Oleh: Kyan | 08/09/2005

Jerawat, Kontrakan, dan Kapten Irhandi

Kamis, 08 September 2005

Jerawat, Kontrakan, dan Kapten Irhandi

**

Pekerjaan sebagai mahasiswa, organisator, pengusaha atau apapun harus dikerjakan dengan baik. Pekerjaan yang menumpuk harus segera diselesaikan dengan cara mencicilnya. Sementara aku ingin waktuku dihabiskan buat membaca buku. Ketika aku membaca, selalu muncul perasaan kebahagiaan, muncul rasa keingintahuan lebih jauh tentang segala hal. Selama ini aku disibukkan dengan urusan organisasi, yang kurasa saat ini cuma sedikit memberi bahagia. Aku ingin lebih banyak berkontemplasi.

Buku-buku yang kubeli harus kubaca. Karena sebentar lagi kami akan menghadapi UTS. Baru saja kuliah perdana semester tiga, sang dosen sudah ‘menakuti’ kami ujian. Mulai sekarang harus mulai menelaah dan berbenah mata kuliah semester tiga. Aku harus berubah dari tahun ke tahun. Sistem belajarku harus efektif. Jangan terlalu banyak main-main atau nongkrong-nongkrong.

Orang bilang, kuliah saja belum cukup. Kita harus terlibat di dunia organisasi. Melibatkan diri di dunia organisasi itu memang banyak memberi manfaat. Namun tujuan utamaku adalah kuliah. Supaya segera mendapat ilmu dan ijazah dan segera mencari kerja. Malu bila terus meminta uang pada ibuku.

Aku ingin melanjutkan misi Ayasophia berkecimpung di dunia perbukuan. Realita setelah lulus aku mau melamar kerja sambil meneruskan cita-cita Ayasophia dan ingin segera melanjutkan ke jenjang S1 Muamalah. Tadinya aku ingin melanjutkan ke Tazkia. Namun keuanganku sepertinya tak mampu. Jika mengharapkan pemberian ibu apakah bisa.

 Aku harus mengandalkan diriku sendiri. Aku harus memulai usaha. Aku ini orang miskin yang buat makan saja terbatas. Aku harus mensyukuri apa yang ada. Kadang muncul skpetis masa depan, karena kemampuan bahasaku kurang. Hasil tes psikotes sewaktu SMA, kemampuan bahasaku sangat tinggi, namun kok begini adanya. Aku rasa aku punya banyak potensi. Aku calon jadi orang besar. Orang populer di duniaku sendiri.

*

Menulis adalah kegiatan kontemplasi. Tapi sering sekali aku malas untuk menulis. Apalagi kalau sudah malam, takut tidurnya teralu larut. Nanti jerawatku makin parah. Kadang jerawat itu membuat semuanya menjadi kacau balau. Stress karena bintik-bintik di wajah.

Aku begitu tidak percaya diri kalau di wajahku muncul jerawat. Kapan wajahku akan bersih kalau setiap malam bergadang terus. Bergadang sewaktu stand Expo dan waktu ke Cimahi, ‘pelenung’saja serasa ada yang nyeri di wajahku. Kupandang wajah di cermin, ada bintik merah membesar. Aku benci bergadang. Oleh-oleh dari Cimahi, jerawat batu muncul. Seperti orang bilang, BA. Bisul Asmara karena cinta terpendam dan tak tersampaikan. Nuansa psikologis setelah bertemu perempuan kasih yang tak sampai.

Jerawat tidak boleh diapa-apakan. Sekarang aku mencoba pakai Acne Cream Zahra dan facial foam Biore Acne Cream. Nanti juga mau coba memakai pelembabnya Biore Acne Cream. Sebelumnya aku sudah berjanji tidak akan mengobatinya lagi jerawatku.

Karena bosan sudah sembuh, tapi muncul lagi. Lalu apa fungsinya diobati kalau hanya mengurasi uang dan emosi. Seperti orang makan, kenapa orang makan toh nanti lapar lagi. Biarlah jerawat muncul dan sembuh dengan sendirinya. Toh malah menghabiskan uang saja. Lebih baik bila kupunya uang, kubelikan buku untuk menambah ilmu.

Tapi aku merasa gak pede ketika jerawatnya jerawat batu, yang gede dan nampak sekali. Aku muak dengan jerawat. Jerawat itu makhluk dari Allah dan obatnya juga dari Allah. Kenapa aku tidak sabar meskipun cuma diuji dengan jerawat.

Aku ternyata tidak sabaran. Apalagi sekarang dihadapkan pada masalah kontrakan. Membayarnya harus disekaliguskan. Uang satu juta kudapat dari mana. Masa pemilik kontrakan tidak punya rasa kemanusiaan. Aku berharap pada Allah saja. Hanya Allah yang menguasai segalanya. Aku dan pemilik kos adalah kepunyaan Allah. Masa Allah membiarkan hamba-Nya yang sedang mencari ilmu-Nya dibiarkan terlunta-lunta.

Tegakah Allah? Aku yakin Allah akan menolongku. Aku pasrah pada-Nya. Tidak ada selain dia yang patut kuminta. Dialah pemilik segalanya. Permasalahan satu merembet ke masalah lain. Selalu ada rasa kekhawatiran yang berlebihan terhadap segala hal. Ya Allah berilah petunjuk-Mu!

*

Pagi-pagi di kosanku sudah sudah banyak teman yang datang. Jam sembilan aku harus segera di kampus mau mengikuti seminar Filsafat Mulla Shadra. Aku ingin duduk paling depan biar terdengar jelas dan lugas apa yang pemateri bicarakan. Karena pendengaranku kurang normal. Begitupun aku memilih jalan ilmu lebih banyak melalui penglihatan, daripada pendengaran karena pendengaranku kurang normal. Setelah sadar itu aku lebih memilih baca daripada mendengarkan ceramah untuk mendapatkan ilmu. Dibandingkan dari mendengar, audio kupikir efektif dengan visual. Tapi yang bagus itu semuanya saling menguatkan.

Istilah-istilah yang dilontarkan pembicara sudah tidak asing lagi bagiku dengan membacaku. Ashala al-Wujud, Mahiyah, Eksistensial, Esensi, Eksistensi, Skeptisisme. Namun padanan kata-kata itu aku belum mengeksplorasinya lebih jauh.

Cerah kang Jalaludin Rakhmat begitu antusias. Beliau dianggap sebagai pemikir Syiah. Namun celotehan-celotehan beliau begitu mengena ke jiwa yang punya hati. Ingin sekali melontarkan satu pertanyaan. Namun takut tidak bisa merangai kata dengan baik. Modal utamanya berani, berani dan berani.

Katanya urutannyanya konvensi ilmunya: Filsafat—Ideologi—Sains—Sosiologi—Sains—Ekologi. Dimulai dari filsafat, lalu gagasan filsafat diturunkan menjadi ideologi, selanjutnya menjadi sains, lalu sosiologi, dan akhirnya menimbulkan berncana ekologi. Para filosof menafsirkan dunia sedangkan ideolog mengubah dunia. Bagaimana caranya agar teori-teori filsafat yang mengawang-awang menjadi teori yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan cara diideologi dan menjadi sains.

Selepas Maghrib aku silaturahim ke kosan Irhandi anak Palembang. Rupanya selama sebulan dia ikut pelatihan Menwa (Resimen Mahasiswa). Wah, dia sekarang berbaju militer kampus. Baguslah, aku jadi punya teman-teman yang aktif di berbagai kegiatan. Bravo kapten Irhandi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori