Oleh: Kyan | 27/08/2005

Majelis Malam Minggu

Sabtu, 27 Agustus 2005

Majelis Malam Minggu

 **

Aku mandi dan setelah itu kuhidupkan komputer. Mau melanjutkan men-setting buletin yang nanti mau segera dipublikasikan ketika Expo. Dasar komputer jelek. Loadingnya sangat-sangat lambat banget. Karena kesal kubuang saja program anti-virusnya. Komputer punya Robbi, gak pakai anti-virus lumayan lancar. Aku mau mencoba komputerku tanpa ter-install program anti-virus. Semoga kebal bila kumasukan disket mengambil data-data dari internet.

Mudah-mudahan secepatnya ibuku mengirim paket komputer pentium dua. Kakak sepupuku, Kang Dede katanya ada komputer yang mau dijual. Dengan komputer dua monitor akan berpeluang berlipat penghasilanku dari rental komputer.

Karena sudah jam sepuluh pagi, aku harus ke kampus untuk mengikut rapat Panitia Taaruf. Sambil menunggu dimulainya acara, kusempatkan mengobrol dan sempat kutamatkan buku yang tinggal beberapa lebar lagi.

Kenapa dalam setiap rapat aku selalu gak bisa mencurahkan ide-ideku. Seperti tergagap atau terhalang ketika mau mengeluarkan ide-ideku. Aku cuma bisa diam saja mendengarkan mereka. Memang sih aku belum memiliki banyak pengalaman di dunia organisasi. Nanti kalau nyeletuk dianggap sok tahu.

Selepas mengikuti rapat Panita Taaruf, kuputuskan mau sekarang ke membeli buku di Palasari. Meski sedikit ragu, langkahku tetap tertuju menuju pangkalan Damri. Aku hendak membeli kado untuk sahabat SMU-ku, Yuni Irmawanti yang mau menikah bulan depan. Karena masih kupunya uang dan cukup, kubeli juga buku “Catatan Harian Seorang Demonstran”-nya Soe Hok Gie dan buku Kisah 1001 Malam jilid dua.

Kutunaikan salat Ashar di Masjid Palasari. Pulangnya memang tidak akan ke Cikudapateuh, tapi sengaja mau ke Cibinong. Tapi rupanya aku sudah salah naik angkot. Teledor tidak bertanya dulu, yang tadinya bermaksud naik angkot Cicadas—Cibiru, ini malah masih Kalapa—Cicahuem. Salahku begitu naik angkot yang sudah jelas salah, aku malah asyik membaca buku. Tersadar ketika sudah sampai di Cicadas. Kesalahan karena angkotnya sama-sama berwarna biru, malah mengeluarkan lebih banyak ongkos.

Aku harus kembali lagi ke BSM, naik angkot yang sama dengan arah berlawanan. Aku sudah tidak berhati-hati, tidak melihat papan jurusan, tidak bertanya dulu ini angkot jurusan mana, rencana mau menghemat eh malah kedodoran.

Ditambah harus berjalan kaki lagi dari pasar Maleer, menyeberang menuju kumpulan angkot jurusan Cicadas—Cibiru. Karena tadi pas di lampu stopan aku tidak turun, lupa aku menyetopnya yang ditambah angkot melaju kencang karena stopan sedang lampu hijau.

Sampai bunderan Cibiru mampir sebentar ke kosan Uly. Disana ada mbak Ijah, baik sekali dia. Entah keperluannya apa aku mampir. Ayu sedang tidak ada di kamarnya pula. Karena akan tiba adzan Maghrib, aku pamit pulang ke kosan.

**

Selepas kutunaikan salat Isya. Lalu buku yang kubeli tadi di Palasari kusampul. Sedang asyiknya menyampul, tiba-tiba daun pintu kamar kosanku ada yang mengetuk. Begitu kubuka senyum sumringah menyapaku. Perempuan pemilik mata jeli sudah berdiri di depanku.

Ia mengenakan gaun biru yang dipadu kerudung instan lebar berwarna ungu. Ia pun masuk dan kupersilakan duduk. Ia memulai cerita dan akupun bercerita. Ia memintaku menemaninya nanti mencari buku-buku ke Palasari. Semoga kapan-kapan aku bisa menemaninya. Kuharapkan itu terjadi untuk dapat memupuk keakraban dan kemesraan sepanjang perjalanan.

Pandangan matanya merayap mengamati deretan buku yang berjejer di rak. Lalu ia bilang, “Ayahmu kalau tahu, pasti akan bangga sekali memiliki anak sepertimu.” Pastinya setiap orang tua akan memiliki kebanggaan tersendiri dengan anaknya. Entah anak itu berprestasi atau masih dianggapnya gagal oleh sebagian orang.

Lalu diapun melanjutkan cerita, “Sebenarnya kondisiku juga ayah dan mamahku sudah bercerai, sama sepertimu. Aku anak pertama dan masih punya tiga adik yang harus tetap sekolah.” Begitu ceritanya penuh sedu. Mungkin baru beberapa minggu persahabatan inten antara aku dengannya, baru aku tahu kondisi keluarga dia sebenarnya.

Diantara kami sedang asyik berbagi cerita, tiba-tiba pintu kosanku diketuk. Kutoleh muka ke pintu yang sejak tadi terbuka muncul dua perempuan lain. Dialah Angel Wings datang bersama sepupunya.

Akhirnya di kosanku jadi ajang berbagi cerita mulai dari hal remeh-temeh sampai pada diskusi tentang ke-Islaman. Para perempuan yang mengelilingiku rupanya pandai juga bercakap-cakap dan bercuap-cuap. Alangkah gembiranya bersama mereka aku mengisi malam minggu.

Tiba-tiba pembicaraan kami terhenti. Karena malam sudah menunjuk pukul sembilan. Setelah melebihi beberapa puluh menit, mereka pamit hendak pulang. Menjadi sepi kembali kosanku. Hening terasa setelah keceriaan mampir mengisi lubang dada. Semoga datang lagi hari-hari seperti ini.

Setelah mereka pulang, kucoba mengambil satu judul buku. Sebenarnya sudah berat kantukku sewaktu hendak membaca buku: Najhul Balaghah, Wacana, Wasiat dan Pidato Imam Ali. Namun setelah dipaksakan akhirnya bisa semangat membaca.

Membaca buku jangan sambil diam bila sudah kantuk menyerang. Membaca boleh sambil jalan-jalan. Pada awalnya memang membaca harus dipaksakan, harus ada niat kuat dulu. Meskipun ada banyak godaan pada awalnya, nanti akan merasakan kenikmatan mencerap gagasan.

Baru saja beberapa lembar kubaca, ada lagi yang mengetuk pintu. Rupanya Angel Wings kembali lagi. Dia memintaku diantar ke warnet. Aku mengiyakan dan berangkat bersama. Sampai di warnet kampus, inginku Ayu ikut serta.

Ayu tidak mau ikut ke warnet. Ia ingin pulang saja bersama Nik. Sedangkan aku dan Uly masuk ke kotak warnet. Hanya sebentar sampai jam sepuluh. Hanya ketika kami sedang di warnet, handphone dia berdering. Katanya dari Yedi. Kenapa aku jadi cowok posesive, jelas ke Yedi. Jelas terdengar pecakapannya.

Mungkin Yedi bertanya padanya, “Sedang dimana”. Dia jawab, “Lagi di warnet sendirian”. Ia sudah bohong, aku sudah tak dianggap bahwa dia sedang bersamaku. Tapi dia sudah jujur padaku, dia sudah membuka dan membaca suratku.

Ternyata dia sudah bohong padaku. Meskipun sudah juru, tetap saja dia sudah berbohong padaku. Kalau sudah bohong, suatu kali dia berkata jujur akan diragukan apakah dia benar-benar jujur atau bohong sebenarnya. Kebohongan melunturkan rasa percaya orang. []

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori