Oleh: Kyan | 27/09/2005

Mengukur Masa Depan

Selasa, 27 September 2005

 Mengukur Masa Depan

**

Kenapa tak bisa ngomong? Mengiktui Rapat PKBMP dan DPPM. Aku selaku moderator. Karena tugas sekretaris adalah memang begitu. Berbicara di hadapan forum, kadang bingung merangkai kata-kata yang bagus, aku ini kaku sekali. Tapi kalau ngomong di depan ruang lingkup MKS-C. Mungkin aku berani karena terbiasa.

Kata dosen BMT, bahwa kita harus berani. Kita sebenaryya tahu apa yang ditanyakan cuma sampai kerongkongan saja dan susah untuk mengungkapkannya. Makanya disini diperlukan keterampilan mencurahkan gagasan ke dalam rangkaian kata dan kalimat yang mengugah, jelas dan akurat. Spontanitas dan kejelasan maksudnya itu kriteria yang bagus. Kenapa susah banget kalau merangkai kata.

Tidak bisa ngomong, menuangkan ke dalam tulisan susah juga. Lantas kemampuanku apa? Gak bisa ini dan itu, naik motor saja gak becus. Aku ingin latihan menyetir mobil dan motor. Kalau gak dimulai dari sekarang mau kapan. Alasannya fasilitasnya gak ada.

Aku punya teman yang punya motor. Aku harus minta bantuan padanya. Apakah karena aku gak punya kemauan kuat, ataukah karena gak bisa menyempatkan waktu. Itulah aku  yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata aku tak punya kelebihan apa-apa.

Kemampuan membaca dan menulis dengan baik pun tak punya. Aku tak boleh menyalahkan siapa-siapa dengan kemampuan semua ini. Pantasnya aku menyalahkan diri sendiri. Tapi benarkah aku tidak punya kemampuan apa-apa? Aku lemah, hanya kepasrahan dan ketundukan pada sang Maha Hadir.

Ya Allah, kadang aku terlalu mengedepankan ego. Aku jarang sekali berdoa kepada-Mu. Kewajiban salat kadang terlalaikan. Memang pantas aku mendapat murka-Mu. Namun bukankah kasih-Mu melebihi luas langit dan bumi. Kasih-Mu yang tak terhingga. Berilah hamba ketenangan di hati ini. Aku merasa seorang diri dalam kehidupan ini. Berilah pancaran sinar-Mu pada hati ini. Tentunya engkau bakal mengabulkan doaku ini!

Hari ini kuliah cuma satu, Asuransi Syariah. Mengikuti kuliah jam empat sore materinya tentang financial planning. Bukunya aku punya dan telah kubaca. Sekarang mesti kubaca lagi. Mulai sekarang aku harus berasuransi, tapi membayar preminya darimana. Buat makan saja masih belepotan.

Nanti kalau aku punya anak, sejak kelahirannya aku harus mengasuransikannya. Karena anak adalah amanah, investasi untuk masa tua kita, jadi mesti diperhatikan kesejahteraannya dan masa depannya. Tidak boleh meninggalkan keluarga dalam keadaan lemah. Lemah ekonomi, lemah pendiidkah, lemah kasih sayang, dan lemah-lemah dalam bentuk lainnya.

Aku harus merencanakan untuk hari esok, untuk masa depan. Setelah aku bekerja dan mendapatkan gaji pertama, aku mesti memprioritaskan untuk asuransi. Ilmu? Buku-buku yang telah kubeli harus kubaca lagi. Kalau orang lain, membaca buku itu sampai berulang kali, sampai tiga kali, belasan kali.

Tapi kalau sudah mengerti sekali maksudnya kenapa mesti diulangi lagi. Biar lebih faham saja katanya. Kalau sudah faham setelah dibaca sekali, kenapa mesti diulangi lagi. Namun penting pengulangan itu. Hanya selalu tidak sempat saja.

Menulis catatan harian saja kadang malas. Namun aku harus konsekuen terhadap janjiku bahwa aku harus menulis satu halaman per harinya. Kalau hari ini tidak sempat, besoknya. Mungkin buku harianku bakal menjadi inspirasi di masa mendatang.

Karena menulis buku harian katanya sangat banyak manfaatnya. Dari sisi agama saja adalah landasannya adalah evaluasi, muhasabah diri. Apakah aku telah mencapai kemajuan atau kemunduran. Penting sekali untuk muhasabah untuk bisa mengukur diri.

Malam ini mengerjakan tugas matakuliah Matematika tidak tuntas. Namun jawabannya ketemu semua. Semalam dari jam sepuluh sampai jam duabelas aku cuma bisa mengerjakan dua soal, lama banget. Apakah karena aku bodoh atau soalnya memang susah. Aku tidak bodoh. Namun sedikit ceroboh. Biar aku teliti, aku harus sering latihan soal.

Mau gak mau aku harus memperdalam bidangku, ilmu manajemen kuangan dan syariah dan ilmu pendukung lainnya. Sering membaca informasi tentang ekonomi, bisnis bank syariah. Semuanya harus aku pelajari dengan baik. termasuk sastra, filsafat, kebudayaan dan politik. Semuanya harus aku minati. Namun spesialisku harus diutamakan. Supaya ijazah yang didapat dapat dipertanggungjawabkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori