Oleh: Kyan | 17/09/2005

[AYU] Kita Duduk Berdua

Sabtu, 17 September 2005

[AYU] Kita Duduk Berdua

**

Pagi-pagi sudah ada perempuan yang berkunjung. Ayu yang sekarang kostnya terpisahkan hanya beberapa meter. Tadinya aku mau ke Bapusda. Tapi Ayu memintaku mengantarnya ke Palasari. Katanya, “Mumpung hari ini tidak ada kuliah, aku ingin diantar. Dulu kan sudah janji mau mengantar”.

Akupun mengiyakan mau mengantarnya. Aku mandi dan tak lama kemudian Dian Hadi datang. Dia meminta diantar ke warnet kampus. Kubilang bahwa aku sudah punya janji dengan Ayu. Karena Dian sudah memberiku uang pinjaman buat bayar kontrakan, dia meminta sebentar saja. Setengah jam saja di warnetnya.

Namun janji tinggalah janji. Nyatanya mau setengah jam menjadi satu setengah jam. Aku sudah ingkar janji pada Ayu-ku. Mungkin dia sedang menungguku lama di kosanku. Kubilang ke Dian mau pulang duluan.

Dan dengan langkah tegopoh-gopoh begitu sampai di kosan, benar saja sudah terpekur dia duduk di dipan depan kosanku. Ia bilang sudah sangat lama menungguku. Di raut wajahnya terpancar rasa penuh kesal yang ditahan. Aku berulang kali meminta maaf padanya. Aku berjanji tak akan mengulangi keingkaran ini.

Kutoleh jam, jarum pendeknya sudah berada diantara angka sepuluh dan sebelas. Hari ini hari Jum’at, bagaimana dengan salat Jumatku. Ditambah lagi aku ingin makan dulu, karena perutku sudah keroncongan. Belum sempat makan keburu Dian datang. Jika aku menunggu salat jumat di Cibiru akan lebih lama lagi Ayu menungguku. Sudah menunggu dua jam, tidak tega harus menunggu lagi dua jam untuk berangkat.

Kuputuskan saja mari kita berangkat menuju. Sambil berjalan, kuperhatikan binar matanya belum kulihat lagi. Masih menahan kesalnya menungguku. Berulang kali aku meminta maaf karena sudah membuatnya kesal.

Sampai di terminal Damri, kami naik duduk bersebelahan mengambil jok paling belakang. Supaya nanti gampang turunnya. Karena Damri sering sesak orang-orang berdiri, harus dibuat supaya nanti gampang turun.

Sampailah kami di Palasari jam duabelas lebih. Terdengar di masjid Khutbah Jum’at mau berakhir. Doa penutup Khutbah sedang diaminkan jamaah. Segera aku bergegas menuju masjid. Tapi jalan menuju tempat wudhu penuh sesak. Bila aku merasa sudah punya wudhu, mungkin aku bersentuhan secara tak sengaja dengan Ayu di jalan.

Untuk berwudhu, terpaksa aku berusaha naik pagar menuju tempat wudhu. Terburu-buru bermakmum dan hanya kebagian satu rakaat salat. Bagaimana bisa salat secara khusyu, berwudhu dan salatnya terburu-buru. Takut tidak satu rakaatpun kuikuti.

Ayu yang sudah menunggu semenjak tadi di kosanku, sekarang kubuat lagi harus menungguku. Selepas Jum’atan, kami pun makan di warteg terdekat Palasari.

“Sudah lama aku gak makan seperti ini”, kubuka pembicaraan disaat makan sambil kulirikkan pandang. “Emang sebelumnya sudah gitu?,” bicaranya terdengar ketus. Mungkin dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi harus lama menunggu.

Kami makan dengan bayar masing-masing. Maklum kami mahasiswa, aku belum bisa mentraktir dia. Dia yang mengajakku, baru masuk kuliah tentu sudah banyak pengeluaran. Disana kami makan cuma pakai telur dan sayur sudah harus empatribu rupiah. Kalau di Cibiru masih bisa setengah dari harga ini. Daripada kami harus menahan lapar, lebih baik makan saja meskipun mahal. Ditambah lagi aku sudah lama gak makan seperti ini, dengan perempuan, ditemani sosok perempuan.

Rasanya tidak afdhal kalau ke Palasari aku tidak membeli buku. Tapi aku harus mengencangkan pengeluaran buat membayar kontrakan. Sambil menemani Ayu memilih-milih buku, aku cuma melihat-lihat saja. Kudenguskan pandang pada buku-buku yang berjejer. Sekedar melihat buku apa saja yang mesti kubeli nanti jika kupunya uang. Aku ingn beli Kamus Besar Ekonomi.

Selebihnya kuperhatikan saja Ayu sedang asyik memilah-memilih buku. Kuikuti kemana dia melangkah menelusuri deretan buku-buku bahan kuliah. Lalu dia menolah, “Ada apa” diakhiri sungging senyumnya. “Enggak, merasa asyik saja memandangmu”. Nah, baru aku merasa dia sudah memaafkanku dengan melihat senyumnya yang lepas. Alhamdulillah.

Tak terasa mengubek-ubek di Palasari, hari semakin sore. Dia membawa buku Ushul Fiqh dan dua buku lain untuk dibayar di kasir. Kupikirkan memilih rute mana menuju jalan pulang ke Cibiru. Aku jalan dengan perempuan, kalau ke Cikudapateuh naik Damri. Saat sore hari pasti Damri akan sangat sesak penumpang. Aku membawa perempuan harus memberikan kenyamanan.

Kuputuskan pulang dari Palasari, lebih baik naik angkot saja. Kubilang padanya, “Soalnya ini sudah sore, bakal  penuh jika naik Damri lagi. Kita naik angkot Kalapa-Caheum saja. Nanti disambung angkot Cicadas-Cibiru.”

Soal rute jalan dia sepenuhnya menyerahkan padaku. Bila dibawa dulu kemana pun, karena tidak tahu jalan dia pasti mengikutiku. Ketika angkot yang kami tumpangi mellewati depan Bandung Superm Mall, dia berbisik. “Jalan-jalan yuk ke BSM” pintanya padaku.

Kutanyakan jam sudah jam berapa. Sudah jam lima lebih. “Bener pengen main dulu?” pertanyaan balikku. “Ya udah kalau masih ada waktu”. Ia balik bertanya, “Masih ada waktu bagaimana”.

“Ya kalau tidak apa-apa pulangnya kesorean sampai Cibiru”, tukasku. Padahal dalam hati ingin berkata, “Ya kalau masih ada waktu untukku, sampai kapanpun aku mau.” Memang aku tak tahu, apakah ia sudah punya pacar atau belum. Aku belum berani bertanya ke soal pribadinya. Hanya pernah kucuri dengar dari Siti, pacarnya ada di Ciamis.

Lalu kami pun turun. Ketika kami turun dari angkot, kurasakan nuansanya. Mungkin beginilah kalau jalan-jalan dengan pacar. Saat kami menaiki eskalator hampir berpegangan tangan, mengingatkan pada kisah dulu di Batam. Akh, dimanakah Ella sekarang. Serasa aku menerima sapuan lembut ketika pipiku diusap lembut dan pelan penuh perasaan. Memang sentuhan lawan jenis selain penuh debar, menghangatkan, juga membasuh jiwa yang lusuh.

Selama ini aku belum pernah merasakan sentuhan itu lagi. Bisa berjalan-jalan spesial, berduaan dengan perempuan. Memang selama di Bandung ini, semenjak aku masuk SMA, aku belum pernah mempunyai teman perempuan, dia yang benar-benar dekat. Sekarang sudah setahun lebih semenjak kembali dari Batam, mungkin hanya perempuan kampusku itu saja.  Hanya memberi kesakitan, bukan kehangatan.

Mungkin bagi setiap orang, berjalan berdua sudah biasa mereka lakukan dalam setiap minggu menikmati weekend, atau bahkan setiap hari. Mereka karena sudah biasa, sehingga sudah tak dapat lagi menangkap hal yang istimewa dari berjalan berdua. Tapi bagiku, ini pengalaman yang sungguh-sungguh istimewa.

Sebuah pengalaman berharga dengan kejadian jam demi jamnya tak mungkin akan dilupa. Ingin menjadi ingatan suatu ketika bahwa hari ini aku sangat senang bisa jalan-jalan berdua dengan perempuan. Maka ingin hal tersebut saya tuliskan segera untuk dapat dibaca suatu ketika.

Semenjak kembali dari Batam, baru kali ini lagi aku berkunjung lagi ke BSM. Tapi aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Meskipun ia seorang perempuan, tapi dia sebatas teman dekat saja. Tidak lebih.

Pernah kudengar dia katanya sudah mempunyai ikatan, bahkan mau ke jenjang pernikahan. Kadang-kadang timbul rasa iri, kalau ada seseorang sudah mempunyai pasangan. Sementara dulu dan sudah kuliah masih saja jomblo. Mungkin niatku belum kuat atau memang tak ada niat untuk berpacaran.

Kadang ketika aku ingin mencintai seseorang, aku malah menemukan kekurangannya. Aku ingin mendapatkan pasangan orang kaya sebagai nasihatnya kawan. Aku ingin mendapatkan perempuan cantik, kaya, paham agama, dan keturunan terhormat sebagai idealnya pasangan. Tidak mengharapkan itu, aku orang miskin jika mendapatkan yang miskin lagi, nantinya malah lebih sengsara.

*

Sampai Cibiru sekitar jam tujuh lebih. Kami mampir ke warung nasi untuk membeli rencang nasi. Beli pepes ayam kesukaannya, kesukaanku juga. Sampai di kosan kamipun makan. ia ingin makan sepiring berdua. Ia bilang, “Kapan lagi bisa makan seperti ini”. Selesai makan ia pun pulang ke kosannya yang jaraknya cuma sepuluh langkah dari kosanku.

Cukup melelahkan juga jalan-jalan hari ini. Sebentar merebahkan diri, lalu berwudhu untuk kutunaikan salat jama’ Maghrib dan Isya. Masih ada film yang belum selesai kutonton kemarin bersama teman-teman kelas. Tapi ketika aku sedang fokus menonton, ia datang lagi. Ia minta bantuanku untuk menjelaskan bahwa aku ini sebatas teman saja, tidak lebih. Menjelaskan sesuatu pada pacarnya?

Rupanya semenjak siang pacarnya menelepon berulang kali, handphone dia entah habis batrei atau dimatikan. Lalu dia tidak meminta izin lebih dulu pada pacarnya bahwa hari ini dia hendak ke Palasari, apalagi ditemani teman lelaki. Dia tak mempunyai alasan lagi bahwa seharian pergi mencari buku dan jalan-jalan. Maka jujurlah dia pada pacarnya itu.

Bagaimana aku menjelaskannya? Aku ogah sekali karena itu hubungan mereka berdua. Tapi dia terus-terusan memaksaku untuk menelepon pacarnya itu. Karena takut dia terus uring-uringan, aku mengiyakan dan menjelaskan bahwa diantara kami tidak ada apa-apa kecuali sebatas teman.

Begitu kutelpon di wartel yang dibayar dia, begitu kuangkat gagangnya, tanpa aba-aba dia sudah nyerocos duluan. Dia bilang, “…Tolong. Tolong hargai hubungan kami…” tidak tahu tarifnya berapa Ayu membayar aku menelpon, yang jelas sang pacar agak lama dia memarahi dan mengkata-kataku sebagai ini dan itu.

Aku tidak ingin memperpanjang perdebatan, hanya terakhir kukatakan, “Setidaknya pada pacarmu berilah kebebasan”. Entah kebebasan apa yang kumaksud. Apakah kebebasan untuk menentukan pilihan, memperbanyak referensi pilihan, siapa lelaki yang pantas bersanding dengannya di pernikahan.

Kadang aku bertanya, adakah cinta yang sejati itu? Selama ini aku belum menemukannya. Selama ini kuinginkan pasangan adalah orang kaya. Berarti ini tidak murni donk mencintai. Itu karena cintanya beralasan. Yaitu mencintai karena ada sesuatu yang melekat pada objek yang dicintai itu. Padahal mencintai harus atas nama Tuhan, atas nama yang tak terdefinisikan.

Tapi kupikir itu wajar, manusiawi. Pokoknya aku ingin mendapatkan perempaun cantik dan kaya. Tentunya baik dan salehah itu yang lebih utama. Ia yang bisa mencintaiku apa adanya dan tidak menuntut banyak padaku. Karena aku hanya bisa menjadi diriku sendiri. Tapi aku menuntut pada cinta? Aku menuntut pada perempuan itu? Beginilah aku.

Persahabatan dengan seseorang, kadang timbul gesekan-gesekan yang tidak diharapkan. Dalam membina hubungan dibutuhkan kejujuran, keterusterangan dan saling percaya. Jika Allah sudah menutupinya, biarlah Allah dan dirinya yang tahu. Jangan dibeberkan pada orang lain. Demi kebikan semua harus bisa mengarifi masa lalu masing-masing.

Pengalaman berjalan berdua dengan perempuan yang sudah dipacari atau ditandai orang, pada akhirnya bukan mendapatkan keceriaan tapi mendapatkan masalah. Kukira Ayu bilang dulu ke Aa-nya. Ternyata dia sudah berbohong ke Aa-nya. Mungkin takut tidak diberikan izin kalau memberi tahu?

Dan pacarnya itu marah-marah padaku. Begitu ketika kutelpon—disuruh Ayu untuk menjelaskan semuanya—terus ingat pacarnya bilang padaku: Tolong jaga dan menghargai hubungan kami. Sebenarnya aku tidak ingin meneleponnya. Takut bicaraku malah memperkeruh suasana dan masalah semakin runyam. Tapi Ayu tidak akan tenang kalau kudiamkan.

Daripada masuk terlibat menjadi pihak ketiga dalam hubungan orang lain, hari ini berjalan-jalan saja sendiri menyakiskan acara Wisuda. Baru pertama kali aku menyaksikan acara wisuda. Kampus disulap jadi pasar. Penuh sesak dengan orang-orang dan kendaraan.

Aku baru tahu keadaan kampus jika hari Wisuda. Orang dari kampung pada datang untuk melihat anak, saudara, sepupunya, keponakannya atau siapa saja ketika diwisuda. Tiba-tiba bayangan pikiranku melayang pada suatu saat nanti ketika aku wisuda. Aku ingin datang sendirian saja. Karena ketika wisuda, bukan kebahagiaan yang datang. malah ketakutan yang ada. Setelah lulus mau apa lagi. Pasti melamar kesana-sini di tengah terik matahari.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori