Oleh: Kyan | 28/09/2005

Perempuan dan Kesombongan

Rabu, 28 September 2005

 Perempuan dan Kesombongan

 **

Dalam langkah gontai sepulang kuliah, tiba-tiba mataku beradu pandang dengan seorang perempuan jilbab. Tak kuasa untuk segera kupalingkan wajah. Aku terpana dengan keanggunannya. Meski katanya itu sebuah dosa.

Ia sedang berjalan pelan sambil membaca buku. Sepertinya selain cantik, dia pecinta buku. Ingin sekali aku menatapnya terus, tapi itu tak mungkin. Lebih mungkin ia cocok sekali jadi istriku. Sedini ini kok aku sudah ngomongin soal pendamping hidup. Satu khayalan tingkat tinggi.

Pulang kuliah Matematika aku dan teman kampusku mengadakan rapat lagi. Mengenai OPM yang sebentar lagi digelar. Terjadi adu pendapat dalam menentukan format acara sampai cara berbusana panitia dan peserta. “Ini bahasan acara, bukan diskusi khilafiah”. Jangan memaksakan pendapatnya donk pada orang lain. Jangan merasa diri paling benar donk. Itu adalah tanda kekeraskepalaan dan kesombongan diri.

Namun aku berpikir sekarang, tadi aku mengatakan itu bisa saja ungkapan kesombongan. Tapi aku cuma menyampaikan saja bahwa kita tidak boleh mengklaim diri sendiri yang paling benar. Pendapat anda bisa benar namun mengandung kemungkinan salah. Meskipun pendapatnya berlandaskan Alquran dan hadis sahih, tapi penafsiran pada satu teks tiap orang kadang berbeda-beda. Tergantung tingkat keilmuan. Orang yang merasa dirinya banyak ilmunya, itu sebentuk kesombongan juga.

Kita harus tawadhu dan penebar kasih sayang. Boleh saja berdebat, namun masih dalam ruang lingkup untuk menegakkan kebenaran. Jangan sampai terjadi munculnya benih-benih kebencian diantara satu dengan yang lain. Kalau ada yang sampai terluka hatinya, itu bukan Islam. Karena Islam adalah rahmatal lil’alamin. Bukan kekerasan yang mengemuka.

Namun bila tetap membiarkan kesalahan, mendiamkan kesalahan adalah suatu kedzaliman juga. Namun tetap apa yang disampaikan benar, tapi cara menyampaikannya dan tujuan menyampaikannya bisa salah. Tujuannya bukan untuk meluruskan, tapi untuk merendahkan subjeknya. Sehingga men-down-kan semangatnya.

EQ orang seperti itu rendah sekali. Jadi orang itu harus empati, simpati dan mau mendengarkan segala keluh kesah orang lain. Dan jangan sampai memotong pembicaraan orang lain. Aku harus memberi sungging senyuman pada setiap orang. Dalam video ESQ diajarkan cara senyum yang baik. Aku belum nonton vcd-nya, tapi katanya senyumlah selebar lima senti. Aku mau pinjam ke dosen Bank Komersial, pak Karsono—kepala Cabang Bank Muamalat Bandung, beliau lupa terus..[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori