Oleh: Kyan | 11/09/2005

Kasmaran Yedi-Runi, di Minggu Pagi Jatinangor

Ahad, 11 September 2005

Kasmaran Yedi-Runi, di Minggu Pagi Jatinangor

**

Kuliah dari pagi sampai jam lima, terasa melelahkan. Jam pertama kuliah, Bank Komersial Syariah dosennya dari Bank Muamalat. Membuatku kikuk karena nyambung. Selama ini buku yang kubaca adalah dunia filsafat dan tasawuf, tapi materi dunia ekonomi dan perbankan jarang sekali kubaca koran Republika. Sekarang aku harus menambah lagi bahan bacaan, yaitu dunia ekonomi dan perbankan.

Aku jarang sekali membaca dunia terkini seputar perbankan dan masalah ekonomi, sehingga aku tak tahu apa-apa dan tidak begitu kumengerti dengan pembicaraan dosen praktisi itu. Menonton TV saja jarang. Kalau kubeli TV Tunner, yang harganya duaratus ribu mungkin akan memasukkan menontn kedalam agendaku. Sekarang lagi Pameran Komputer di Braga, nanti Jumat mau mencoba survei harga.

Pulang kuliah hampir menjelang Maghrib. Yedi menginap di kosanku. Dia mengajakku jalan-jalan ke Jatinangor dengan Runi. Karena pagi-pagi kami mau ke Jatinangor, tidak boleh bergadang untuk fresh bangun pagi.

Subuh hari kami bergegas menuju kosan Runi. Maka aku, Yedi, Runi, dan Nisa berangkat sekitar jam tujuh. Semoga saja disana akupun bisa bertemu dengan teman-teman SMU. Terutama Rina dan temannya, Liza. Tapi tak bisa kuhubungi mereka, karena aku tak punya handphone.

Kali ini yang kedua kalinya aku bisa jalan-jalan ke pasar minggu pagi di kampus Jatinangor. Pertama ke sana, aku dan Robbi hendak berjualan jaket. Waktu itu yang laku cuma satu helai. Sungguh menyedihkan dengan pengalaman baruku itu. Buat ongkos saja tidak terganti. Tapi dari sana kuperoleh ilmu, bahwa begitu susahnya mencari uang. Makanya aku tak boleh menghambur-hamburkan uang pemberian Ibu. Karena Robbi yang mengajak, aku diongkosi Robbi. Hanya untuk menemaninya. Karena merasa kikuk kalau sendirian.

Lapak kami dekat dengan tempat Doger Monyet. Lucu sekali aku menyaksikan melihat adegan-adegan dan dagelan-dagelan. Hewan kalau dilatih bakal bisa melakukan apa saja. Sedangkan aku ini manusia, tentu bila melakukan latihan terus menerus bakal bisa menjadi apapun yang kita mau. Intinya adalah pengulangan. Menyatakan cinta pun harus diulang sampai tujuh kali.

Kepergianku yang kedua kali untuk menemani mereka yang sedang kasmaran. Antara Yedi dengan Runi, entah berjenis apa hubungannya. Sekedar teman sekelas, sudah berikrar pacaran, atau sebatas pertemanan biasa. Terdapat cinta segitiga diantara mereka. Antara Yedi, Runi, dan Pacar Runi. Atau antara Yedi, Runi, dan Reza. Apakah keduanya benar adanya? Karena ini menurut rumor saja, tak jelas bagaimana persis ceritanya.

Runi mengajak kami makan di tempat lesehan. Aku pikir pasti mahal dan aku tak akan mampu membayar kalau sendiri. Tapi mereka baik, aku dijajanin oleh mereka. Bertiga makan pakai daging gede dan ikannya juga gede. Ketika Yedi membayar, terlihat olehku dia memberikan uang sebesar duapuluh ribu. Alamak, begitu mahalnya.

Kalau Nisa hanya makan nasi pakai telur. Sudah tentu harganya agak murah sedikit. Tapi mereka gak menyesal makan disana, meskipun mahal. Hanya sekali ini kok, jawabnya. Sebelumnya kupikir pasti mahal dan ternyata memang mahal.

Jalan-jalan berkeliling pasar, aku tertarik dengan kerajinan. Memang segala sesuatu bakal jadi duit kalau kreatif dan inovatif. Bukan aku tak kreatif, tapi ketika aku berkarya masih takut aku dibilang mata duitan dan sedikit-sedikit diuangkan. Nanti dibilang aku ini seorang kapitalis.

Misalnya ketika membuat tugas dan fotokopi bahan kuliah, aku suka disangkanya mengambil untung. Padahal wajar kan kalau berjual beli harus mendapatkan untung. Bukannya akadnya sudah jelas, akad murabahah. Akadnya harus jelas, Murabahah atau Taawun.

Begitu juga dengan bank syariah. Banyak orang menganggap bahwa bank syariah itu lembaga sosial. Namanya lembaga bisnis ya lembaga bisnis. Meskipun tak dipungkiri ada sisi sosialnya. Maksud utama adalah bank syariah sebagai lembaga bisnis yang mencari keuntungan. Idealnya mungkin ketika ada orang mau pinjam, gak usah pakai jaminan. Dan jika terjadi pembiayaan macet, ikhlaskan saja. Toh itu dalil tekstualnya begitu. Tapi kita harus melihat definisi ikhlas itu bagaimana. Ikhlas adalah urusan vertikal, dan hubungan horizontal adalah muamalah.

**

Sampai di kosan lagi sekitar jam sebelas. Pulang dari Jatinangor aku langsung tidur dan bangun jam dua. Lalu salat dan beres-beres kamar. file fotokopi mata kuliah semester dua kurapikan. Hari ini aku disibukkan dengan mengetik peta hidupku, untuk merencanakan masa depanku.

Seminggu lagi aku harus bayar kontrakan. Aku belum mengecek ATM lagi. Apakah ibuku sudah mengirim atau belum. Kadang-kadang aku dibuat gelisah karena takut gak mampu bayar atau diusir dari asrama Kurnia. Ingin aku kosan berdua, tapi gak ada yang mau.

Alasannya karena gak bisa dipakai buat menyendiri. Karena selalu nimbrung khususnya anak-anak MKS, domba-domba tersesat yang hampir setiap hari selalu ada yang datang ke kosanku. Menurutku itu baik sekali, karena itu berarti aku diakui oleh mereka sebagai teman. Mungkin aku bisa menolong orang lain. Karena suatu saat entah kapan aku pasti bakal membutuhkan mereka.

Kadang aku berpikir setelah lulus aku akan kemana. Apakah balik lagi ke Batam. Karena gak mungkin aku balik ke kampung di Tasik Selatan. Nanti keilmuanku tidak produktif dan berkembang.

Jalan lain mungkin aku harus segera mendapatkan kerja atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi. Mau tidak mau aku harus memilih jalan itu, segera kuperoleh kerja dan tidak bergantung lagi pada ibuku. Makanya mulai sekarang aku harus memenuhi syaratnya.

Aku harus mampu berbahasa Inggris dan memperbanyak relasi. Khususnya dengan para praktisi bank. Dosen-dosenku harus aku dekati secara personal, selain aku aktif di kelas. Bukan berarti aku menjilat atau mencari perhatian. Bila aku kompeten, nanti juga tidak akan susah untuk mendapatkan segala hal.

Hari Senin aku harus ke Bapusda mau mencari laporan keuangan. Dosen Bank Komersial menyarankan pada kami untuk mempelajari laporan keuangan perbankan. Dulu ketika menjadi nasabah tabungan di BSM, selalu tersedia lembaran laporan keuangan, apakah sekarang masih ada. Sepertinya aku harus ke kantor BSM segera. Sekalian melihat-lihat. Mengumpulkan banyak laporan keuangan lebih baik. Nanti aku bisa membandingkannya.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori