Oleh: Kyan | 02/09/2005

[AYU vs Angel Wings] Pembangunan Tanpa Kebudayaan

Jum’at, 02 September 2005

[AYU vs Angel Wings] Pembangunan Tanpa Kebudayaan

**

Innaguruasi ditutup oleh Da’i Hariri, anak mahasiswa Tasawuf, yang jadi nominasi di Mimbar Dai TPI. Dia sudah manjadi public figure, dari IAIN. Semakin banyak anak kampus yang jadi public figure. Irfan Hakim terutama, begitu sering muncul di kotak ajaib bernama TV. Dia sudah lama malang melintang di dunia keartisan.

Mungkinkah suatu saat aku akan menjadi public figure, menjadi seorang populer di masyarakat. Namun lebih baik dikenal di langit, kata Aa Gym. Daripada dikenal di bumi tapi tak kenal di langit. Memang ideal dikenal di kedua alam, alam kesementaraan dan keabadian.

Bagaiman aku bisa terkenal, bergaul saja jarang. Setahun tinggal di Cibiru, jangankan dengan tetangga sebelah orang asli sana, tapi sebagai sesama warga asrama kadang aku hanya mengenal wajahnya tanpa tahu nama. Hanya sering berdiam di kosan, berkumpul dengan kawan-kawan jurusan, tapi tidak dekat dengan sekeliling tetangga tempat tinggal.

Bagaimanapun aku harus terus menggali potensi diriku. Potensi menjadi pembicara yang bersemangat dan pemikir yang tercerahkan, yang bisa menyatukan antar unsur dan mengkolaborasikan berbagai perbedaan. Sudah saatnya menyatukan setiap elemen dalam membangun peradaban. Karena peradaban yang tidak diimbangi dengan pembangunan kebudayaan, niscaya akan segera runtuh dan rapuh. Begitu ungkapan Spengler.

Soe Hok Gie di usia SMP sudah melapah dunia filsafat dan sastra. Sungguh hebat dan pantas catatan hariannya dibukukan dan kisah hidupnya difilmkan. Sudah kubaca beberapa lembar, tulisan hariannya memang berbobot. Aku ingin seperti dia yang dapat menulis dengan gagasan tercerahkan.

Tapi aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin menjadi manusia baru, menjadi seorang pembaharu. Tapi kelemahanku, ketika diantara kami sedang bercakap-cakap berdiskusi, aku malah sering terdiam. Inginnya menyimak mendengarkan tentang segala apa yang mereka katakan. Selalu saja begitu.

Bukan aku tak bisa bicara, tapi setiap ingin bicara, tak ada ruang kosong untuk bisa kumasuki. Mereka terus-menerus berkata-kata tanpa jeda, seolah tak memberikan kesempatan orang lain mengeluarkan unek-uneknya. Ingin sepatah kata yang terucap adalah bermakna.

Kata orang untuk menghindari ujub, ketika dengan diam bakal menjadi ujub, maka berbicaralah! Dan jika sekiranya berbicara menjadi ujub, maka diamlah! Ketika kita diam bukan berarti tidak tahu apa-apa dan disaat berbicara tidak bermaksud angkuh.

 

**

Sedang bertapa di kosan sampai menjelang sore, muncul perempuan semampai bermatu ayu. Dialah Ayu menjemputku datang ke kosan, meminta dibantu membawakan barang-barangnya. Kutanya hendak pindah kemana. Dia jawab ke kosan BHO.

Rupanya dia mengikuti apa yang kusarankan. Dia sudah deal mau pindah ke asrama BHO, yang letaknya sangat dekat kosanku. Terhalang oleh dua bangunan dan menyeberang. Meski asramaku di sebelah kanan dan BHO di sebelah kiri menurut orang yang berjalan dari jalan raya AH Nasution. Lumayan jaraknya jauh, berlawanan dari arah kampus antara kosan lamanya dengan pilihannya sekarang. Jadi kami memerlukan tenaga ekstra untuk mengangkutnya.

Berbincang di perjalanan, dia sempat bilang sedang ada sedikit konflik antara dirinya dan teman jurusanku, Angel Wings. Tapi tak sempat kutanyakan lebih jelas apa permasalahnnya. Ia hanya bilang sore hari ini dia masih belum pulang dari tempat kerjanya. Lalu ia bilang, “Aku hanya ingin Vyan bisa jadian sama dia. Ayu dan Dika ‘kan sebatas berteman saja kan?” sembari ia memberi penegasan kata ‘berteman’. Apakah gara-gara aku diantara mereka jadi sedikit kesalahfahaman? Kepedean aku.

Aku bertindak demi dan untuk Tuhan. Yang patut memberi balasan hanya Tuhan. Aku harus menjaga sikap ketika di hadapan seorang dan beberapa perempuan. Begitu sensitifnya perasaan perempuan yang bila diluruskan, bisa-bisa patah. Perempuan katanya seperti tulang rusuk bengkok. Tapi perempuan bukan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Itu hanya cerita Injil dan interpretasi Alquran karena pengaruh Israiliyat.

Semoga saja sedikit konflik antara Ayu dan Angel Wings terselesaikan. Dengan saling terbuka bahwa diantara bertiga adalah bersahabat, tanpa menganggap perempuan satu spesial dan satu lagi sebagai selingkuhan. Jangan bermain-main dalam selimut persahabatan.

Meskipun perempuan satu seolah sudah menolak ungkapan cintaku, tapi jangan secepat pula lari pada perempuan lain dimana dua perempuan itu mereka saling berteman. Kalau memang ini cinta, seperti film India saja cinta segitiga.

Jelas sangat mengecewakanku bila perempuan satu sudah menolak cintaku. Seolah aku dianggap lelaki biasa. Karena begitu menggebunya ingin dianggap lelaki luar biasa bagi dirinya. Sehingga ia bisa terpikat dan cinta padaku. Tapi sisi lain pula, pada perempuan satu lagi aku belum bisa jujur apakah muncul ketertarikan chemistry bahwa dia sudah mencuri hati saat pandangan pertamaku. Hanya kuakui secara jujur ketika pertama kali kami saling bersapa, aku menangkap sorot mata yang penuh binar, yang siapapun dalam situasi kejiwaan sama akan dibuatnya terpana.

Ketika sekarang mereka konflik yang berdasarkan tuturan Ayu, mungkin secara langsung atau tidak, aku terlibat dan menjadi gara-gara terjadinya kesalahfahaman diantara mereka. Kepada yang membangun cinta, bila tanpa mesra suasana dan wibawa budaya, bukanlah cinta sebenarnya. Bukan kasih yang sama-sama kita cari.

Ini hanyalah cerita untuk diriku sendiri saja. Sebagai kenangan suatu ketika.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori