Oleh: Kyan | 04/09/2005

Pertemuan dan Perpisahan Sahabat

Ahad, 04 September 2005

Pertemuan dan Perpisahan Sahabat: Hari Pernikahan Ayoen, Hubungan Noval-Hestri, dan Okke Evriana

**

Aku dan Dudi berangkat ke kampus. Mulai Sabtu ini sudah harus memasuki kesibukan kuliah lagi. Setiap Sabtu ruang kuliah Fakultas Syariah sudah penuh lagi dengan kerumunan mahasiswa-mahasiswi MKS yang belajar, yang nongkrong-nongkrong, yang menunggu dosennya belum datang, atau bahkan sedang mengganggu kecengan dan pacaran.

Semakin ramai saja kuliah Sabtu MKS. Karena sudah bertambah satu angkatan jurusan MKS. Bila setahun kemarin kami hanya tiga kelas, sekarang sudah menduplikasi menjadi enam kelas. Begitpun setahun berikutnya akan menduplikasi lagi menjadi sembilan, dan seterusnya-seterusnya.

Kondisinya kuliah MKS sampai semester enam, bila tak bertambah gedung akan tetap begini. Kami beriuh gemuruh yang sangat mengganggu mereka yang sedang konsentrasi belajar-mengajar. Mungkin Sabtu tidak terlalu gaduh, tapi Jum’at dimana anak jurusan lain masih masuk kuliah, semakin ramai saja ruang kuliah bak di pasar.

Dosen MKS kebanyakan dari praktisi dari lembaga-lembaga keuangan syariah. Mereka ketika Sabtu libur berkantor, tapi mereka bersedia keluar rumah dengan mengurangi waktunya untuk keluarga, demi satu pengabdian pada profesi dan masyarakatnya. Bahkan kudengar mereka bersedia mengajar tanpa perlu dibayar. Dengan gaji yang besarnya seadanya, buat ongkos pergi-pulang dirasa kurang. Kulihat Bapak ketua jurusan kami, seperti berkorban sendiri harta pribadinya untuk kemajuan organisasi akademik yang dipimpinnya.

Aku diantara mereka yang sedang menunggu. Disana sudah banyak kawan-kawan MKS yang beberapa minggu tak bertemu. Mereka bilang sudah ada seorang dosen dari BSM untuk mata kuliah Manajemen Keuangan.

Rupanya yang menjadi dosen kuliah kami, seorang perempuan dan masih muda. Katanya beliau sudah tiga tahun bekerja di BSM. Namanya Bu Euis. Menelisik namanya dipastikan ia orang Sunda tulen, tentu berparas cantik (karena nananya Euis, Geulis) dan tempat tinggalnya di Buahbatu Bandung.

Karena hari pertama pertemuan, yang sering hanya perkenalan saja, kuputuskan mau memohon izin pulang duluan. Karena hari sudah semakin siang, aku dan Dudi pamitan memohon izin pada dosen cantik ini. Kami mau berangkat ke Cimahi, menghadiri pernikahan teman SMU-ku, Yuni Irmawanti atau biasa kami panggil Ayun, ditulis Ayoen.

Kami sudah janjian dengan mereka jam sepuluh. Sepakat berkumpul di depan sekolah SMUN 2 Cimahi di kompleks perumahan Sriwijaya IX. Sekalian Dudi pulang ke Cimahi, aku ikut dibonceng sampai tempat yang dituju.

Dudi mengambil jalan Pasopati. Pertama kalinya aku mengetahui dan merasakan melewati jalan Pasopati yang baru-baru ini diresmikan. Sekitar beberapa bulan lalu karena Bandung dijadikan tempat berulang tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Sehingga segalanya tatakota dibenahi.

Dalam ulang tahun setengah abad KAA, semenjak pertama kalinya dilaksanakan tahun 1955 di Bandung, negara peserta ingin menegaskan kembali sambil bernostalgia bahwa Bandung adalah tonggak dan tempat berlangsungnya konferensi yang telah memperjuangkan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika yang kini sudah banyak merdeka. Kecuali Palestina dan negara lain yang sampai kini masih berdarah-darah dan konflik antar sukunya.

Hanya saja dalam persiapan KAA, penguasa setempat seperti memaksakan ingin Bandung yang semrawut, di permukaannya dipercantik, tapi di dalamnya dibiarkan membusuk. Semoga saja semua yang dilakukan Pemkot Bandung dan Pemprop Jabar bukan dalam rangka menjilat atau menerapkan politik mercusuar. Jangan seperti cahaya lilin yang menerangi lingkungan sekitar sampai ke segala penjuru, sementara dirinya meleleh dan habis dimakan usia.

Ingin disebut kota sejahtera, sementara rakyatnya dalam keadaan miskin, kumuh, dan bodoh. Untuk apa kalau cuma sekedar ingin mendapatkan pujian dari negara lain, sementara tujuan sebenarnya diadakan pemerintahan sendiri adalah kesejahteraan rakyatnya. Keadaan kaum proletar terangkat taraf hidupnya dan kaum borjuis menghilangkan ketamakannya dalam memburu kekayaan, menghabiskan semuanya tanpa sisa. Pemerintah sebagai penengah (wasit) jangan menjadi pendukung semau-maunya kaum borjuis dengan melupakan proletar yang rentan amuk massa karena merasa hak-haknya terampas.

Sampailah kami di jalan Sriwijaya jam sepuluh kurang semperempat. Aku turun sementara Dudi meneruskan perjalanan menuju rumahnya di Cibodas. Kupandang sekeliling tangga yang dulu kami sepulang sekolah sering nongkrong. Kok, tak ada mereka. Kucoba berjalan ke depan sekolah, barangkali mereka disana, pun disana tidak ada. Kupikir mereka belum pada datang, sebaiknya aku menunggu saja.

Menunggu lama tak muncul tanda-tanda. Memang antara yang menunggu dengan yang ditunggu amat berbeda. Mesipun perhitungan waktunya sama misalnya satu jam, tapi bagi yang menunggu seperti sepuluh jam sedangkan bagi yang ditunggu seperti satu menit. Itulah kelemahan akal. Menunggu dan bersabar, kubaca “Catatan Seorang Demonstran” Soe Hok Gie.

Sebenarnya aku sudah tahu rumah Yuni, karena dulu sering sekali kami main di rumahnya sepulang sekolah. Tapi karena mereka meminta berangkatnya bareng-bareng ke rumah pengantin, aku mencoba bersabar menunggu. Karena sudah jam sebelas mereka belum datang-datang, malah membuatku kelimpungan.

Beruntung nomor handphone Error, catatannya kubawa. Beginilah kalau tak punya handphone. Aku mencari wartel dan segera mengklarifikasi dimana Error dan kawan-kawan. Ternyata sebagian mereka sudah disana dan sebagian memang belum pada datang. Aku diminta langsung saja ke tempat acara. Terpaksa aku datang sendirian kesana. Bagaimana tidak kikuk ke acara pernikahan sendirian.

Akhirnya. Selama hampir tiga tahun tidak saling bertemu, kini kami dipertemukan kembali. Mereka sudah banyak yang berubah selama tiga tahun ini. Perempuannya sudah banyak yang berkerudung, dan laki-lakinya kini ada berambut panjang. Seperti Arif, Manggara, dan aku sendiri berambut sedikit panjang.

*

Kini ketika kusudah sampai di kosan lagi di Cibiru, masih tersimpan di benak pertemuanku dengan teman-teman SMU-ku tadi. Mereka sudah banyak yang berubah. Lantas muncul pertanyaan tentang eksistensiku pada mereka. Apakah seorang aku masih tersimpan di memori mereka? Kesan apa yang terekam di benak mereka tentangku, tentang nasibku? Bagaimana perbandingan antara aku yang dulu dengan sekarang mereka temukan.

Semoga saja yang terbaik, yang baik-baik yang mereka kenangkan. Kadang-kadang dulu kalau berkumpul dengan mereka aku sering minder. Tak bisa dipungkiri mereka orang-orang kaya, bergolongan menengah keatas. Sedangkan aku anak miskin dan broken home.

Makanya sobatku, Novel Firdaus bilang, “Cari pasangan tuh orang kaya donk. Biar bisa mengangkat taraf ekonomi masa depan. Masa anak miskin dapat yang miskin lagi. Makin sengsara saja hidup ini.” Inginnya aku mendapat orang kaya, salehah, cantik, pokoknya mah sempurna. Mungkinkah dengan modal keyakinan wajah seadanya, ilmu sekedarnya, aku bisa mendapatkan perempuan yang terbaik bagiku?

Yuni yang baru melangsungkan pernikahan, ia pernah bilang padaku, “Bahagia banget dapat suami yang sifat dan sikapnya terangkum dari orang-orang yang pernah ia cintai. Meskipun pernah disakiti oleh pacar-pacar dulu, tapi kelebihan dari pacar-pacar dulu kutemukan semua ada pada suamiku.”

Tegasnya, pokoknya sangat bahagia bisa mendapatkan yang terbaik, pasangan yang menikahinya sekarang. Kalau dia bisa, aku juga yakin pasti bisa. Yang penting sekarang aku selalu berusaha memperbaiki diri, yang bisa membahagiakan diriku, dan orang lain. Maka muncullah saatnya sang perawan.

Berjuang dan berawal dari dalam. Bukan dari luar. Ibda binnafsi. Biasakan untuk selalu menolong orang lain tanpa mengharap imbalan. Memberilah pertolongan, diminta dan tanpa diminta. Pengalaman orang lain begitu banyak. Setiap orang pasti punya pengalaman yang menurut dirinya unik dan berharga. Hidup untuk saling melengkapi.

*

Memang silaturahim bisa melapangkan rezeki. Pulang dari berkumpul di rumah seorang teman, aku dan Pisco menoba mampir ke Toko Mesra. Rupanya sobatku yang paling baik, yang dulu pernah sama-sama aktif di kegiatan rohis Ksi, Noval Firdaus ternyata sudah balik ke Bandung. Dia bilang sudah lama di Bandung. Di Pekanbaru hanya dua tahun. Duapuluhempat Januari lalu dia pulang dari Pekanbaru. Mana aku bisa tahu kepulangan dia kalau tak punya handphone.

Akupun dibuat kaget. Baru tahu ia dengan Hestri sudah putus. Tapi meski mereka sudah putus, mereka berdua sangat berjasa bagiku, terutama ketika aku terlunta-lunta di jalanan yang tak tentu arah. Ketika aku kelaparan, ia menyuguhkan aku makan. Saat aku kedinginan ia memberiku penginapan.

Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan dan membalas kebaikan mereka. Dalam hidupku sudah banyak orang-orang yang telah berjasa bagiku. Tak akan pernah terlupakan jasa-jasa mereka padaku. Masih terkenang dan akan selalu terkenang kebaikan-kebaikan mereka. Kepada pembaca yang tahu siapa-siapa yang kusebutkan namanya disini, sampaikan salam dan terimakasih atas kebaikan-kebaikan selama ini.

Aku dan Pisco, diajak makan bakso di Ramayana. Bahkan kami diajak menginap di tokonya. Kami bertiga berbagi cerita bersama tentang masa-masa sekolah dulu. Noval mengulang lagi cerita dulu ketika aku ngebet banget sama Eva Anindita, sekarang dia sudah jadi artis sinetron. Dia memberikan saran-saran bagaimana mendapatkan dia. Mendekati dia, dengan melalui teman sebangkunya, Riri atau nama lengkapnya Fitria Ayuningtyas, malah aku dekat dengan comblangnya.

Tak memiliki keberanian menyatakan dan menentang. Karena aku punya beban yang kupanggul. Masa anak KSI, anak rohis pacaran. Ketika kelas dua, teman-teman bilang ada yang suka padaku, Anggia Puspitasari. Ada teman perempuan sekelasku heran, “Kok dia yang modis-seksi, lengan bajunya saja seruas jari tapi menjadikanku sebagai kecengan, apa tidak salah. Ibarat langit dan bumi”.

Aku tetap kokoh tidak pernah pacaran selama sekolah. Malah Noval yang akhirnya pacaran menjelang naik ke  kelas tiga. Padahal awalnya dia begitu ‘fanatik’ menentangku semasa kelas dua untuk tidak pacaran. Ingat ketika setiap Jum’at aku dan Noval mengajar Iqra di kelas 1-9, kelasnya Eva dan Riri, ia berpidato di depan siswa kelas 1-9 jangan pacaran karena banyak mudaratnya. Sebenarnya ingin kutolak pendapatnya. Tapi aku diam yang dengan diam bukan berarti mengiyakan. Hanya aku khawatir suatu saat akan jadi senjata makan tuan.

Selama sekolah tak pernah pacaran, bukan berarti tak pernah punya kecengan. Banyak diantara mereka yang sepertinya aku bangga kalau aku bisa mendapatkannya. Termasuk Pisco ini, dia sebenarnya musuh dalam persahabatan kelasku. Dia telah mengalahkanku bisa meraih cinta perempuan bertahi lalat di bibirnya itu.

Memang bukan aku saja yang terpana ketika kutatap senyum manisnya. Tapi lelaki penghuni kelas PIPIS—Pelajar Ilmu Pasti IPA Satu—banyak—untuk tidak mengatakan semuanya—jatuh dan luluh dengan pesona wajahnya. Aku bersyukur, bisa kembali ada kesempatan menatap bibir manisnya hari ini.

Di acara resepsi pernikahan Ayoen, saat kami makan dan berbincang, muncul perempuan itu. Perempuan yang ingin kusapa hatiku, yang pernah singgah di saat-saat remaja kami.

Hari ini dia terlihat cantik sekali dengan gaun vink-nya. Okke Evriana Tabroni. Parasnya kemerah-merahan dengan kacamata yang memikat hati. Aku tak sempat mengobrol lama-lama dengannya. Ingin sekali aku bercengkrama dengannya lama, sebelum kami dipisahkan kembali. Akh, ini hanya kenangan yang menjentik rasa.

Aku membisiki alam kesenyapan dengan nada-nada lirih. Dimanakah perempuan yang tercipta. Ingin dengannya ibarat matahari dengan sinarnya, dan bulan dengan cahayanya, mata dengan penglihatannya, telinga dengan pendengarannya. Intensitasnya menyatu dalam kesemarakan, saling melengkapi, dan tak terpisahkan lagi. Kapankah saatnya itu tiba. Hanya kepada angin aku bertanya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori