Oleh: Kyan | 24/09/2005

Mulla Shadra dan Uang Pusaka

Sabtu, 24 September 2005

Mulla Shadra dan Uang Pusaka

 **

Hari Sabtu biasa jadwal kuliah sangat padat. Sudah masuk kuliah jam tujuh pagi, tapi begitu sampai di kampus dengan tergesa-gesa tanpa sarapan dulu, dosen malah belum ada. Katanya kuliahnya mau digabung dengan kelas lain tak jadi pula. Soalnya suasananya bakal gaduh, sehingga gak bakalan konsentrasi belajar.

Jam dua sore baru ada dosen matakuliah Pengantar Akuntansi. Tugas Pengantar Akuntansi yang harus dikumpulkan. Sekarang aku sudah sedikit tahu cara menilai sebuah perusahaan lewat neraca keuangannya. Ada tugas lagi buat minggu depan. Tugasnya makin susah saja dari hari ke hari.

Selanjutnya sekitar jam tiga, matakuliah Asuransi Syariah belajar tentang istilah-istilah keuangan. Aku mesti membeli kamus istilah keuangan. Dosennya orang Medan, orang Batak, jadi kalau ngomong biasa seperti orang marah-marah. Aku mempunyai pengalaman buruk dengan orang Batak selama aku di Batam.

Ternyata aku belum terbiasa juga berhadapan dengan orang-orang dari suku lain. Padahal aku selama setahun setengah di Batam selalu berkenalan dan berhadapan dengan suku Batak. Bahkan banyak perempuan yang kutemui adalah perempuan Batak.

Mungkin karena aku sudah setahun lagi meninggalkan Batam dan tinggal di Bandung, kembali lagi pada kebiasaan dan pandangan semula sebagai orang Sunda yang penuh lembut. Tapi jangan pula seperti cerita, “Orangnya lembut, tapi hatinya menusuk. Lebih baik bermuka sangar, tapi hatinya lembut”.

Setelah salat Ashar mengikuti matakuliah BMT. Bukunya sudah ada dan nanti aku mau membelinya. Uly Ajnihatin bilang padaku bahwa aku tak boleh langsung men-judment. Kukatakan hanya mengingatkan bahwa kita harus banyak berkonsultasi dengan pihak lain. Dengan jurusan Muamalah dan jurusan lainnya.

Jam enam kurang menjelang adzan Maghrib kuliah barulah berakhir. Aku bersama mereka jalan ramai-ramai dari gedung perkuliahan menuju pintu gerbang kampus. Aku merasakan begitu bahagia bersama mereka dalam langkah gontai. Bercengkrama dengan penuh tawa keceriaan. Keceriaan yang terenggut kalau sudah terpaku sendirian. Sebab itu mereka adalah harta pusakaku.

Bagaimanapun mereka sebagai kawan kuliah, sebagai sobat kuliah dipersatukan dalam satu pengalaman, dekat secara jasmani karena pernah duduk-duduk berdekatan. Tapi kata Mulla Shadra, kita tidak boleh terikat pada materi. Filsafat Mulla Shadra adalah bagaimana agar kita tidak terikat dengan unsur materi.

Aku belum mencapainya. Aku masih terbelenggu dengan duniawi. Selalu muncul kegamangan, takut tidak mampu bayar kosan, tidak bisa membayar hutang, takut tidak makan dan segala macam kecemasan lainnya.

Bila kurenungkan soal kecemasan, selama ini aku belum pernah kelaparan dengan sangat dan begitu lamanya. Pernah sih hanya tidak makan nasi selama tiga hari, tapi masih kuat saja. Setelah itu terpaksa aku pulang ke Garut ke rumah kakakku untuk meminta alakadarnya bekal.

Mengiba kepada sang kondektur supaya ongkos gratis. Kukatakan padanya bahwa aku kehabisan bekal dalam perjalanan dan mau pulang ke Leles Garut. Biarlah aku berdiri saja dari Cibiru sampai Leles. Mungkin kondektur merasa kasihan juga melihat mukaku yang pucat tanda tak makan selama tiga hari, iapun mempersilakannya. Sekarang aku berdoa semoga ia yang pernah baik padaku senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan dalam menjalankan segala profesinya.

Memperoleh uang hanya sebatas dari pemberian. Yang memberi uang padaku selalu saja ibu. Paling sedikit-sedikit penghasilanku dari rental, jasa pengetikan dan pengeditan makalah. Aku malu sudah sebesar ini aku masih menyusu pada ibuku. Meminta uang yang tak bosan-bosan. Meski pada hakikatnya rezeki itu dari Allah dan perantaranya sampai padaku adalah melalui keringat basah ibu, tangan-tangan baik saudara, dan traktiran sahabat dan yang lainnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori