begitu adanya. Aku tidak bisa jadi orang yang diharapkan banyak orang. Bahkan bakal pusing kalau terlalu berusaha sekuat tenaga untuk sebagaimana diharapkan orang. Aku hanya bisa jadi diriku sendiri. Aku tidak akan jadi sempurna sebagaimana harapan mereka. Tapi ada satu ungkapan: Menjadi baik tidaklah cukup, tapi menjadilah yang lebih baik.

Bakal ada yang bisa menerimaku apa adanya? Agar bisa melengkapi diriku, aku harus mendapatkan perempuan yang humoris, pintar mendidik anak, terampil berbahasa, fisiknya sempurna, hidungnya mancung, tinggi semampai sepadan denganku. Aku bisa mendapatkannya.[?]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori