Oleh: Kyan | 01/09/2005

Revolusi dan Kolaborasi Egosentris Musik

Kamis, 01 September 2005

Revolusi dan Kolaborasi Egosentris Musik

**

Sudah dua malam aku menginap di stand Expo Taaruf. Aku bergadang terus dari hari minggu sampai sekarang. Maksud tidur di stand Expo untuk dapat bergaul dan memang adalah tugasku. Karena aku harus membiasakan diri hidup merakyat. Tidak bisa aku enak-enakan tidur nyenyak di kasur empuk, sementara teman-temanku pada kedinginan tidur di stand. Aku sudah merasakannya sendiri ketika banyak pengemis jalanan tidak punya tempat tinggal. Menjadi seorang tunawisma, harus tahan dengan panas dan hujan tanpa pakaian dan atap rumah yang melindunginya.

Tapi baru menjalani dua hari saja, membuatku sudah uring-uringan. Bising dengan suara musik yang saling beradu dari berbagai stand, bercampur baur, seolah bertarung mana diantara stand yang paling subpower dan subwoofer. Bingung apa yang terdengar sampai ke telinga kecuali genderang-genderang tak karuan tanpa makna.

Nyanyian atau musik, aku tak mau mendikotomikannya. Dalam musik dan berbagai hal, yang penting unsur moral, etika, akhlak yang jadi muatan utama. Dalam setiap apapun harus bisa melibatkan yang transenden. Entah itu musik aliran pop, rock, dangdut, rap atau rock n’roll.  Semua bertema kemanusiaan dan penyadaran bahwa kita benar-benar manusia. Bahwa mungkin kita dapat menjadi ‘sempurna” penuh cahaya bak malaikat, tapi juga tak menjadi kelompok syaitan dengan segala dosa-dosa kita.

Kelompok musik Wirahma, aku baru tahu. Mereka mengkolaborasikan antara alat-alat musik tradisional dan musik modern. Kudengarkan, musik bawaan mereka easylistening. Aku seperti dibawa pada musik Kyai Kanjeng, musik dangdut Rhoma Irama buah revolusi musik dari orkes Melayu.

Musik semacam Wirahma, Kyai Kanjeng, dan Rhoma Irama mungkin tidak semua orang suka. Tapi buatku mereka bisa mengkolaborasikan antara tradisi dan modern, antara mengakar dan mengokoh tegak di alam transisi manusia yang berubah dan menjadi (becoming).

Dalam genderang musik dan lagu-lagu yang diputar mereka, aku harus bisa meleburkan ego diriku dengan ego mereka, untuk menuju ego yang maha sejati. Meski terasa menyengat dan memekakkan telinga. Beginilah orang-orang yang lebih mementingkan egonya. Boleh-boleh saja demi eksistensi, namun tetap harus memperhatikan ego orang lain. Begitu sulitnya untuk mengalah demi kebaikan dan ketentraman. Termasuk aku adalah orang yang termasuk yang selalu ingin menang sendiri. Egosentris.

Ego menyuruh Nurul menulis data kunjungan. Pagi-pagi stand MKS sudah dikunjungi Nurul, mahasiswa baru jurusan Tasawuf yang beberapa kali berkunjung ke kosanku. Ketika kusuruh menulis data kunjungan di komputer, dia gak mau. Mungkin hanya sekedar mencari angin segar saja. Bukan mau kunjungan formal ke, atau karena baru aku senior kampus yang dia kenal. Menikmati pagi bersapa ria pada Nurul tentang bagaimana dengan pengalaman Kuliah Taaruf-nya.

Sambil menjaga stand aku dan teman-teman menonton film Isa bin Maryam versi Kristen yang filmnya pernah kutonton juga di TVRI. Penonton muslim gak bisa menafikan terdapat unsur-unsur atau cerita yang benar dari film The Jesus ini. Banyak ungkapan-ungkapan filosofis dari yang ringan sampai yang mengernyitkan dahi. Tapi kurenungkan, dalam setiap dialog-dialognya, menurutku banyak yang mengindikasikan datangnya sang penghibur adalah kerasulan Muhammad. Padahal film ini diproduksi di Barat.

Namun kegembiraan Expo Taaruf, dihari terakhir katering MKS, ada sedikit konflik antara aku dengan Omon, seksi Humas. Begitulah ibarat piring dan sendok saat mengaduk makan, bergaul gagasan tak lepas dari beradu emosi. Namun jangan sampai pecah dan merusak persahabatan.

Memang itulah bumbu-bumbu kehidupan. Hidup tak akan asyik kalau lurus-lurus saja. Akan selalu ada jalan datar, naik atau turun bahkan menukik. Tidak bisa menafikan dalam pergaulan sering muncul prasangka dan salahsangka. Maka disini dibutuhkan komunikasi dan saling memahami.

Hari ini gak ikut ambil katering ke Kosambi, ke rumahnya Ria. Sesudah mandi dan makan di kosan, begitu sampai di kampus, aku merasa tak enak pada mereka. Katanya ada Dudi yang ke Kosambi. Lalu disusul Dian, Omon, dan Iqbal. Mereka susul-menyusul karena harus segera dibagikan.

Ketika aku mau makan, aku gak enak. Soalnya Omon gak ikut makan, padahal dia yang  mengambilnya ke Kosambi. Makanya aku gak berani mengambil lagi meskipun belum kenyang. Aku makan berdua dengan Riu Riska. Sempet terpikir, “Beginikah kalau makan suami istri, begitu mesranya sepiring berdua”.

 

**

Saat kami sedang makan, menerima undangan dari anak Akfil, acara Bedah Filsafat Mulla Shadra. Aku mau datang tapi kira-kira disaat acara ada kuliah gak sih. Waktunya takut bentrok dengan jadwal kuliah.

Sudah kubaca buku kecil tokoh filsafat Mulla Shadra yang ketokohan dan pemikirannya dianggap paling berhasil mensistesiskan gontok-gontokan antara kaum filsafat, kalam, dan tasawuf. Pemilik nama lengkap Shadr al-Din al-Syirazi ini adalah puncak perkembangan filsafat setelah wafatnya Ibnu Rusyd. Sebutan teorinya Hikmah (Arab) atau hikmat (Persia), atau Theo-Sophia (Yunani), atau Theosophy (Inggris).

Aku harus membaca lagi bagaimana filsafat Mulla Shadra, sekalian pengulangan. Membaca pertama banyak hal yang belum kumengerti. Maklum itu karya disertasi Dr. Syaifan Nur, doktor kelahiran Aceh lulusan Sunan Kalijaga. Aku lulus diploma saja belum, sudah ingin memahami buah karya disertasi. Jelas saja otaknya berkunang-kunang.

Tapi nanti kalau aku sempat datang ke acara, aku ingin mengajukan satu pertanyaan. Tapi beranikah aku yang anak keuangan ini menyasar ke filsafat. Aku harus berani dulu, baru mendapat kebiasaan dan pembisaan. Tapi sebelumnya dalam pikiran harus tumbuh keberanian merobohkan mental malu dan takut dianggap bodoh.

Tadi ketika kami duduk-duduk di stand, datanglah Iqbal bersama seorangperempuan. Aku penasaran dengan parasnya aduhai. Eh tangan Iqbal memalingkan mukaku. Kupikir hebat Iqbal anak kelahiran ‘87 sudah tunangan. Sedangkan aku kelahiran ‘83 masih juga belum, belum ngapa-ngapain apalagi punya pacar.

Aku salut padanya. Lebih baik segera ada ikatan resmi, biar nanti kalau ada kejadian-kejadian tak terduga ada yang bertanggung jawab. Veri bilang, “Iqbal terlihat serasi dengan tunangannya”. Katanya lagi kalau aku dengan Angel Wings kurang serasi. Memang Veri ini suka sensi padaku.

“Apakah aku yang kurang atau Angel Wings-nya. Saya cakep, pintar dan baik”, begitu memacu semangatku. Tapi justru aku yang merasa minder, karena dia begitu perfect di mataku—tapi tidak tahu di telingaku. Kulihat semangat wirausahanya tinggi. Mungkin aku masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia yang lebih sangat cantik dan pintar. Aku gak boleh terlalu banyak memilih, namun aku yakin aku bisa mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakanku, yang setia senantiasa memberi kesejukan pada hati ini.

Wahai belahan jiwaku, tunggulah aku. Walaupun aku gak tahu dimana engkau, namun doaku dan kerinduanku yang menggebu akan sampai di taman hatimu. Jagalah engkau baik-baik. Kita tercipta untuk bertemu, lalu bersatu dalam cita, cinta, dan cipta.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori