Oleh: Kyan | 25/09/2005

Orang Miskin dan Ungkapan Perasaan

Minggu, 25 September 2005

 Orang Miskin dan Ungkapan Perasaan

**

Pagi hari ini rencana mau lari ke Manglayang tak jadi. Sudah terlalu siang, sudah jam enam. Padahal aku sudah pakai celana training. Sudah lama aku gak olahraga lari pagi. Muslim yang kuat lebih dicintai Allah dibandingkan muslim yang lemah. Islam mengajarkan pemenuhan pada setia aspek. Baik itu fisik, akal, hati dan ruh.

Selama ini aku membaca terus, tanpa memperdulikan penampilan. Misalnya mode pakaian atau kekuatan otot. Sudah leibh dari lima tahun aku gak membeli pakaian. Membeli yang mahal, nanti malah mencari incaran maling. Sepatu saja belum pernah awet terpakai sampai hancur. Lebih baik aku berpakaian apa-adanya yang tak bermerek, karena mau berhati-hati bagaimanapun, bila tinggal di tempat lalu-lalang orang akan rentan pencurian.

Bersih-bersih kamar dan membaca buku Soe Hok Gie belum tamat-tamat sebulan ini. Aku menemukan kata-kata mutiara, “Mendiamkan sebuah kesalahan adalah kekejaman. Aku bukan radikal tapi reformis,” begitu petikan dalam catatan hariannya. Ini berarti ketika diam adalah kedzaliman. Bukan karena tingkah dan ulah saja kita melakukan satu tindakan pendzaliman, tapi dengan diam kita tak menghalangi orang yang berbuat dzalim pun merupakan satu tindakan kejahatan.

Membaca terbawa kantuk, akhirnya ketiduran dan bangun lagi jam duabelas, saatnya salat Duhur.  Ada rencana ingin main ke Dewi Sartika mau mencari majalah Infobank dan Modal bekas. Siapa tahu ada. Soalnya yang baru harganya mahal sekali sampai limabelas ribu ke atas. Ilmu memang mahal. Pameran kemarin juga gak kesana. Ketika jalan dengan Ayu, mau kuajak dia ke sana, tapi kuurungkan.

Setelah salat kulanjutkan lagi membaca buku. Ingin buku yang dibeli di pameran segera menamatkan semuanya, biar bisa membeli lagi. Apalagi sekarang sudah mulai aktif belajar lagi. Kalau dipaksakan bisa saja, tinggal dikurangi waktu tidur. Tapi kalau tidur terlalu larut, malah menambah koleksi jerawatku.

Barusan aku ke warnet, mengecek bahan kuliah Matematika. Eh, materinya belum sempat dikirm bu dosen cantik, Bu Sarah. Aku malah membuka situs Mizan tentang dunia buku dan menulis. Kukopi semua tulisan pak Hernowo.

Sekolah di MLC uang pendaftarannya limapuluh ribu rupiah. Tapi apakah ada SPP perbulan-nya? Tapi seleksinya ketat. Aku harus membaca lebih lanjut tentang MLC. Masa pendafatarannya sudah lewat, jadi aku telat mendaftar. Aku harus menunggu gelombang selanjutnya.

Berselancar di warnet habis tigaribu rupiah. Hari ini aku menghabiskan uang sembilanribu limaratus rupiah, boros sekali. Bagaimana bisa menghemat kalau setiap hari pergi ke warnet. Tidakkah dalam satu hari aku tidak mengeluarkan uang. Aku mau pinjam uang ke Dudi duaratus ribu, apakah bisa dan mau membantuku buat menambah bayar kontrakan yang baru delapanratus ribu rupiah?

*

Jam sudah menunjuk angka 10.30. Kalau sudah malam begini malas banget menulis. Seharian ini aku melakukan dan disibukkan dari dinding ke pintu kosan dan toilet saja. Paling setelah Duhur sebentar ke kampus, aku dan Dian mengambil budget MKS dari MPM. Ada kejadian miris, katanya MPM kehilangan uang yang baru diketahui  besarnya Rp 750.000,- kok bisa hilang sebesar itu. Apakah ini kesalahan bank, rektorat, atau panitia pokja yang ditunjuk MPM.

Tapi aku merasa janggal atas omongan salah satu panitia, “Uang yang ini gak usah dihitung lagi, soanya sudah pas”. Tapi nyatanya kata si penerima dihitung setelah sampai di kosan, kok kurang. Ada kemungkinan bisa saja kesalahan ada di si penerima, kenapa gak dihitung lagi. Dan jika menagih lagi ke panitia Pokja sudah jeda waktu sudah sampai di kosan. Bukan Suudzan tapi ada berbagai kemungkinan dan dugaan.

Memang uang sebesar 150 juta dikelola secara tradisional, terus gak dihitung semuanya. Tapi terlalu percaya dengan mesin hitung uang juga, yang notabene buatan manusia tidak bagus juga. Tapi setidaknya penggunaan mesin bisa meminimalisir kesalahan.

Apakah tidak lebih baik budget buat masing-masing jurusan ditransfer ke rekening yang harus dimiliki organisasi jurusan. Ini uang sebesar jutaan bagi setiap jurusan disimpan dikolong meja yang rentan salah penggunaan dan pencurian. Tidakkah lebih baik dimulai sikap profesionalisme.

Bagusnya aku membuat esai di majalah Suaka untuk menyarakan pendapatku. Begitu banyak fenomena di kampus yang harus diangkat ke media. Fungsi media kan untuk mengungkap fakta yang ada, bukan yang seharusnya. Aku lupa lagi dengan ungkapan Sok Hok Gie dalam catatan hariannya.

Sibuknya menyusun proposal, aku mencuci pakaian sampai lupa dijemur. Proposal OPM masih belum kelar. Susah banget membuat landasan pemikirannya. Susah banget merangkai kata-kata indah yang penuh makna. Memerlukan perenungan mendalam.

Ada surat dari ibu bahwa uang yang limaratus ribu itu ternyata uang Kang Dede, sepupuku untuk ayahku yang katanya ayahku sekarang sedang di kampung. Bagaimana lagi sudah aku bayarkan buat kontrakan semuanya. Masa dibatalkan, lantas aku bernaung dimana. Lagian janji ibuku mau mengirim uang limaratus ribu sewaktu aku menelepon. Jadi harus bagaimana sekarang?

*

Mengingat ayah, ayah oh ayah. Ayahku adalah buku. Aku merasa tidak punya ayah. Meskpun harus kuakui ia masih hidup. Hidupku seperti sebatang kara. Padahal orang tuaku masih lengkap. Mereka seolah tidak memperdulikanku. Mereka hanya menjadi orang tua biologis saja.

Sedangkan yang memberi nasihat padaku adalah buku-buku yang kubaca. Ayahku yang sejati adalah buku. Meskipun ia benda mati, tapi bisa memberi inspirasi tentang kehidupan. Daripada membicarakan tenang kekecewaan, lebih baik aku tidur saja.

Sudah jam duabelas lebih. Meskipun belum ngantuk, tapi bergadang terus nanti jerawatan. Aku selalu takut dengan jerawat. Memang manusia itu lemah, dikasih benjolan jerawat saja sudah berkeluh kesah.

Hari Senin buletin harus sudah kelar dan bisa tayang. Tapi mengerjakan tugas sebagai yang utama masih belum. Aku sudah membuat agenda harian, tapi jarang kupenuhi semuanya. Terlalu ideal mungkin.

Kusempatkan menelepon Anggita, bapaknya yang mengangkat. Katanya dia sudah tidur. Tadinya mau mengucapkan selamat ulang tahun. Mungkin dia sangat menantikan sahabat-sahabatnya mengucapkan selamat. Siapapun orang ingin sekali membutuhkan sebentuk perhatian, meski dengan ucapan, meski samar, hambar, dan basi.

Pada sahabat dan teman, bukan aku tidak perhatian, tapi aku selalu mempertimbangkan ekonomi. Jadinya orang miskin dilarang bersahabat dengan orang kaya. Orang miskin dilarang berpacaran. Orang miskin dilarang sekolah. Selalu orang miskin selalu dan selalu terpinggirkan.

Karena semuanya memerlukan materi, supaya berjalan semuanya. Namun bukan berarti tidak bisa jalan, tapi salah satu faktor lancar tidaknya sesuatu itu berjalan—komunikasi, perhatian, ungkapan kasih sayang, ketulusan dan ungkapan psikologis lainnya—harus dengan media materi, yang terindrawi.

Aku dilahirkan dalam keluarga miskin, keluarga berantakan. Kalau pikiranku bergelayut banyak memikirkan tentang keluargaku kadang ingin marah, ingin menangis dan harus ngomong dengan siapa.

Lebih baik aku mencari pelampiasan dalam bentuk positif. Nanti kalau mencari belahan jiwa akan aku ceritakan semuanya bahwa aku beginilah adanya. Aku tidak punya siapa-siapa yang bisa aku andalkan. Aku hanya bisa mengandalkan diriku saja untuk membahagiakan belahan jiwaku. Aku ingin menjadi pribadi yang utuh untuknya.

Namun entah kapan itu tiba. Biarlah yang waktu yang menjawabnya. Aku belum menemukannya. Mungkin aku harus terus berlari dan mendaki untuk menemukan sebuah harapan yang aku inginkan. Aku akan menjadi sahabat sejati bagi setiap orang. Atas nama kemanusiaan.

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk dirinya. Namun lupa akan diri orang lain. Aku kadang tidak bisa menolak dalam menerima orang lain. Namun kadang sangat mengesalkan. Tampang murungku selalu muncul di hadapan mereka. Aku harus menampakkan wajah ceria bagi siapapun saja.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori