Oleh: Kyan | 20/09/2005

Tak Kuliah Ditagih Bayar Kontrakan

Selasa, 20 September 2005

Tak Kuliah Ditagih Bayar Kontrakan

**

Karena ngantuk berat, setelah salat subuh tertidur lagi. Tahu-tahu bangun jam setengah tujuh. Aku buru-buru mandi dan gak sempat masak nasi. Sampai di kampus aku bingung karena gak tahu dimana ruangan yang mau dipakai kuliah Asuransi. Aku langsung ke lantai atas dan bertemu perempuan yang waktu aku dan Ayu membeli rencang nasi di Mekarsari. Aku kikuk mesti ngomong apa pada anak Palembang itu. Aku langsung ngeloyor saja pergi.

Aku melihat banyak anak MKS-B dan tak lama kemudian kawan-kawan MKS-C pada datang. Dosen Asuransi dari Takaful belum ada. Kami hanya ngobrol saja sambil menunggu dosen yang entah bakal datang atau tidak.

Aku melihat ke bawah lewat balik jendela. Kuperhatikan lalu lalang orang-orang dalam rintik hujan yang tak berhenti sejak malam tadi. Ada informasi datang jam kuliah diganti ke jam empat sore. Anak-anak yang lain sudah pada pergi. Aku dan Aceng ke kosan Uly diantar Arief pakai motor. Setelah itu aku pulang karena mau masak nasi.

Sudah jam setengah sepuluh tinggal setengah jam lagi mau mengadakan rapat. Kalau menunggu masak nasi gak keburu, akhirnya aku membeli nasi saja dan sayuran buat makan sore. Aku kebagian memberikan surat ke HMJ syariah. Aku kesulitan karena belum begitu banyak yang kukenal di luar MKS dan Muamalah. Namun semuanya surat bisa juga dibagikan dan dititipkan.

Aku mengikuti rapat OPM sampai Duhur. Ideku mungkin terlalu idealis. Jadi sering saja ditolak. Tak apa. Pulangnya mampir ke warnet sekalian mengecek e-mail dari Bu Sara, dosen Matematika Keuangan yang cantik itu. Sebelum pertemuan kelas, ia memberi bahan kuliah untuk kami fotokopi dan dipelajari dulu sebelum kelas dimulai.

Sampai di kosan segera kutunaikan salat dan setelahnya kucek disket untuk melihat data dari warnet tadi. Sialan datanya kena virus dan tak bisa dibuka. File catatan harian pak Hernowo gagal bisa dibaca.

Harus balik lagi ke warnet. Bagaimana kalau file di warnetnya sudah dihapus. Jika mau langsung mengeprint di warnet, per lembarnya seharga empat ratus rupiah. Buatku itu sangat kemahalan dibandingkan di rental. Aku pun punya printer sendiri. Dan aku harus ke sana lagi sebelum hari Minggu. Jika sudah melewati Minggu sebagaimana diumumkan oleh petugas, file-file di hardisk komputer warnet bakal dihapus semua.

Mengambil lagi bahan kuliah di warnet, menghabiskan biaya limaribu dan aku langsung menuju ruang kuliah fakultas syariah. Sudah sore aku gak mandi dulu karena takut telat datang seperti tadi pagi.

Malah tetap dosennya tak ada juga. Lantas hari ini dapat apa? Aku ke sana banyak bercanda saja, dengan Uly terutama. Kadang bikin ngegemesin tuh anak. Pulangnya mampir dulu ke kosan Siti Nuraeni. Lalu nongkrong dengan temen-temen di depan kampus. Semoga bermanfaat saja dan memperoleh rezeki karena silaturahim dengan kawan-kawan.

Malamnya kami menonton film Arabian Night. Kisah 1001 malam yang diangkat ke layar lebar dan film kedua, Catatan Akhir Sekolah. Dari kedua film tersebut banyak yang dapat kupetik hikmahnya yang bisa menjadi cermin atau obor bagi penonton. Bahwa dalam meraih sesuatu tidak boleh dengan segala cara tanpa melihat hukum kehidupan.

Bisa saja yang kalah itu sebenarnya adalah sebuah kenangan. Dibalik kesuksesan laki-laki, ada dan selalu ada perempuan yang selalu didekatnya yang selalu memberi penyejuk, pengingat dan pendorong serta penggairah semangat hidupnya, elan vital-nya. Tak bisa dipungkiri peran seorang perempuan dalam kehidupan ini. Maka janganlah sekali-kali merendahkan kehormatan mereka. Dalam urusan sex pun perlu dengan cara terhormat dan tidak kasar. Harus dengan penuh lembut dan kasih sayang.

Dalam film kedua memberi gambaran bahwa dalam persahabatan akan ada gesekan-gesekan yang tidak sengaja yang bisa menyebabkan hubungan menjadi tidak kondusif atau bahkan retak. Kita harus mengungkapkan kebenaran, meskipun itu pahit. Dunia entertainment bisa dijadikan media suara kemanusiaan—dakwah, suara keadilan. Kampus Islam harus bisa menghasilkan orang yang berkompeten dan berkomitmen terhadap nilai-nilai, yang bergelut atau memperdalam di dunia sinema. Kita juga jangan sekedar asal menonton. Tapi harus bisa mengikat makna dari film-film yang ditonton.

Sinema sekarang bisa menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan kebenaran. Orang KPI bisa dioptimalkan dalam arena dakwah. Semua orang harus bergotong-royong dalam menggemakan suara keadilan.

Ketika aku sedang makan malam, aku dipanggil oleh penunggu kosan. Menantu punya kosan menagihku aku harus membayar sisanya. Ia tetap ngotot bayarnya tidak bisa dicicil. Meskipun aku sudah berterus terang dan jujur mengemukakan berbagai alasan sebenarnya.

Sewaktu aku menjelaskan semua itu, keringatku bercucuran, nafas tersengal-sengal, deg-degan. Padahal aku terbiasa bicara di depan forum. Mungkin karena aku tidak bisa menguasai keadaan. Pembiasaan diperlukan dalam setiap hal jika ingin menguasainya. Bisa karena biasa.

Sudah malam, aku ingin tidur.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori