Oleh: Kyan | 30/08/2005

EXPO, Kang Ibing, dan Wafatnya Cak Nur

Selasa, 30 Agustus 2005

 EXPO, Kang Ibing, dan Wafatnya Cak Nur

**

Menjelang sore di stand Akfil kami menonton ceramah Kang Ibing soal Keluarga Sakinah. Ustadz Kabayan ini memberi penjelasan tiga urutan dalam doa-doa pernikahan, dengan menjungkirkan urutannya. Seperti sudah sudah mafhum kita sering berkata dan berdoa, “Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah”. Tapi bagi Ustadz Kabayan dengan menguak maknanya, seharusnya berurutan: Mawaddah, Warohmah dan Wasakinah.

Mawaddah adalah segi lahiriah, warahmah adalah kasih sayang, dan dengan itu terciptalah keluarga sakinah, keluarga yang dipenuhi ketentraman batin dan lahir. Maksudnya penuhi dulu segi lahiriahnya, dimana suami memberi nafkah secukupnya, memberi pakaian terindah bagi istrinya, dan istri patuh dan setia dalam menjaga kehormatan keluarga, maka timbullah rasa sayang-menyayangi (Mawaddah), dan setelah itu baru terciptalah sebuah keluarga penuh ketentraman, sehingga pantas dicurahkan rahmah oleh Tuhan (Warahmah), maka itulah sebuah keluarga yang menjadi teladan (Sakinah) bagi semesta alam.

Ketika nongkrong-nongkrong di taman gerbang kampus, kenal dengan senior kampus. Namanya Agung, anak KPI—Komunikasi Penyiaran Islam—yang menitipkan padaku seorang adiknya. Indah namanya sebagai mahasiswi baru jurusan MKS. Nanti akan kucari-cari manakah perempuan yang bernama Indah itu. Sudah ada referensi buat ngeceng adik kelas nih. Ia menitipkan padaku karena aku sebagai kakak kelasnya, mungkin. Bukan untuk yang maksud lain-lain.

Sebenarnya hari ini aku sedang benci banget pada teman-teman MKS. Mengapa mereka tidak mengerti aku—Tapi apakah aku sudah mengerti mereka. Dia seperti sok aktivis, sok tahu, merasa dia sudah  melakukan segalanya. Sedangkan orang lain dianggap tidak melakukan apa-apa. Dia merasa apa yang dilakukannya itulah yang benar.—Kenapa sikapku sebegitu bencinya pada temanku sendiri?

Aku menjadi marah pada mereka. Tidak tahu kenapa muncul uring-uringan. Penyebabnya apakah karena belum makan sejak pagi atau memang pembawaanku yang ‘pundungan’. Kata orang kalau sedang tak punya uang, suka muncul sikap marah terhadap segala soal.

Memang, bagaimana tidak marah sejak pagi aku sudah melakukan ini dan itu, harus mendekorasi stand, berjalan kaki bolak balik mengangkut barang-barang dari kosanku ke kampus, lalu mengambil konsumsi ke Kosambi, tapi aku malah gak kebagian makan.

Sedangkan mereka yang kerjanya diam saja di stand, enak-enakan makan seenaknya mereka. Kulihat tadi tersisa empat bungkus lagi, katanya dimakan juga. Kalau diungkit-ungkit aku sudah cape. Datang ke kampus harus pagi-pagi jam tujuh, mempersiapkan dan menyediakan segala peralatan, nyatanya tak ada penghargaan sedikitpun. Bukan berarti aku mengharapkan pujian, tapi ada lah rasa peduli mau membantu. Nanti ketika evaluasi aku mau terus terang saja. Terserah mau disebut mengeluh atau angkuh.

Tapi memang itulah tugasku sebagai Sekertaris Umum. Tapi mereka juga sudah melaksanakan tugas-tugasnya. Aku selalu berusaha untuk menanggung beban. Aku kesal sekali pada mereka. Seharusnya aku lebih baik diam saja dan tidak menampakkan muka yang murka. Tapi biarlah Allah yang tahu segala keluh kesahku.

Ampuni hamba-Mu ini ya Allah. Entah apa yang menyebabkan aku marah-marah. Seharusnya aku menikmati saja dan tenang saja jangan dibuat cemas. Meski selama tiga hari ke depan aku bakal kecapean lagi, harus mengangkut lagi barang-barang bekas stand Ekspo ke kosan.  Semoga Allah memberiku kekuatan dan keselamatan.

Aku bertindak dalam kehidupan harus semata-mata agar Tuhan mencintaiku. Tidak perlu aku berkeluh kesah terhadap keadaan. Memang aku begitu lemah ketika diberikan pekerjaan yang harus kuselesaikan segera. Kuharap perbuatanku dicatat sebagai amal baik dan mendapat balasan. Aku yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang yakin.

Makanya tadi aku pulang dan kutunaikan salat Duhur di masjid al-Huda. Letak masjid ini tidak terlalu jauh dari kampus. Saking lelahnya, setelah salam kanan-kiri dan sebentar berdzikir, aku tiduran dan benar-benar tertidur akhirnya. Ketiduran. Rasa lelah membuatku tak berdaya diserang kantuk.

Begitu bangun sudah jam tiga sore. Ketika bangun, aku sempat linglung, dimanakah aku. Seperti orang pingsan saja. Aku terentak kaget, kok aku enak-enakan tidur, bagaimana kewajibanku sebagai Panitia Taaruf. Aku harus membantu teman-teman membagikan konsumsi. Namun aku datang pada ruang panitia Taaruf, hanya sekedar meminta konsumsi, meminta hak selaku pantia jatah jurusan. Karena beban moral saja di hadapan temen-temen MKS. Beruntung sudah kuperoleh makan.

Aku selalu merasakan janggal dan ilfil. Kalau dalam pertemuan Pantia Taaruf, aku hanya bisa diam saja tak banyak bicara. Tak bisa memberi komentar dan masukan atau apalah pada mereka. Mungkin karena aku belum banyak berpengalaman organisasi. Aku harus sering ikut nimbrung bersama mereka untuk kuperoleh ilmu. Mendapatkan ilmu bukan sekedar dari buku, melainkan harus dari kehidupan dan pergaulan.

Kutunaikan salat Ashar di masjid kampus bersama Aril. Melihat-lihat papan pengumuman dan Mading. Menarik kubaca Mading LSPI—Lembaga Studi Politik Islam. Kudengar LSPI adalah embrio Hizbuz Tahrir Indonesia. Seperti LDM, lembaga dakwah kampus sebagai embrio PKS—Partai Keadilan Sejahtera.

Pernyataan LSPI bersesuaian dengan prinsipku. Hanya aku tidak setuju pembicaraan itu hanya sekedar wacana. Sekedar nama atau sekedar formal yang substansinya diabaikan. Aku setuju Islam itu adalah kebenaran. Islam meliputi segalanya. Namun diperlukan terjemahan-terjemahan dari Islam yang memerlukan pemikiran mendalam. “Islam is the solution”, memang betul. Unsur trasendensi tidak hanya di ruang privasi, tapi harus diperjuangkan ke medan publik.

Dan, kubaca berita bahwa tertanggal kemarin cendekiaawan muslim Nurcholis Madjid meninggal dunia. Satu diantara pemikir Indonesia telah tiada. Kini buah dari pemikirannya masih bersemi di benak para pengagum dan penghujatnya. Aku sangat mengagumi beliau, karena sudah kubaca salah satu bukunya, “Islam, Doktrin, dan Peradaban” yang terselip penjelasan maksud sekulerisasi yang dulu menghebohkan itu. Namun ada juga dari pemikiran beliau yang aku gak terima. Tapi beliau telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kerukunan umat beragama di bumi Indonesia.

Karena sedang ‘tidak bersahabat’ dengan mereka, dengan kawan-kawan MKS, entah malam ini aku masih tidur di stand Expo atau tidak. Kuputuskan lebih baik kupulang saja dan menulis catatan harian. Ingin aku memuaskan tidur di kosan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori