Oleh: Kyan | 22/09/2005

Langkah Domba-Domba Tersesat

Kamis, 22 September 2005

 

Langkah Domba-Domba Tersesat

**

Begitulah pikiran seorang teman bisa menjadi virus dalam lingkup pertemanannya. Dia begitu semangat berbicara tentang bisnis dan perkuliahan. Meskipun tampangnya seperti sangar menakutkan, tapi otaknya sangat encer dan brilian.  Lalu dibilangnya aku tak punya pendirian, gampang diajak. Ia menasihatiku untuk membikin agenda harian supaya yang dikerjakan perhari dan perbulan bahkan pertahun jelas ada titik fokusnya.

Suasana menjadi gaduh di kamar kosanku. Banyak teman-teman yang berkunjung ke kosanku. Aku yang sedang menelaah satu buku, akhirnya membuatku tak bisa konsentrasi penuh. Maklum, aku harus melayani “domba-domba tersesat” ini. Siapa Yesus dan siapa domba-dombanya, entahlah tidak perlu tahu.

Tidak biasa aku tergesa-gesa begini. Jam enam pagi aku sudah berjibaku di asrama kosanku untuk lebih dulu pergi ke kamar mandi. Ada kuliah jam tujuh pagi, maka aku harus segera mengantri mandi. Bila tidak segera pergi ke kamar mandi, aku bakal tak kebagian air dan kesiangan masuk kuliah.

Sekarang sedang musim kemarau harus hemat pula penggunaan air. Di asrama tempat lain sudah pada kering airnya. Beruntung di tempatku masih tersedia air cukup untuk keperluan mandi. Tapi itu tadi harus semenjak pagi-pagi sekali sebelum orang lain.

Mata kuliah PAI, Pendidikan Agama Islam. Seperti sekolah dan kampus umum saja, ada materi pelajaran PAI. Memang, meskipun kuliahku di kampus Islam, tapi jurusanku seperti jurusan umum: Manajemen Keuangan. Maka penting ada mata kuliah PAI.

Sudah ada tugas makalah yang harus segera selesai Kamis depan. Aku mendapat bahasan tentang perilaku bisnis yang sah, kebebasan dalam usahah ekonomi dan keadilan atau persamaan. Aku sekelompok dengan Susi, hanya berdua. Kuliah Matematika ada tugas pula. Bank komersial ada, Manajemen Keuangan ada juga. Memang banyak banget tugas kuliah yang hampir semua matakuliah memberi kami tugas makalah. Belum lagi aktif di organisasi harus menyusun agenda ini dan itu.

Aku harus bergerak cepat, jangan terlalu ideal jika akhirnya gak bisa kelar-kelar diselesaikan itu makalah. Namun tetap, jangan asal-asalan yang sekedar kejar setoran. Menyusun makalah tidak perlu bertele-tele atau terlalu banyak mengutif paragraf dari buku referensi. Orang bilang ‘teksbook thinking’. Tapi mencobalah untuk menuangkan gagasan sendiri.

Hari Senin harus sudah dibuka stand pendaftaran OPM MKS dan buletin sudah deadline. Menajemen Zakat bukunya harus kubaca. Mahasiswa bayarnya bisa dicicil tiga kali sehingga lunas sebesar Rp. 30.000,- Ini buku penting jadi mahasiswa harus memilikinya.

Jika dipikir-pikir belum begitu banyak tugasku. Malahan ada anak AS, sampai harus menyusun enam makalah. Ini kuliah. Coba kalau nanti di dunia kerja, bakal sering dipanggil untuk seminar atau pembicara diskusi. Aku harus siap selalu ketika undangan datang dan makalahnya. Aku harus berpikir bahwa aku bisa.

Pulang kuliah tadinya mau mengedit proposal lagi. Eh malah teman-teman ingin menonton, sampai Maghrib. Aku susah untuk menolaknya. Akhir-akhir ini aku sering menonton film daripada membaca buku. Kalau saat kesendirian mungkin aku bisa membaca dan menulis.

Di kosanku selalu banyak tamu. Di sisi lain banyak tamu menandakan bahwa aku penting atau diakui di hati teman-teman. Namun sisi lain aku butuh kesendirian untuk aktivitas-aktivitas seperti membaca, mennulis dan mengerjakan tugas.

Malamnya ketika aku mengembalikan CD film ke rental, eh ingin pinjam lagi. Aku belum bisa menolaknya. Akhirnya kupinjam lagi film: Janji Joni dan 12 a.m. Film pertama mengisahkan tentang janji dan komitmen pada pekerjaan. Selain itu pesan yang bisa kuambil bahwa  kita bekerja harus karena hobi dan memang pekerjaan yang digeluti itu disukai.

Bekerja sesuai hobi, kita akan merasa tak ada beban dalam mengerjakannya dan tidak merasa diburu-buru deadline. Menyelesaikannya sebagai bentuk tanggung jawab pada hobinya saja. Sebagai pertanggungjawaban pada dirinya, bukan tekanan dari luar dirinya.

Film kedua adalah film horor, tidak seru. Hanya membikin tegang saja karena musiknya menyeramkan. Film kacangan. Mungkin bila kutonton sampai tamat, dapat pula kutemukan sisi positifnya juga. Seperti kebiasaan membaca buku dan menekuni hobi yang tidak memberi keuntungan finansial, tapi secara terus-menerus ditekuni akan sampai pada jalan bahwa dengan itu bisa menghasilkan.

Aku tidur jam duabelas. Sering sekali aku tidur larut malam akhir-akhir ini..[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori