Oleh: Kyan | 29/08/2005

UDIN: Kebijakan Menghukum Pezina

Senin, 29 Agustus 2005

UDIN: Kebijakan Menghukum Pezina

 **

Menulisku menjadi terhenti, tepat jam delapan malam lisrik mati. Jam sebelas masih belum menyala juga. Hampir jam duabelas aku pamitan pada mereka, karena aku mau pulang ke kosan untuk membereskan kamar. Terasa kedua kelopak mataku sudah lengket, segera ingin dipejamkan. Setelah kutunaikan salat Isya, kubuka-buka sedikit buku “Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie yang jadwalnya sedang dibaca.

Persiapan Ekspo terasa melelahkan sekali. Dari Duhur sampai malam suntuk mengurusi Ekspo. Hanya segelintir orang yang ikut membantu. Selebihnya teman-teman pada pulang kampung dan liburan. Aku tidak boleh berkeluh kesal. Jangan dijadikan tinggi hati sampai takabur atas apa yang telah kulakukan selama ini. Aku harus ikhlas apapun penghargaan dan bila tak dihargai sekalipun. Sebab segala sesuatu pasti memberikan hikmah dan dapat melatih kemampuan akan seberapa jauh dapat menyelesaikan masalah.

Ekspo Kuliah Taaruf mahasiswa baru sudah dimulai. Stand jurusanku, MKS—Manajemen Keuangan Syariah—dengan jurusan Akfil—Akidah Filsafat—tepat bersebelahan. Orang-orang di kedua penjaga stand pada berbaur saling berbincang dan berceloteh.

Ada anak Akfil namanya Udin. Orangnya penuh humor dengan kumisnya yang panjang. Tingkahnya sering mengundang tawa banyak orang. Sewaktu kuliah taaruf kami setahun lalu, dia jadi kacung angkatan. Pernah membuat lelucon, berkopiah kayak Ibing Kabayan— letak ujung kopiahnya bukan ke depan, tapi ke samping kanan-kiri telinga—sambil menenteng sapu lidi, bak artis sedang bergitar.

Namun kali ini, mungkin karena sudah makan Filsafat—bahwa katanya berbeda antara netral dan bijak. Kalau netral adalah ketika orang tidak memihak kemana-mana. Mungkin dapat dikatakan sebagai orang yang plintat-plintut. Tapi kalau bijak adalah ketika ia berpihak pada kebenaran.

Kita dituntut untuk teliti dalam bertindak. Dan pihak yang salah harus disikapi dengan baik pula. Dari sisi manusiawinya harus kita perhatikan dan dihargaii. Perbuatan salahnya yang harus diberi hukuman, bukan orangnya. Dan hukuman bukan sekedar fisik saja, tapi hukuman mental seperti penghinaan, penghasutan dan hal apapun yang bisa mendownkan mentalnya.

Seperti orang yang tertangkap tangan berzinah. Terdapat dikampung yang memiliki tradisinya sendiri. Yaitu dua pihak yang berzinah dikucilkan, bahkan diusir dari kampung halamannya. Sebab perbuatannya sangat menodai kesucian kampung mereka. Setelah beberapa tahun kemudian atau setelah ia bertobat, ia dibolehkan kembali ke kampung halamannya.

Tradisi begitu berbeda dengan tradisi Arab. Bahkan sebagaimana dalam teks Alquran bahwa si pezina muhsan—pezinah sudah menikah—dirazam sampai mati dan pezinah ghair muhsan—pezinah masih singel—dirajam sebanyak seratus kali pukulan batu. Terdapat perbedaan hukum disini, tapi pasti persamaannya supaya membikin keduanya jera dan menjadi percontohan bagi yang lain.

Bagi yang hidup di Nusantara dan Eropa, memandang hukuman zinah dalam tradisi Arab dianggap begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Apalagi sekarang sudah ada slogan HAM. Apakah pengusiran dan perajaman bagi orang yang merusak tatanan masyarakat suatu negeri termasuk melanggar HAM? Apakah tradisi tiap-tiap negeri harus diseleksi berdasarkan HAM?

Terbentuknya tradisi suatu negeri tidak sekali jadi. Ia mengalami proses dialektika bertahun-tahun. Mengapa di Nusantara hukumannya adalah pengusiran, karena dunia Timur itu kecenderungan komunalnya begitu kental. Rasa persaudaraan satu keluarga, satu kakek-nenek tujuh turunan masih sangat terasa sebagai satu trah keluarga. Meski sekarang sudah memudar, akibat dari kolonialisasi dan globalisasi, tapi masih dapat terlihat dari tradisi musik di hari Lebaran dan Hari Raya Lainnya.

Dengan demikian mengapa si pezinah dihukum usir, supaya ia jera ketika terpisah atau dibuang dari keluarga besarnya. Sehingga nanti ia menjadi sadar bahwa sebuah kehormatan keluarga sangat perlu dijaga dan dijunjung tinggi oleh semua anggotanya.

Lalu mengapa tradisi Arab begitu ‘kejam’? Karena bangsa Arab perangainya keras dan suka berperang. Bagi siapa yang menodai kehormatan suku, pantaslah nyawa adalah taruhannya. Lebih baik hilang satu nyawa demi keselamatan seribu nyawa dalam menata sosial kemasyarakatan yang tertib dan suci.

Tapi sekarang adalah zaman sama rata sama rasa, kampung dan kota sudah mengalami era satu desa (global village). Nilai-nilai sudah semakin tak jelas asal-usul dan penganutnya, yang permasalahan utamanya adalah degradasi etika. Meski sesungguhnya kemerosotan moral adalah masalah setiap masa, dalam tradisi agama dan peradaban ada yang dinanti dan disebut sebagai Imam Mahdi, Messiah, Imam ke-12, Satrio Pininggit, Ratu Adil, Sang Budha dan istilah lain dalam ranah setiap tradisi yang mampu membawa perubahan dan kesentosaan negeri dan bangsa.

Sekarang moral kaum muda terus merosot karena terjerat dalam zinah. Mata yang berzinah, tangan yang berzinah, kaki yang berzinah, dan hati yang berzinah. Ketika orang tua memberi fasilitas supaya anaknya berzinah, seperti dibelikan motor yang memungkinan dipakai berpacaran, setelah tahu sudah kebablasan yang menerima malu orang tua juga. Negara pun sering terdiam ketika propaganda zinah dikamuflasekan dalam tayangan televisi dan medi-media pengumbar hawa nafsu.

Maka yang terjadi adalah 180 derajat penjungkirbalikan tradisi. Dulu tradisi dibikin untuk menghindari zinah, tapi sekarang tradisi diwujudkan untuk menganyam tradisi perzinahan, supaya tersebar secara merata antara kota dan desa. Tapi begitukah adanya?

Tadi aku dipaksa Dian ke warnet. Katanya mau mendownload artikel dan gambar mata uang. Itu ide Aril, sang Presiden MKS untuk dijadikan hiasan stand Expo dengan digantung memakai benang. Itu ide bagus untuk bisa berbeda dari stand Expo lain. Berbeda, kalau tidak hendak menjungkirbalikan.

Tapi hampir semua dekorasi adalah ideku. Aku tidak boleh berbangga diri. Jangan dihilangkan kontribusi orang lain. Menurut Al-Ghazali cara untuk menghilangkan ujub dan takabur adalah menyadari bahwa setiap yang kita lakukan itulah takdir Allah. Semuaya atas izin Allah. Bukan karena usaha atau ikhtiar kita.

Melelahkan juga ketika aku jadi Panitia Taaruf. Aku kebagian seksi Konsumsi di panitia Taaruf. Seksi ini katanya kurang elit. Jurusan yang aku sebagai wakilnya memang kebagian itu. Lagian aku belum banyak pengalaman di dunia organisasi. Aku harus banyak berkecimpung di organisasi. Kalau banyak pengalaman akan semakin bijak dalam menyikapi setiap permasalahan. Sebab hidup adalah anugerah sekaligus masalah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori