Oleh: Kyan | 13/09/2005

Tuhan Menjawab Doaku

Selasa, 13 September 2005

 Tuhan Menjawab Doaku

**

Kebingungan oleh sahabat sejati. Punyakah aku seorang sahabat sejati. Di kala aku menghadapi kesusahan, ia yang segera mengulurkan bantuan. Ketika aku mendapat kebahagiaan dia menjadi tempat berbagi rasa bahagia itu. Namun realitas, khususnya saat ini aku sedang bingung. Aku tertekan karena harus segera melunasi kontrakan, sementara tak ada yang bersedia satu kosan denganku.

Saat ini aku masih kekatukan takut gak mampu bayar kontrakan dan takut diusir oleh pemilik kos. Inginku satu kosan berdua, biar ringan biayanya. Namun teman-temanku yang datang ke kosanku, tak ada yang mau menemaniku. Apa sih kurangnya aku. Setiap hari aku selalu berusahah berbuat baik pada mereka, mengulurkan pertolongan, menerima mereka apa adanya. Aku membiarkan kosanku bebas terbuka seperti tempat tinggal mereka. Segala barang-barangku bebas mereka gunakan. Mulai dari komputer, sandul, menumpang tidur, pinjem buku dan kadang aku meninggalkan kosan dan membiarkan mereka ada di kosan.

Kadang pula aku membatalkan agendaku karena mereka datang mengunjungi. Kupikir tak kurang aku berbuat baik pada mereka. Bila saat ini aku sedang mengalami kesusahan, benarlah anggapanku bahwa aku belum mempunyai sahabat sejati. Benarlah diantara kita saling berhubungan karena ada kepentingan.

Dalam pertemanan begitu sering kita merepotkan seseorang, sementara kita tidak bersedia untuk direpotkan. Tapi mungkin karena aku tak berbicara pada mereka bahwa saat ini aku sedang kesusahan uang. Bila mereka mengetahui mungkin akan berusaha membantu semampunya.

Memang, aku hanya memberi tahu dan meminta kepada mereka untuk tinggal satu kosan denganku. Tapi tidak memberi penjelasan bahwa alasannya karena kekurangan uang. Tapi setidaknya mereka bisa tahu alasanku kenapa meminta bantuan mereka.

Kemarin aku cek ATM, masih nol saldonya. Ibuku masih belum mengirim uang. Mau membuat surat tak ada biaya untuk mengirimnya. Kemarin pinjam tak ada yang memberi. Kadang terbesit dimana keadilan itu. Mungkin aku harus lebih bersabar lagi. Makanya ketika aku lulus kuliah, aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Usaha ke arah itu harus dioptimalkan dari sekarang.

Aku harus sungguh-sungguh belajar dan mempertahankan IP-ku. Aku harus mencoba menulis artikel di koran supaya mendapat penghasilan. Sekarang aku lebih lebih disibukkan dengan organisasi. Apakah terjun ke dunia organisasi menghambat pada tujuanku?

Aku harus lebih pandai memanaj waktu. Aku yakin Allah tidak akan menguji hamba-Nya yang tidak sesuai dengan kesanggupannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba pencari ilmu-Nya. Ya Allah, tunjukkanlah maha Rahman dan Rahim-Mu!

*

Semalam aku menelepon ibuku. Beliau bilang baru pulang dari Singapore. Aku meminta pada ibu dikirim uang untuk membayar kontrakan tahunan. Tidak kusebutkan bahwa membayar kontrakan harus disekaliguskan mulai tahun sekarang.

Dikatakan beliau besok mau mengirim uang Rp 500.000,- Sepulang dari mengambil uang di ATM, muncullah Dian datang ke kosanku setelah beberapa hari dia gak kesini. Biasanya hampir tiap hari dia selalu standby main di kosanku.

Muncullah keberanian kuungkapkan padanya bahwa aku sedang mengalami kesusahan. Mungkin dialah jawaban sebagai orang yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku. Dia bersedia memberiku pinjaman Rp 500.000,- Sehingga genaplah ada cukup uang buat membayar kontrakan.

Sudah kupegang uang sebesar satu juta, tapi kalau diberikan semuanya, lantas dari mana buat makanku. Masa aku meminjam lagi Rp 50.000,- buat makan dan bayar listrik Rp. 30.000,- untuk bulan ini.  Mau kucoba bernegosiasi nanti dihadapan pemilik kos. Aku akan bilang:

“Saya mau terbuka dan berterus terang saja kenapa saya masih bertahan di tempat ini. Karena memudahkan orang membaca buku, orang-orang bisa menjangkaunya dengan mudah karena tempatnya di pinggir jalan. Saya membuka perpustakaan pribadi dipakai buat umum. Ya kepentingan sosial buat mencerdaskan bangsa.

Setahun sudah tinggal disini, saya pun belum yakin akan keamanannya. Karena tahun kemarin saya di sini sudah kehilangan handphone, jemuran pakaian, alat-alat makan, dan jangan ditanya kalau kehilangan sandal. Sampai sekarang pun saya belum berani menjemur sepatu di atas. Masih trauma takut kehilanan lagi.

Kemarin ibu saya hanya mengirim uang limaratus ribu. Lalu ada teman berbaik hati memberi saya pinjaman limaratus ribu. Orang tua saya adalah orang tua tunggal, hanya ibu. Ibu saya bukan PNS, bukan apa-apa. Tapi sebagai buruh saja. Kalau saya berikan semuanya satu juta, lantas saya dari mana buat makan dan kebutuhan lain. Selebihnya saya hanya berserah diri pada Allah.

Kalau alasan bapak bayarnya harus full, karena kalau dicicil dikhawatirkan nanti baru beberapa bulan bakal pindah atau lari, silakan saja tahan ijazah berharga saya. Buat apa saya mengkianati orang. Toh hidup saya adalah berusaha agar bermanfaat bagi orang lain. Barang siapa memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya.

Mungkin akan terenyuh mereka mendengarkan curhatku, hanya Allah yang membolak-balikkan, yang mengkeraskan dan melembutkan hati siapa saja. Aku bersyukur sudah kupegang uang cukup buat bayar kontrakan. Tinggal buat bekal semoga ada pemasukan dari rental komputer. Karena minggu-minggu kemarin, tidak ada kegiatan kampus, orang yang merental pun menjadi surut.

Ada baiknya para dosen memberikan tugas paper dan makalah pada mahasiswa dengan gencarnya seperti diserang tanpa bisa memberi tangkisan. Karena dari situ warga sekitar yang membuka usaha rental komputer, toko buku, dan fotokopi meraih penghasilan. Sudah merasakan sendiri dengan segala kebijakan yang dibuat di lingkungan pihak-pihat terkait, bagi yang memiliki wewenang dan kekuasaan ketika memberikan keputusan akan sangat berpengaruh pada masyarakat secara keseluruhan.

Menjelang Maghrib datanglah sahabat lain. Inipun adalah jawaban dari Tuhan. Dudi memberiku uang limapuluh ribu. Katanya buat tambahan bayar kontrakan. Sungguh ketika mengalami kesusahan, dengan tetap berikhtiar dan hati tetap terpancang pada Rahman dan Rahim Allah SWT. Terimakasih Tuhan. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori