Oleh: Kyan | 29/09/2005

Janjiku Pada Istri dan Anakku

Kamis, 29 September 2005

 Janjiku Pada Istri dan Anakku

**

Dengan menikah niscaya akan menjadi pribadi yang utuh. Ruang hati yang tak terisi akan menjelma sepenuh hati. Pohon jiwa yang mati bertumbuh kembang di sanubari. Menjadi rupa seumpama sempurna bulat purnama.

Seorang pemuda yang mendamba cinta sejati. Berharap dalam pengembaraannya segera berlabuh pada hati seorang wanita. Beberapa wanita telah ia kenali dan mesrai. Tapi karena jalin perhubungan bukan di atas singgasana pernikahan, yang ia temukan bukanlah cinta, tapi nafsu. Nafsu ingin menguasai, memiliki, dan menelanjangi.

Serupa tapi tak sama antara cinta dan nafsu. Cinta adalah getaran-getaran yang bisa membangkitkan gairah hidup, bisa memberi inspirasi kekal abadi. Sedangkan nafsu hanya pemuas dahaga sementara saja.

“Aku ingin segera menjadi pribadi yang sempurna, manusia yang utuh. Sementara aku belum menemukan cinta perempuan itu. Tapi aku akan terus mencoba mencari kemanapun dan tidak akan tinggal diam disini saja. Gunung, lembah, dan lautan akan ditelusuri demi dia yang memikat hati. Kutempuh perjalanan sampai ujung dunia, sampai aku menemukannya, meraih cintanya, dan mereguk kemanisannya.”

“Ketika aku bertemu perempuan pecinta pengetahuan, langsung hatiku terenyuh. Ketika mempunyai teman yang punya semangat hidup tinggi, terbayang bagaimana kalau dia jadi mendampingku. Begitulah kriteria yang nanti aku bakal bertemu perempuan perfect menurut pikiranku. Perempuan terbaik bukan menurut pikiran orang lain.

Dan setelah aku berjumpa dengannya, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan mencintainya sepenuh hatiku. Aku akan menghidangkan surga kepadanya. Tak ada ruang kosong yang terisi oleh kebencian dan kebosanan padanya.

Bila suatu masa setelah kudapatkan dan setelah beberapa masa mungkin muncul rasa mencintai tidak lagi sepenuhnya, maka sejak sekarang aku sadar dengan pengalaman cerita orang-orang itu. Aku akan menyadari kembali bahwa dia adalah segalanya bagiku, bukan selingkuhanku yang mendekat karena kepentingan dan nafsu sesaat.

Aku menyadari bahwa dia adalah ibu dari anak-anakku, yang mengurusi anak-anakku, yang menyetrika pakaianku dan anak-anakku, yang menyiapkan makanan buat anak-anak dan untukku, yang membersihkan rumahku, dan melakukan apa saja secara sukarela atau terpaksa demi aku sebagai sang suami. Rumahku surgaku yang tanpa dia niscaya tidak akan terwujud.

Aku harus membalasnya dengan sepenuh cinta. Aku juga sadar ketika suatu masa bakal terjadi pertengkaran, percekcokan, tapi aku akan berusaha mendengarkan rasa kemarahannya itu. Aku akan menatapnya dengan penuh kasih dan sayang. Aku akan berkata begini: Maaf dan menurut cinta kita bagaimana dan apa yang harus kulakukan? Aku tidak boleh membiarkan kemarahannya itu merebak sampai melukai perasaan anak-anakku. Tetap aku harus menjaga wibawaku.

Aku sadar bahwa apa yang aku paparkan bakal aku alami, cepat atau lambat. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan belahan jiwaku dan buah hatiku. Aku berjanji aku akan terus mencari ilmu yang membentukku seperti itu. Begitulah janjiku padamu, manisku. Maka tetaplah mencintiku.”[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori